BandarColi

Cerita Sex Perawan, Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex ABG, Aku dan Mamaku, Cerita Sex 2018, Cerita Bokep

Showing posts with label Aku dan Mamaku. Show all posts
Showing posts with label Aku dan Mamaku. Show all posts

Monday, April 22, 2019




CeritaDewasa - malam itu aku hanya dapat tidur nyenyak 3 jam saja. Kulihat waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi lebih sedikit. Usahaku yang kuat untuk kembali tidur tak membuahkan hasil. Kulihat Iswani masih tergeletak dalam keadaan tidur nyenyak di ranjangnya. Pikiranku berkecamuk soal pekerjaan yang akan kuhadapi sehari lagi dan sama sekali belum kusiapkan. Kuputuskan untuk bangun dan duduk termenung di kursi didalam kamar penginapan. Kupandangi meja disebelahku yang penuh dengan botol-botol aqua, beberapa makanan kecil, dan kantung-kantung plastik yang tak ada isinya. Kupindahkan semua barang diatas meja keatas laci, lalu kubersihkan meja itu. Kemudia aku mengambil semua berkas dan catatan tentang pekerjaanku dari dalam tas dan meletakkannya diatas meja. Kubaca satu persatu berkas tersebut dan memilah-milahnya menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian yang telah terpilah-pilah itu kubaca lagi dengan lebih teliti dan menguraikan isinya didalam otakku sehingga terbentuklah sebuah bahan informasi yang berhubung-hubungan satu sama lainnya. Beberapa data yang masih kurang demi kelengkapan data kucatat dalam jurnal kerjaku. Kemungkinan-kemungkinan tidak kuperoleh data yang kuperlukan juga kucatat. Beberapa langkah alternatif untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk muncul dan ikut kucatat. Dengan berusaha secermat mungkin berdasarkan data yang ada dan catatanku, aku mulai membuat rencana kerja. Setiap baris rencana yang kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yang akan kulakukan.

Setiap hal penting yang muncul dari bayanganku kutulis dalam jurnal. Kubaca lagi rencana kerja yang telah selesai kucatat, lalu kurangkai hubungan setiap langkah rencana kerja dan kubuat skemanya. Seusai mengulang dan merubahnya hingga kurasa cukup, kuhentikan kegiatanku tersebut. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi. Konsentrasi tinggi serta posisi duduk dan letak meja didalam penginapan yang sebenarnya tidak ideal untuk dipakai kerja membuat leherku terasa pegal. Selesai mengemasi semua berkas dan catatan, kucoba berdiri dan memutar-mutar kepala untuk melemaskan otot leher dan punggung. Kukenakan jaketku dan keluar dari kamar mencari hawa segar. Di teras kamar aku melakukan stretching selama beberapa menit. Kucoba berputar-putar di sekitar teras. Merasa bosan, kuambil rokokku yang selalu tersedia dalam saku jaket dan kusulut sebatang rokok. Setengah dari rokoknya telah habis ketika kulihat Iswani keluar dari pintu kamar dengan menggunakan kaos oblong besar dan celana pendek sebatas paha. “Sudah ngopi, Tok?”, tanyanya. Aku menggelengkan kepala saja dan meneruskan merokok. “Tumben Tok tidurmu sebentar, bangunmu pagi sekali ya, aku sempat melihatmu sibuk tapi karena masih ngantuk jadi aku pilih tidur lagi aja daripada membantumu”, komentarnya. “Mbak sudah benar, kalau Mbak bangun dan membantuku, bisa-bisa tambah kacau”, kataku sambil memikirkan pekerjaan yang akan kuhadapi besok.

“Mmm.. gitu ya, jangan harap aku mau membatumu lagi ya”, katanya dengan nada bergurau. “Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya. Beberapa tamu penginapan yang ada di kafetaria menoleh ke arah Iswani ketika kami memasuki kafetaria penginapan. Pura-pura tidak tahu gelagat para pria yang sedang menaksirnya, Iswani mengajakku duduk di meja paling pojok. Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Iswani agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. Setelah memesan sarapan, Iswani mulai membuka percakapan, tapi karena pikiranku masih di pekerjaan maka aku hanya berbicara sedikit. “Kenapa sih Tok kamu kok banyak diam? nggak seperti biasanya”, tanya Iswani. “Nggak apa-apa Mbak, cuma mikir kerjaan besok”, jawabku santai. “Buat apa dipikir sekarang, kan masih besok?”, tanyanya lagi. “Daripada nggak ada yang kupikir”, jawabku. “Kenapa nggak mikir aku saja?”, tanyanya dengan senyum genit. “Rugi!”, jawabku singkat dengan bergurau tanpa kupikir akibatnya. Sebuah cubitan langsung menancap di tangan kiriku. “Aduh Mbak, sakit!”, keluhku agak keras sehingga agak terdengar dan menarik perhatian orang-orang disekitar kami. Mungkin karena malu Iswani segera melepaskan cubitannya.
“Tadi malam tangan kiri, sekarang kanan, Mbak kok suka sekali nyubit sih!”, keluhku.
“Aku nggak rugi, kok”, jawabnya santai. “Enak saja, aku yang rugi Mbak, perusahaan tidak mengasuransikanku dari cubitan”, kataku serius.

Tak lama kemudian pesanan kami datang. “Tok, katamu kamu belum pernah punya pacar, benarkah?”, tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan sambil meniup kopi panasku agar agak dingin. “Itu karena pikiranmu belum dewasa. Caramu berbicara dengan wanita asal saja tanpa pernah kamu pikirkan akibatnya. Kamu tidak akan bisa membuat wanita senang dengan cara ngobrolmu yang seperti itu.”, nasihat Iswani padaku. “Lha terus kenapa Mbak mau nginap denganku padahal aku kan nggak ngajak”, tanyaku dengan suara berbisik. “Karena aku tahu bahwa kamu tipe pemuda gila kerja yang cuek dan jujur bukan tipe playboy perayu. Aku suka pemuda seperti itu, cuman terkadang cuekmu sangat keterlaluan. Kamu sendiri kenapa mau?”, jawabnya yang dilanjutkannya dengan pertanyaan. “Mana bisa aku menolak dibawah ancaman cubitannya Mbak”, jawabku bergurau. “Uhh.. kamu nggak pernah bisa diajak serius”, keluhnya dengan muka masam. “Aku duarius Mbak, bukan serius lagi”, kataku ngotot yang hanya dibalas dengan senyumannya. “Mbak, pria yang duduk disana ada yang ngelihatin Mbak terus, sepertinya naksir, mau kukenalkan Mbak”, kataku sambil menghabiskan roti bakarku. “Memangnya kamu sudah kenal, Tok?”, tanyanya. “Nanti setelah Mbak kukenalkan, ganti Mbak kenalkan saya”, jawabku sambil meneguk kopiku yang masih panas dengan hati-hati. “Kamu jangan macam-macam, Tok!”, ancamnya padaku yang lagi menikmati rokok.

“Tampangnya sih oke tapi pria seperti itu hanya mau menangnya sendiri seperti bekas suamiku yang pertama”, sambungnya. “Terus yang mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yang ke berapa?”, tanyaku halus. “Dia yang kedua, tapi aku juga cuma istri keduanya, istri pertamanya ada di Jakarta dan mungkin tak tahu mengenai aku. Aku ke Banjarmasin ini juga karena dia mau mengunjungi istri dan anaknya di Jakarta”, jawabnya pelan. “Kenapa Mbak mau dimadu?”, tanyaku tambah penasaran. “Daripada hidup menjanda, jadi istri muda yang sering ditinggal suami saja seperti ini saja sudah susah apalagi jadi janda kembang”, jawabnya mengeluh. “Eh Mbak, jangan besar kepala dulu, iya kalau kembang mawar atau melati, kalau kembang kamboja yang seperti di makam-makam, bagaimana? Pasti yang tertarik adalah golongan hantu-hantu, hehehe..”, gurauku merubah raut muka sedihnya menjadi kemarahan. “Iya, terus akan kusuruh hantu-hantu itu nyubitin seluruh tubuhmu tak tersisa”, balasnya dengan senyum kemenangan. “Sudah Tok, ayo kembali ke kamar!”, ajaknya. Sesampai di kamar aku duduk termenung oleh pikiran pekerjaan diatas ranjang Iswani yang lebih dekat dengan pintu kamar dibanding ranjangku. Sementara itu Iswani melepas pakaiannya hingga tinggal ber-BH dan celana sambil mengambil handuk kering dari tasnya. “Melamun apa Tok”, tanya Iswani. Berusaha menyembunyikan pikiranku kujawab seadanya,

“Ah nggak melamun kok, cuma membayangkan rasanya dicubit hantu seperti yang Mbak tadi bilang”. “Pingin tahu rasanya?”, tanyanya dengan senyum menggoda dan menuju ke arahku. Duduk tepat didepan tangan Iswani sudah mulai merapat dengan tubuhku. Mengantisipasi cubitannya yang menyakitkan, kedua tangannya kutangkap dengan cepat. “Mbak, jangan nyubit lagi Mbak, ampun Mbak..”, katau meminta belas kasihannya. “Tidak Tok, yang ini pasti kamu suka, percaya deh..”, katanya meyakinkan. Meski masih ragu tapi pegangan tanganku sudah mengendor dan tangan Iswani telah mencapai bagian depan celanaku, usapan-usapannya yang halus diatas permukaan celana terasa sampai permukaan kulit kemaluanku. Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak. Dengan mata terpejam kurasakan usapan tangannya berubah menjadi remasan yang menghanyutkan dan membuat batang kemaluanku semakin tegak mengeras hingga tampak sangat menonjol. Dengan serta merta ditariknya celana pendek dan celana dalamku sekaligus disertai hembusan nafas beratnya yang makin menggebu. Iswani membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya pada ujung batang kemaluanku.

Kubelalakkan mataku ketika merasakan bibirnya benar-benar menyentuh ujung batang kemaluanku. Ciuman basah berimbuh kuluman yang dilakukannya pada ujung batang kemaluanku membuatku mendesah, “Ah.. Mbak.. Mbak..”. Dalam hitungan menit aku mengalami shock kenikmatan. Seusai kesadaranku berangsur pulih tanganku segera beraksi dengan membuka BHnya dan mengusap-usap punggungnya. Dengan membungkukkan badan kuraih kedua pantatnya yang masih dilindungi celana dalam, lalu kuremas dengan kedua tanganku. Merasa kerepotan membungkukkan badan, tubuhku kembali kuluruskan. Kemudian tempurung lutut kananku dengan sengaja kugesekkan pada selakangannya. Gesekkan tempurung lutut pada bagian depan celana dalamnya ternyata sangat merangsangnya hingga melepas kuluman pada ujung batang kemaluanku. Sibuk mengimbangi gesekkan tempurung lutut, Iswani hanya memegang erat batang kemaluanku. Karena tak sabar lagi menahan keinginan untuk menikmati rangsangan yang lebih dari gesekkan tempurung kakiku pada daerah kemaluannya yang masih dibalut celana dalam, ia menegakkan badannya kembali. Dalam posisi berjongkok didepanku ia berusaha melepas celana dalamnya. Ketika celana dalamnya yang berusaha dilepaskannya sampai pada lutut, masih pada posisinya jongkok yang hampir tak berubah.

aku segera membuat gerakan menyelam kebawah selakangannya, membalikkan tubuhku dan mendongkak keatas untuk menempelkan bibirku pada daerah kemaluannya. Kedua tanganku turut andil dengan segera menarik kedua pinggulnya agar liang kenikmatannya dapat segera kuterobos dengan juluran lidahku. Rupanya Iswani punya pikiran yang sama denganku. Kedua kakinya mulai ditarik kebelakang, selakangannya menindih mulutku, bibir dan lidahkupun makin berpolah diseluruh bagian kemaluannya. Posisi Iswani yang berada diatas tubuhku segera dimanfaatkannya untuk kembali bermain dengan batang kemaluanku. Mengimbangi rangsangan yang kuberikan pada daerah kemaluannya, Iswani mengulum batang kemaluanku. Selama beberapa menit kami berdua saling memberi dan menerima rangsangan dengan aksi 69 seperti yang pernah kuingat dalam beberapa cerita temanku sebelumnya. Iswani menghentikan babak pemanasan dengan menarik tubuhnya, berbaring terlentang sambil menarik tanganku memberi tanda untuk segera menindihnya dan memasukkan batang kemaluanku pada liang kenikmatannya. Tapi kali ini aku ingin bereksperimen. Kubaringkan badanku disebelah kirinya dan kuhadapkan tubuhku kearahnya. Kaki kirinya kuangkat sedikit keatas dan kuletakkan diata pinggulku sehingga batang kemaluanku yang telah mengeras dapat masuk dengan posisi miring. Setelah agak nyaman, kuberi pinggulku dorongan maju-mundur yang semakin cepat.

Tangan kiriku yang bebas meremas kedua payudaranya bergantian. Berbaring nyaman, tubuh Iswani mulai bergoyang seirama dengan gerakanku. Seiring dengan goyangan tubuhnya, Iswani mendesah-desah, “Ssh.. ssh.. Tok, mmh..”. Kuperlambat gerakanku untuk memperpanjang babak ini. Kudorong sisi kiri tubuh Iswani sehingga membelakangiku dan sama-sama menghadap kesamping kanan. Kurapatkan dadaku pada punggunya hingga bergesek. Kudorong lebih dalam batang kemaluanku dalam liang kenikmatannya, lalu kugerakkan pinggulku maju mundur. Kedua tanganku memegang kedua payudaranya dari belakang badannya.  Kucumbu tengkuk kirinya dan sesekali kukulum telinga kirinya. Beberapa saat kemudian tubuh Iswani bergetar seiring dengan klimkaksnya. Getaran klimaksnya seakan menghanyutkan pertahananku hingga akhirnya puncak ledakanku tak dapat kutahan lagi. Kepuasan yang kuperoleh mengantarkanku pada dunia mimpi. Tertidur pulas selama beberapa jam akhirnya aku terbangun oleh suara ketukan pintu. Setelah kukenakan celana pendek kubuka pintu, ternyata yang ada dihadapanku adalah Iswani yang telah kembali balik kekamar setelah keluar entah kemana dan berapa lama. “Ya ampun Tok, kamu baru bangun!”, teriak Iswani. “Hmm.. emangnya kenapa Mbak?”, tanyaku “Sudah jam berapa ini? Hampir jam 3 sore tahu!”, tanyanya yang kemudian dijawabnya sendiri dengan menunjuk jam tangannya.

Tanpa komentar sedikitpun aku meninggalkannya menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti yang telah kuambil dari dalam tasku. Seusai mandi dan mengenakan pakaian aku keluar dari kamar mandi. Kulihat Iswani duduk didepan meja dan mengeluarkan bungkusan yang berisi beberapa roti basah diatas meja. “Kamu sudah makan Tok? pasti belum, kalau tidur kamu kok kuat sekali!”, omelnya. “Mbak, boleh minta rotinya!”, kataku dengan halus. “Makan aja, kalau tahu kamu baru bangun sudah kubelikan makan tadi”, katanya. Setelah melahap 3 potong roti, aku bertanya padanya, “Dari mana saja Mbak kok dapat roti enak?” “Tadi aku silaturahmi ke tempat saudara-saudara dan pulangnya dibawain ini”, jawabnya. “Oh ya Tok, karena besok kamu sudah mulai bekerja, nanti malam aku akan menginap di Banjar Baru agar tidak mengganggumu. Sekalian saja aku pamitan padamu jika dalam beberapa hari kedepan kita tak bisa ketemu lagi. Ini notanya kamar sudah aku bayar sampai malam ini, jadi besok kalau kamu keluar dari sini jangan kamu bayar lagi tapi kalau melanjutkan silakan bayar sendiri ya. Terima kasih banyak ya mau menemanin aku.”, kata Iswani dan mencium pipiku. Terkejut oleh ucapannya yang panjang dan mengagetkan aku hanya mengucapkan “Terima kasih banyak, Mbak”. Kemudian Iswani meninggalkan penginapan sementara aku hanya dapat termenung. Tiba-tiba aku merasakan sebuah rasa kesepian menyelinap masuk dalam hatiku padahal sejak lama aku terbiasa bepergian jauh seorang diri bahkan dengan jangka waktu yang lebih lama dari ini, tapi kali ini.

Jackpot Ratusan Juta



CeritaDewasa - Namaku Shinta. Aku seorang gadis remaja, usiaku 15 tahun. Semua temanku menyukai ku karena keceriaan aku dalam berteman. Duduk di bangku smp aku biasa disebut gadis yang suka bergaul, lincah dan centil. Namun berjalannya usiaku yang semakin dewasa. Banyak pembicaraan yang aku dengar dari tetanggaku. Maupun dari teman-temanku. Bahwa aku dari anak seorang pelacur murahan. Tempat pelacuran yang terkenal di daerah bekasi. Komplek pelacuran tanah merah Kedung Waringin. Yang berdiri di atas tanah tanggul. Disanalah ibu ku mencari nafkah, dengan menjual dirinya kepada laki-laki pemburu shahwat.

Aku tidak perduli, karna memang aku belum mengerti tentang apa itu pelacuran. Akupun tak perduli apa yang di lakukan ibuku dengan profesinya. Yang aku tau aku mempunyai seorang Ayah tiri dan ibu kandung.

Aku pernah bertanya dengan ibu ku. Siapa ayah kandungku. Namun ibu hanya terdiam dan menganggap ku anak yang masih kecil, yang penting kamu bisa jajan ga usah nanya-nanya soal ayahmu..Itulah yang keluar dari mulut Ibu ku kalo aku menanyakan tentang siapa Ayah kandungku.

Aku lihat ibu bersolek dengan Farfum bau yang menyengat hidungku. Sore pukul 18.00 Ibu bersiap untuk pergi bersama ayahku seperti biasa.

“Kamu jaga rumah nak..kalau mau keluar tolong pintu di kunci yang rapat” Pesan ibu ku di kala setiap mau pergi.

Yang aku tahu kepergian mereka setiap malam, untuk mencari uang. Aku tidak perduli dan memang gak harus peduli. Yang penting aku dapat sekolah dan bisa jajan yang di berikan orang tua ku.

***

Pukul 07.00 Aku bersiap untuk berangkat sekolah. Kulihat di kamar orang tuaku mereka belum terlihat, berarti mereka belum pulang dari tempat mereka mengais rejeki. Aku bergegas mandi. Waktu hampir menunjukan setengah delapan kurang berarti aku telambat, karna memang hari ini akan ada acara OSIS, jadi harus pagi sekali aku berangkat ke-sekolah.

Terbiasa hidup sering di tinggal orang tua membuatku menjadi gadis belia yang bebas tampa ada yang melarang kemana pun aku pergi bermain. Tidak perdulinya orang tua ku dengan apa yang aku lakukan membuat ku menjadi anak yang kuarang perhatian dan kasih sayang. Termasuk urusan aku sekolah pun Orang tua ku tidak memperdulikan.

Bergegas aku berangkat ke sekolah. Bagas sahabat karib kekasih ku, Rian sudah membully ku

“Widiiih.. cantik bener loe hari ini Shin!” ” Rayu bagas teman tapi mesra-ku

“Mmm mau cantik kek, mau jelek kek, masalah buat loe.” Ku perlihatkan mukaku dengan jutek.

Aku pun berlari menuju ruang kelas dengan berlari kecil. “Shiin.. di cari’in ama Rian..” Teriak bagas.

“Bo’do amat cowok kurang kurang berani ..hehehe.” Cela ku.

Rian adalah kekasih ku, juga sebagai kakak kelas ku. Dengan nya aku selalu mengungkapkan curhatanku padanya. Namun hari-hari ini dia selalu menghindar dari ku. Entah kenapa yang membuat dia selalu menghindar dariku. Bahkan sms ku jarang di balas, pon pun sering di rijek. Namun aku tidak memperdulikan, karna aku memang bebas lepas tampa ikatan apapun dari orang tuaku maupun dari pacarku Rian.

Memang seminggu sebelumnya. Rian mencoba datang kerumahku di malam minggu. Mencoba untuk mengetahui siapa dan apa keluargaku. Mungkin itu dia mulai memberanikan main kerumahku.
Sebelumnya Rian hanya berani menemuiku di jalan dan mengobrol di tempat yang gelap.

Bisa di katakan Rian sangat pemalu, justru yang bertentangan dengan sifatku yang bebas.
Namun di balik pemalunya aku suka. Suka untuk menggoda dia agar menjadi Cowok yang gentleman.
Apalagi dengan yang polos membuat aku menambah suka padanya.
Bisa di katakan kami pasangan remaja yang Fenomenal di sekolah kami. Dengan gaya tomboy tapi seksi dan Rian seorang anak cowok yang kuper dan pemalu. Sehingga menjadikan kami sepasag yang gak nyambung dalam sifat.

“Riaan nanti malam main yah kerumah.. jangan di tanggul mulu ah, ketemuannya .” Aku mengirim Sms.
“Gak ah.. aku takut lihat ibu mu say..” Balas Rian.
“Ih kamu mah masa sama ibu ku aja takut.. gimana mau pacaran di rumah kalau lihat ortu ku takut.” Jawabku dalam sms itu.
“ii ya dah nanti yah jam delapan..” Balas Rian.
” Ok sayaang aku tunggu yahh..” Balas ku kembali.
Rasa gembira di hatiku ketika Rian bersedia untuk main kerumahku..

***

Tidak seperti biasa. Aku melihat ibu ku tidak bersama ayahku. Biasanya mereka kalau mau berangkat ke tempat warung remang-remang yang mereka kelola, selalu berdua. Namun kali ini aku melihat ibu ku sendiri berdandan dan menghias diri.
“Bu Ayah kemana ko gak kelihatan,” Tanya ku pada ibu ku yang masih bertelanjang, hanya BH dan celana dalam yang ia kenakan yang menurut ku sangat seksi di kenakan ibu ku yang setengah baya itu. Dengan stockingnya yang hitam dan tembus pandang, terlihat seksi aku lihat.
Ayah duluan ada urusan sama teman-temannya. kamu gak keluar malam ini..” Kata ibuku.
“Mmm… gak bu.. ooh nanti temen Shinta mau maen kemari bu..” Kilah ku.
“Cowok yah.” Kata ibu ku.
“Iya bu namanya Rian temen sekolah ku..”
“Temen apa pacar,..” Ledek ibu sambil menggunakan lipstick di bibirnya.
“Temen..bu..” Aku sedikit berbohong.
“Ya udah yang penting kamu hati-hati jaga diri dan rumah. Ibu mau berangkat yah..” Kata ibu ku sambil memegang hp nya sepertinya mau menelpon seseorang entah ayahku atau lelaki lain, selain Ayahku.

“Haloo sayang.. aku sudah siap nih.. jemput aku yah..” Kata ibu ku dalam pembicaraan di hand phon-nya.

Rupanya Ibu mau berangkat bersama lelaki lain dan bukan Ayah tiriku.

“Ibu berangkat sama siapa.?” Tanyaku.
“Ini temen Ayahmu, sesama Preman di sana ” Kata ibu ku

Aku hanya mengangguk walaupun gak aku mengerti apa yang ibu maksud..

Terlihat seseorang lelaki yang ibu maksud. Dengan menggunakan motor gede, berjaket hitam, dan berperawakan cukup tegap, memakir motor di depan rumah ku. Rupanya teman pria ibuku.

“Permisi dee.. ibu ada.?” Sapanya
“Ada pak.. tunggu yah.. ibuu ada yang nyariin .” Teriak ku dan segera kedalam menghampiri ibu yang masih berada di kamar.

Ibu pun keluar. Rupanya ibu belum selesai berdandan.

“Silahkan masuk mas.. mmm.. aku belum selesai dandannya mas.” Kata ibu ku dengan manja.
“Ok aku tunggu yah.. cepetan dandannya.. ” Kata pria itu sambil duduk di sofa.

Setelah berapa lama ibu tidak kunjung keluar dari kamarnya, ternyata membuat lelaki itu gelisah menunggu. Sebentar berdiri sebentar duduk. Melihat tingkah laku Pria itu, aku pun jadi risih melihatnya. Akhirnya aku memutus untuk keluar, dan menunggu Rian yang mau datang menemuiku.

Selang berapa lama aku mencoba untuk kembali kedalam. Aku terkejut ternyata pria itu tidak ada di dalam, aku cari kesetiap pojokan ruangan. “Mmm.. kemana om-om tadi ,” Bathinku.
Terlihat daun pintu Ibu ku terbuka, aku penasaran, ‘Apakah om-om tadi ada di kamar Ibu ku.’

Dugaan ku benar, ternyata om-om itu sudah ada di dalam kamar Ibuku. Namun aku gak berani mengintipnya, aku hanya mendengarkan suara dari balik daun pintu mamahku.

“Mas jangan sekarang kita kan mau pergi.. nanti telambat looh.. eehh” Sekilas aku mendengar ibuku berbicara dengan om-om itu.
“Sebentar aja .. nanti dah selesai baru kita berangkat..” Kata om-om itu dengan manja.
“Ya udah tapi ingat yah, sebentar saja… buru-buru kamu keluarin… awas loo mas, takut suami ku menunggu.” Terdengar ibuku berucap manja.
“Tenang aja maam.. aku tau cuma sekalii aja selagi suami kamu disana! kapan lagi aku bisa menikmati memek Mamih..” Ucap om-om itu yang memilukan telinga ku.

Rasa penasaran terlintas di hatiku, untuk melihat apa yang di lakukan om-om itu di kamar Ibu ku.

Rasa untuk mengintip akhirnya aku lakukan. Rasa jantung ini berdebar kencang, saat-saat aku membuka daun pintu itu, secara perlahan-lahan. “Astaga… aku melihat Ibuku di cumbu dan di cium dengan rakusnya. uleh om-om itu. Sudah dalam keadaan bertelanjang tidak sehelai benang pun yang menempel dubuh nya. Sambil duduk di samping tempat tidur. Dan aku meliahat om-om itu berdiri di hadapan Ibu ku, entah apa yang di lakukan Ibu ku. Ibu ku berhadapan deket sekali dengan selangkangan om-om itu. Aku kurang jelas melihatnya, karena pantat om-om itu menghalagi muka Ibu ku. Aku penasaran apa yang di lakukan Ibu.

Tak berapa lama, om-om itu membuka celana jiens nya, aku lihat bokong nya yang kekar walaupun hitam. Dengan terhalang bokong om-om itu, aku kurang tau apa yang di lakukan ibu ku, terlihat ibu ku sedang memainkan penis om-om itu.
Aahh.. makin penasaran aku dengan mereka, apa yang mereka perbuat dengan begitu, maklum aku belum pernah mengetahui apa yang mereka perbuat.

Sedikit aku pejamkan mata, rasa takut dan penasaran, menyelimutiku. Ku lihat kembali ternyata mereka sudah keadaan bugil. Ku lihat ibu sedang asik memainkan selangkangan om-om itu. Si om hanya meringis terdengar desahannya. “Ahhh…eehmm.. enak sayaang aahh aku suka aahh uuuhhh..” desah om-om itu.
“Ayoo.. mas buruan kuarin… uuhuhuhu..” Terdengar desahan ibu ku yang merintih nikmat.

Aku perhatikan dengan penuh penasaran, aku kaget ketika si om-om itu membalikan tubuhnya dengan kaki kanannya yang di angkat ke sisi tempat tidur, dan menyamping. Kini aku melihat jelas apa yang di lakukan ibu ku. Ternyata sedari tadi Ibu ku sedang memainkan penis om-om itu dengan mulutnya. Aku merasa jiik melihatnya, namun rasa penasaranku semakin mem beranikan diriku untuk mengintipnya. Terlihat ibu sangat menikmati Penis om-om itu, terliahat besar dan memanjang.

Dengan lidah nya ibu ku menjilati setiap sisi batang penis om-om itu. Om-om itu hanya mendangak keatas, dan terkadang tersenyum puas memandang wajah ibu ku yang sedang bernafsu menikmati batang penis om-om itu. Di masukan dalam-dalam, di jilati kepala penis itu. “Mmm…. enak mas..mm.. besar banget si mas..mmm.. pakai obat yaah..” Desah ibu ku terdengar sayup-sayup.”.

Si om-om itu hanya tersenyum mendengar gumamam ibu ku. “Suka yah sayaang.. suka kan yang gede-gede..hehehe.” Ledek om-om itu dengan senyum puas.

Om-om itu bergerak kembali kehadapan ibu ku. dan memaksa ibu ku bertelentang. Dengan posisi berdiri om-om itu mencelentangkan ibu ku. Ibu ku menuruti apa yang di minta om-om itu. Dengan posisi kaki di angkat ke atas, Ibu ku mengangkangkan ke dua pahanya yang terlihat besar dan putih. Terangkat setinggi-tingginya membuat Vagina ibu ku begitu nyata terlihat tebal, tembem dan di tumbuhi bulu-bulu yang lebat di sekeliling vaginanya. Om-om itu pun segera berjongkok di sisi di mana ibu ku sedang mengangkangkan ke dua paha nya.

“Mmm… sayang besar banget memek kamu.. uh.. mmm.. aku jilatin yah.” Kata om-om itu.

Sssst… Om-om itu mulai memainkan lidahnya. Dengan rasa rakus Vagina ibu ku di santapnya, di gigit lelentit yang sedari tadi sudah membesar dan memerah.

“Mm.. iyaah… ahh.. geliii…” Rintih ibu ku sambil bergelenjang nikmat dan gerakan yang tidak teratur dan nafas tersengal-sengal, membuat ibuku mengayun-ngayun kan kakinya ke atas.bak seperti mengayuh sepeda. “Ahhh,,, mas uhh…oyo mas …uuhh ..ssst..ehmmm…isep terus mas uuhhh…” Ibu ku makin bergelinjang nikmat. Merasa nikmat yang sangat luar biasa yang di lakukan om-om itu di vagina ibu ku, membuat ibu bergelinjang dan menaikan bokongnya berulang-ulang, sehingga membuat om-om itu sulit untuk menjilati. Si om-om itu tidak kehabisan akal, di dekapnya kedua kaki ibu ku dengan kedua tangan nya, sehingga membuat ibu ku tidak lagi bergelinjang.

“Maaass….eeenakk…ahh… geli maass… ssst..” Ibu mendesah dengan muka menoleh kearah om-om itu. Tangan nya memegang kepala om-om itu yang berrambut cepak.

Om-om itu asik menjilati vagina ibu ku yang terlihat tembem, dan penuh dengan bulu-bulu yang menghiasi di sisi-sisi vaginannya dengan sangat indahnya dan teratur rapi. Karna ibu ku memang suka merawat tubuhnya, apalagi veginanya yang selalu di jaga kebersihannya. Dengan rakusnya om-om itu menjilati vagina ibu ku, dan membuat ibu ku bergelinjang nikmat dengan desahan dan nafas yang tersengal-sengal yang membuat suasana menjadi mencekam. “Aaahh…eeennaak ..mas uh.. ayo mas isep terus uh.. aah..” Desah ibu ku. “Mmm…ssssst….” Om-om itu pun berdesah sambil menghirup air yang keluar dari vagina ibu ku.

“Ahh…slursuslp…ssst ..mmm,,oh..” Dengan bangganya om-om itu bisa membuat ibuku puas dengan mainan lidahnyanya di kelentit ibu ku yang terlihat membesar dan memerah.Terasa seperti mementil, lidah om-om itu mengulum-ngulum kelentit ibu ku.

Tak puas dengan perminan lidahnya di liang vagina ibu ku, om-om itu mulai mengocok-ngocok penisnya dengan tangannyasendiri. Rupanya si Om sedang membangkitkan penisnya kembali.

“Cepat.. memebesar doong..Cepet keluarin.. aku takut mas.. suami ku menunggu ..ahh” Teriak ibu ku. Rupanya ibu ku tersadar bahwa ia sedang di tunggu ayah tiriku di warung, di mana para wanita anak buah ibu ku menjajahkan kenikmatan sesaat.

Mendengar ibu sedang di tunggu ayah, aku jadi takut kalau ayah tiri datang menjemput ibu ku. Dan ternyata ada laki-laki yang menggauli ibuku. “Ah biar lah toh sudah terbiasa mungkin.” Bathin ku.

Setelah kupandang lagi. Ternyata ibu ku sudah bergumul dengan om-om itu.

Terlihat dengan posisi ke dua kaki ibu ku berada di pundak om-om itu. dan si om posisi berdiri dan berpegangan dengan kedua tangannya ke kasur. Pantatnya yang terlihat besar membuat aku ikut merangsang memperhatikan bokong om-om itu.

‘cpluk, cpluk, cpluk,’ Terdengar suara dari sentuhan kulit ibu ku dan om-om itu.
“Ahh…enaaak…mam…ah.. uh uh uh..” Om itu dengan cepatnya menghujamkan penis nya ke vagina ibu ku.
“Eeeeh…aaahh…pelan-pelan mas.. ah.. uuh..aaah..” Sangat berdesir aku mendengarnya.

Desahan mereka membuat aku gak bisa diam melihatnya. Tampa ku sadari aku pun terbawa nikmat seiring gerakan dan desahan mereka. “Eeegghht… aku merabah sedikit celana dalam ku yang ku kenakan. tak sadar aku pun merabah vaginaku..”Ohh…mmm.” Ternyata vaginaku ikut basah. “Ahhh…eeeemm…” Ku rasakan denyut di dinding vaginaku dan tersa gatel “eeehss..” Aku terus berdesah, meracau sendiri.

Tiba-tiba sms berbunyi.. triliiing..Ku baca sms itu ternyata dari cowokku. Aku pun teringat kalau Rian yang berniat mau main kerumahku.

“Aku di depan rumah nih.” Tulis sms nya
“Oh yah masuk aja kerumah. ” Balas ku.

Suara motor terdengar, ia pun memakirkan motornya di sebelah motor om-om itu.

“Ini motor siapa say.” Tanya Rian
“Motor tamu Ibu ku.” Jawabku.
“Ohh.. ada tamu yah. gak mengganggu say..” Rian kembali berujar. Rupanya masih ada ragu di hati Rian untuk berkenalan dengan Ibuku ku.
“Gak apa-apa ko ayo masuuk..”Ajak ku, dan segera menarik tangan Rian ke ruang teras depan rumah.

Rian pun duduk di bangku yang khusus untuk tamu yang mau bersantai di ruang teras rumah
Aku pun duduk sebelumnya aku mengambilkan minuman untuknya. “Di minum sayang….” Tawar ku.

Aku pun segera mengambilkan minuman untuk Rian. Ketika langkah ku mau menuju dapur untuk mengambilkan minuman untuk Rian. Terbesit di hatiku ingin mengintip sekali lagi apa yang di lakukan ibu ku terhadap om-om itu. “Ahhh.. ..” Kucoba untuk membuang rasa penasaranku. Aku pun menuju ruang dapur. Namun desahan ibu ku membuat aku semakin penasaran untuk melihatnya lagi.

“Ah .. ah .. ah… eeehhgt… ssst..” Terdengar desahan ibu ku yang semakin menggila ku mendengarnya.

Untuk menghilangkan rasa penasaranku ku coba untuk mengintip kembali. “Enak..mas..aaahh..enaaakkk” Teriak om-om itu dengan nafsunya menghujamkan vagina ibu ku dengan posisi Doggy Style. “Uhh.. aahh..” Kulihat ibu posisi menungging dan dengan leluasa-nya om-om itu mengocok-ngocok penis nya maju mundur dengan cepat ‘plok plok plok.. “aahhhh..uuh..gilaa..aaght..ehm.. masih enak memekmu mam..eeh..”om-om meracau. “Setan lo mas..eehh.. dah tua-tua juga masih doyan meemeekk bini .. oorang uuhh..ahhh..” Hardik nikmat terdengar dari rintihan nikmat ibu ku.

Om-om itu mencoba memegang rambut ibu ku yang panjang terurai. Di jambak dan di kepal rambut ibuku yang terlihat masih tebal. Dengan mengepal rambut ibuku seperti menarik delman om-om itu dengan asiknya mengocok-ngocok vagina ibu ku dengan gerakan maju mundur dengan cepat

“Aw aw aw.. kamu nakal mas uuh mau di apakan rambut ku.” Kata ibu dengan mata sayu nikmat. Ibu ku hanya pasrah dan menikmati vaginanya “Uuuh..ee..eenaakk aaahh….”. Merasakan begitu terasa nikmatnya, dan lebih nikmat dari penis ayah tiriku. Mungkin itu yang terukir di hati ibu ku saat sedang merasakan vaginannya di kocok-kocok sama om-om itu

“Ayo… maas.. sayang uuhh enaakk..aahh ” Ibu ku kembali mendesah “Ini aaa..eeehh gurih memek kamu sayaaang, aahhh..eenakk.. say…enak memek kamu oohh…” Racau om-om itu. ‘plok plok plok’ Suaranya begitu jelas aku dengar, sentuhan dari kulit mereka. sleb bleb sleb bleb “Ahh,,, uuhhh.” “Maass…sssstt gila kamu mas kontolmu giilaaa..uhh..” Lagi-lagi ibu ku meracau nikmat “Ahhh..” Dengan gerakan volume yang cepat, terlihat jelas di mataku, penis om-om itu keluar masuk ke vagina ibu ku.

“Ah.. pelan-pelan maaas..” Uh ibu sangat menikmatinya. “iya sayaaang aku kayanya ma ma mau keluar nih..eeegh..” Terdengar suara om-om itu dengan terbata-bata. Om-om itu semakin bersemangat mengocok vagina ibu ku dengan penisnya yang terlihat batang dan urat-uratnya sudah mengencang “Aku siaap maas..menerima peju mu ..aah..” desah ibu ku..”

Om-om itu mengejang otot-ototnya, sepertinya akan keluar sesuatu dari penisnya, yang telah mengacak-ngacak vagina ibu ku. “Aght… aku keluar sayang uuuh..” Tiba-tiba om-om itu naik keatas punggung ibuku, yang masih posisi meningging. “Eehh mau kemana kamu maas..” Kata ibu ku, sambil membalikan kepalanya keatas. Yang ternyata terlihat penis om-om itu sudah berada di muka ibu ku. Dengan di kocok-kocok sendri dengan tanganya si om-om.

Terlihat kepala penis om-om itu sudah memerah dan mengkilap dengan air mazinya. Dengan di acung-acungkan ke mulut ibu yang sedang mendangak keatas. “Uhhh ayo sayang kamu nga-nga.” suruh om-om itu. Mendengar perintah dari om-om itu ibu ku hanya menurut. “Ahh,,… ” Mulut ibu ku terbuka lebar dan siap menerima apa yang akan datang dari penis om-om itu.

‘Crot crot crot crot’ “aahh uhhh..” Terlihat cairan putih kental keluar dari penis om-om itu. Entah apa namanya air kental itu, aku tak tahu, karna aku belum tahu air putih kental itu. Aku mendengar ibu menceloteh. “Uwweekk… uuh.. bau tau mas…mmm.. uuh.. kesat sepet… sialan kamu maa..s…” Ucap ibu ku dengan mata kosong menatap om-om itu.

“Uhh.. gila ibu ku rakus amat sampai di minum air yang menjijikan dari penis om itu.” Bathinku ku.

Setelah puas dengan cairan yang kental putih itu keluar dari penis om-om itu. Kulihat ibu ku sangat menikmati air putih kental itu, yang belumuran di seluruh rongga mulutnya.

“sayang gimana rasanya hehehe..enak yah” Tanya om-om itu kepada ibu ku dengan senyuman bangga. “Ssst.. sepet mas uuh hehehe.bauuu…” Jawab ibu ku manja .”Tapi suka kaan..” Ledek om itu.

Ibu ku hanya mengangguk. Mereka pun berpelukan dan mencium bibir ibu ku dengan mesra. “Ya udah pakai lagi pakaian kamu! Ayo kita berangkat.” Om-om itu pun bergegas memakai celananya.

Ibu ku segera merapikan rambutnya. Dan memakai bajunya kembali seperti semula. Entah apa yang di rasakan di kepala mereka. Mereka pun segera beranjak keluar kamar.

Melihat ibu dan om-om itu mau keluar, aku pun segera menjauh dari pintu. Rupanya aku lupa aku sedang membawakan minuman untuk Rian yang sudah lama menunggu.

“Ma.. maaf yah say..hehehe lama..” Sapaku dengan tersenyum.
“Iya iya..” Rian mengangguk.

Terdengar langkah keluar. Rupanya ibu ku yang mempunyai farfum khas yang di pakai jika mau berangkat ke warung remang-remang yang ibu miliki tentu dengan puluhan PSK yang di bimbing oleh ibu ku.

“Nak ibu berangkat yah..ooh.. teryata ada tamu.” Sapa ibu ku sambil bersalaman dengan Rian.
“Kenal kan Rian ini ibu ku.” Aku memperkenalkan Rian agar tidak canggung.
‘Ya udah ibu mau berangkat mencari nafkah buat Shinta anak ibu yang manja ini.. kamu jaga rumah baik-baik yah nak.” Kata ibu ku sambil membawa tas kecilnya, dan menuju motor om-om itu.

Om-om itu hanya tersenyum melihat aku dan Rian. Dan segera menaiki motornya. Ibu ku telah siap sedari tadi menunggu untuk berangkat.

Di dalam kencan pertama Rian kerumahku, membuat aku gugup. Di tambah lagi aku baru saja melihat adegan yang tidak aku mengerti. Adegan yang sangat aku berimajinasi apa yang di lakukan ibu dengan om-om itu.

Rian hanya diam, dia emang sangat pemalu untuk bicara dulu, makanya aku kalau mau ngobrol sama dia harus aku dulu buka pembicaraan, setelah itu baru Rian membuaka pembicaraan.

‘Udah minum jangan di lihatin doaang.” Ucapku untuk memulai obrolan.
“Yang laki-laki tadi ayhamu..” Tanya Rian yang membuat terkejut.
“Mmm.. bukan itu temannya ibu ku..” Kataku mencoba meyakinkan dengan wajah semeringah.

Aku takut Rian memperpanjang pembicaraan yang tentu akan menanyakan asal-usul aku dan siapa sebenarnya orang tua ku. Akhir ya ku coba mengalihkan pembicaraan.

“Say masuk apa mau di luar aja.. masuk juga boleh kita nonton tv nyo..” Ajak ku.
“Mmm… ga baik ah,, berduan di dalam. orang tua mu kan gak ada.” Kilah Rian dengan wajah lucunya.
“Ok dah.. gak mauya udah.. di sini ajah..” Aku pun terdiam. Aku masih teringat apa yang barusan aku lihat. Pengalaman aku melihat sepasang manusia yang bergumul, saling merabah, menjilati, yang ternyata yang aku lihat itu adalah ibu ku sendiri.

Dan yang membuat aku sedih ternyata Ibu masih suka melayani lelaki hidung belang. Dan pasti menghianati cinta tulus ayah tiriku. Atau memang ayah tiriku cuek-cuek aja jika ibu di gauli lelaki lain. Entahlah.

Masih teringang-ingang di telingaku mendengar desahan dan racauan yang membuat darahku berdesir cepat, desahan orang-orang dewasa yang belum aku mengerti arti sebuah desahan kenikmatan. (Baca cerita sebelumnya), setelah aku menyaksikan erangan yang sangat memilukan telingaku. Erangan dan racauan yang keluar dari Mamahku sendiri saat Ia di senggama oleh lelaki yang bukan Ayah tiriku. Entah apa yang ada dipikiran mereka.

“Eh!..Bengong aja,” Rian mengejutkan aku.

Aku, tertawa dingin untuk menutupi apa yang ada di pikiranku.

“Say..kamu mau kedalam gak, di sini dingin tau,” kata ku.
“Em..gimana yah aku takut kalau kita kedalam, nanti ada yang curiga sama kita.” Aku mengerti apa yang Rian maksud, memang Rian lelaki yang cukup dewasa, bisa membaca situasi dan keadaan. “Em..terus kita ngapain, kalau di dalam kan kita bisa nonton tivi,” ujarku. “Seterah kamu sih, aku hanya ngajak aja, itu juga kalau kamu mau!”

“Sepertinya kamu seperti ada pikiran dah!” Rian mencoba menebak-nebak apa yang ada di pikiranku. “Kalau ku lihat, wajah kamu agak sedikit gimana gitu?!..”
“Ah perasaan kamu aja kali say,” ucapku.
“Cerita dong sayang..” katanya membujukku. “Wajahmu tampak gelisah gitu, apa habis di marahi Mamah kamu sebelum berangkat tadi sama teman cowoknya?.” Rian mulai merocos menanyai aku dengan kepo.

Aku menggeleng kepala, berusaha untuk menyembunyikan apa yang mengganggu di pikiranku ketika aku melihat Mamahku bergumul sama lelaki yang tidak aku kenal, lelaki dari dari teman Mamahku.

Aku berdiam sejenak. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Rian pun begitu, dia hanya memandang awan yang cerah dengan bintang-bintang bertebaran di angit nan jauh. Aku pun ikut menyaksikan keindahan kelap-kelip bintang itu. Mereka saling bergugus-gugus dengan teraturnya. Sungguh sangat mengesankan di kala aku bersamanya, laksana dunia ini di miliki untuk selamanya dan hanya berdua, “he..he..he..” aku tertawa di dalam hatiku.

Melihat Rian yang diam dan hanya melongong-longong melihat ke atas langit, membuat ku tertawa cekikikan di dalam hati. Wajahnya yang terlihat pilon dan culun, menambah lucu dan jenaka. Sungguh aku makin cinta sama kamu Rian..

Engkau kakak kelasku berpikiran dewasa, gak seperti cowok yang lain yang bisanya hanya mengajak pacaran di tempat yang gelap sekedar hanya ingin mengecup bibir. Tetapi kamu, pintar menepati keadaan, padahal kesempatan banyak untuk berbuat, tapi sungguh ia menjaga etika dan adab, itulah yang membuatku kagum padanya.

“Eh..jam berapa ini?” Rian membuka suara. Lalu ia melirik jam tangannya. “Sudah jam sembilan lewat, aku rasa cukup untuk kita bermain-main sayang, dan juga kamu sudah terlihat mengantuk.”
“Gak kok..santai aja lagi, abis kamunya sih banyak bengong ngitungin bintang, aku jadi ngantuk dah hehehe,” candaku. Rian pun sunggingkan senyum tampak manis di pipi terlihat lesung di pipinya. “Em..jarang sekali cowok mempunyai lesung di pipi,” batinku.

“Ya udah, toh masih ada hari esok,” ujarnya. “Aku pulang dulu ya say!” Ia pun berdiri, lalu memandangku dengan mata yang sayu, mungkin pusing kali abis ngitungin bintang hehehe. “Ok..dah sayangku..” aku pun berdiri sambil ku cium telapak tengannya, seperti layaknya suami istri dan wanita baik-baik mencium tangan sang suami kalau ingin berpamitan kerja hehehe jiaaah…

Ia pun melangkah pulang. Motor yang terpakir di halaman rumahku telah di nyalahkannya. Suara menggerung seperti anak motor atau seperti motor yang kurang di rawat, tentu sangat bising di dengarnya.

Tak beberapa lama Ia pun melaju dengan roda duanya. Di tikungan ia mulai tak terlihat dari pandanganku. Aku sungguh berbunga-bunga, melihat Rian telah memberanikan diri untuk bermain kerumahku, walaupun desas-desus orang-orang yang ada di sekitar rumahku, memvonis rumah sarang jablay dan aku di beri makan uang lendir.

Emm…aku masuk kamar, seperti biasa dengan handset yang kupasang di telingaku, lalu aku putar untuk mendengarkan lagu-lagu kesayanganku.Kamar yang sangat indah aku rasakan, walaupun aku jarang sekali tidur di kamarku sendiri. Terkadang aku tidur di rumah teman sesama cewek, hanya untuk menghilangkan suntuk hidup sendiri di kala malam karena tidak ada teman untuk mengobrol karena Mamahku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai ketua dari wanita-wanita penghibur para lelaki yang mencari kenikmatan malam, itu juga kata orang yang selalu aku dengar dengan menjelek-jelekan keluargaku.

Mata ku belum terpejam, pikiranku menerawang keatas mengingat kembali apa yang Mamah lakukan di dalam kamarnya bersama om-om itu. Ahh…mereka sungguh gila dan rupa daratan. Kenapa aku harus mengintip Mamahku sendiri, oh sungguh anak yang tak tahu diri.

Aku gelisah merasa bersalah apa yang aku lakukan. Tubuhku terasa gak nyaman malam ini, rasanya selalu teringat terus saat Mamahku bergelinjang ketika Vaginanya di colok-colok oleh penis om-om itu. “Apa rasanya, jika memekku juga di colok-colok sama punya Rian,” batinku. Aku berhayal seandainya tadi aku bermain sama Rian, terus Rian mencolok-colok memekku ooh…pasti aku akan bergelinjang apa yang di lakukan oleh Mamahku, enak kali yah.

Tampa aku sadari ketika aku berhayal dan ingat kembali apa yang aku lihat perbuatan Mamahku. Tanganku merabah celana yang aku kenakan. Celana yang hanya terbuat dari bahan tenun yang tipis sehingga apabila aku sentuh, jelas sekali batok Memekku. Uh.. yah batok memek yang masih putih dan belum di tumbuhi bulu-bulu ini. Aku mengusap-ngusap dengan perasaan. Semakin lama semakin berdesir darahku. Aku rasakan ada yang beda.

Vaginaku terasa cenat-cenut. “Ohh…yeeaah..ssst…sungguh uuh..pantesan Mamahku terlihat menikmati ketika Memeknya di jilati. Ohh…uh…sungguh enaak ssst ahh…” Aku terus mengusap dan membelai vaginaku yang masih tertutup oleh celana rajutan jarang. Karena merasa ada yang lain dalam desiran darah ku. Aku pun memcoba untuk bertelanjang dada.

Baju kaos yang kau kenakan aku lepaskan. Kini hanya BH yang masih terlihat, serta celana ngetrit yang aku pakai. Ku pandang buah dadaku yang terlihat kecil, gak seperti punya Mamahku yang terlihat besar dan menggandul hehehe. Emm…ku pandangi puting meranum sangat indah, oh.. mungkin ini untuk menetek ketika aku punya beby. Ssst..Aku gak tahan akhirnya aku buka BH yang aku kenakan oh..aku merabahnya, seperti apa yang aku lihat pada Mamahku yang di isap dengan rakus oleh om-om itu, dan di remas-remas dengan rakus. “Emang enak yah!”

Emm.. Eght.. uh…aku mulai meremas-remas payudaraku. Sttt…eght.. agak berdesir aku rasakan tiba-tiba aku merasakan payudaraku mengembang dan mengeras dengan kencang dan padat. Entah apa yang membuatnya begini aku tidak tahu. Yang aku rasakan bergelinjang seluruh urat-uratku. Sungguh sensasi sangat luar biasa yang aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Em…rupanya ini yang membuat Mamahku merasa ketagihan dan terasa nikmat di rasakannya. Oh..Mamah enak mah..sstt..enaaak..

Tampa aku sadari tangan kanan yang terus meremas-remas payudaraku, aku mencoba untuk turun ke lebih bawah lagi. Aku ganti tangan kiriku untuk merabah buah dada ku, dan tangan kanan aku turun kan untuk merasakan sensasi Memek ku.

Celana tipis yang aku pakai masih merekat, ku coba merabah gundukan di dalamnya yang bukan lain gundukan memek ku, yeaah..aku merasa geli oh… terasa berdesir masuk ke rongga liang memekku. Oh…sungguh sangat menggidikan bulu kuduk. Yeahh…aku meronta-ronta aku ikuti irama desiran di mana tubuhku klepek-klepek bergelinjang tak tentu arah.

Terkadang-kadang aku naikan bokongku sambil terus merabah memek ku, lalu aku putar-putar oh.. sunguh sangat nikmat walaupun masih terhalang celana dalamku. em…Mamah inikah yang Mamah rasakan ketika om-om itu mengelus-ngelus memek Mamah. Ssstt…benar-benar enak Mah..

Sensasi onani ku yang pertama aku rasakan walaupun aku belum berani untuk merabah lebih dalam lagi.

Tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara Hape ku. Rupanya Rian yang menelponku. “Tumben Rian jam segini belum tidur?!” pikrku. Memang gak biasanya Rian menelpon aku jam-jam saat-saat orang-orang sedang terlelap tidur. Dan sebenarnya Rian anak yang penurut sama orang tuanya, dia sangat pandai dalam mengatur waktu belajar, bermain dan tidur. “Haloo.. sayang,” jawabku, sebelumnya ia mengucap kan Halo.

“Kamu belum tidur sayang?” Rian bertanya dengan suara yang agak berat mungkin grogi kalau telponan di malam hari, takut di dengar sama keluarganya jadi suaranya di sembunyikan dengan kecil.
“Belum,” jawabku. “Kamu sendiri kenapa belum tidur, tumben ih!”
“Ia gak papa kan, aku nelpon kamu!”
“Sayang..Malah aku senang kebetulan aku memang belum bisa tidur.”
“Kamu lagi apa?”

Ah..Pertanyaan yang menggoda, kalau aku jujur pasti aku di tertawakan. Tetapi hati ku terbesit untuk bercerita pada kekasih ku Rian. Cuma aku malu sama saja membuka aib Mamahku.

“Em…coba tebak lagi apa?!” ku coba untuk mengajaknya becanda.
“Pasti lagi dengar musik kesukaan kamu sambil tidur-tiduran. Benarkan!”
“Em…mau tahu aja kepo nih hehehe,” dia memang membuat aku tertawa, masalahnya aku yang lebih dulu untuk membuka canda dan tawa. Rian jarang sekali untuk membuka suara lebih dulu kalau aku yang lebih dulu membuaka pembicaraan, baru Ia menjawabnya.

Entah apa yang membuatku melemparkan pertanyaan padanya. “Say tebak aku pakai baju, apa telanjang?”

“Maksud kamu apa sih,” terdengar dengan nada bingung.
“Ia.. Aku sedang pakai baju apa bugil?” lanjutku memberikan pertanyaan menggoda.
“Gila kamu bertanya seperti itu!” Rian sedikit membentak aku.
“Ih… ini kan cuma pertanyaan kok! Kalau gak mau di jawab ya udah gak papa kok!” balasku. Entah apa aku tak memperdulikan tercengangannya saat aku memberikan pertanyaan seperti itu. Aku rasakan ada yang beda pada diriku. Disaat aku dalam keadaan bugil walaupun masih memakai celana sedikit ada rasa ingin memberitahu kepada Rian bahwa apa yang aku lakukan sangat luar biasa nikmatnya. Mungkin Rian belum pernah melakukan apa yang aku lakukan. “Ah.. telanjur Horny aku”

“Sayang…oh..aku lagi bugil nih,” kata ku. “Sstt..sayang tetek ku oh..tetek ku sst..”
“Et dah!.. Say kamu jangan macam-macam dah!” terdengar Dia bertambah bingung. “Kamu membuat aku binggung tau..” katanya lagi.
“Kamu mau nenen gak?” godaku. “he..he..he Kamu lagi apa say?”
“Tau ah,” terdengar agak sinis Rian menjawab. Namun aku tidak perdulikan. Aku sambung lagi remasan payudara ku yang sempat tertunda tampa mematikan Hape. Aku sengaja untuk berdesah di telinga Rian. Lalu aku melepaskan celana ku. Uh..kini memek ku terlihat, putih gempal tampa bulu. Aku mengangkang kan kedua kaki ku dan paha terbuka lebar dan aku angkat kedua kaki ku tinggi-tinggi. Uh…seperti apa aku melihatnya gak tahu lah, “Sayang…oh…sayang…”

“Gila kamu Shinta! Dia menyentakku.
“Uh…ah..eeght..enak say..enak..sst..”

Aku terus mengusap-gusap dinding selangkanganku, sambil membayangkan apa yang aku lihat terhadap Mamahku dengan om-om yang tidak aku kenal namanya. Ssstt…berdenyut oh berdenyut liang vaginaku uh…ternyata memainkan selangkangan memang enak. Aku membatin tak memperdulikan Rian, apakah dia masih mendengar desahanku, apa sudah di putus teleponnya. “Rian…sayang..kemana kamu?” tanya ku.

Aku coba untuk posisi telungkup. Dengan tangan kanan memegang Hape. Sedangkan tangan kiriku menyelusup kebawah perut tentu untuk mengobel-ngobel selangkanganku ssst…gila.. enak oh.. enak..Memek kurasakan sedikit basah, entah kenapa terasa lembab aku rasakan, eegh..bahkan aku mau pipis tapi beda rasanya, tidak seperti pipis sehari-hari. Pipis ini terasa ada yang mengganjal dan seperti tertahan di dalam menunggu aba-aba untu di semprotkan begitu rupa.

Sela paha aku renggangkan, sedikit di angkat bokongku, menambah mudah aku untuk memainkan vaginaku sambil aku putar-putar dan aku kait seperti ingin mencongkelnya. Mamah uh pantesan Mamah bergelincang dan membuncah disaat om-om itu memainkan vagina Mamah. Ssst ternyata enak mah..oh..enak…ssst..

“Haloo….hei…Shinta..halo….!?” Rian rupanya ingin menyadarkan aku. Aku tak perduli, uh…bahkan aku menantang Dia untuk mengikuti apa yang aku lakukan. “Sayang..Aku lagi ngobel memek sayang..oh..memek Shinta jadi enak nih!..”
“Gila.. kamu sungguh gila Shinta..”

Tiba-tiba aku mendengarka suara Rian berdesis. Entah apa yang di lakukan Rian terdengar suaranya agak berdesis.

“Sayang.. Kamu lagi apa? tanya ku.
“Eght…..ah…aku jadi berdiri nih.” katanya.
“Berdiri apanya?” tanyaku lagi.
“Punya ku sayang..oh punya ku jadi berdiri nih! Ohhh..duh..gara-gara dengar ocehan kamu punya ku jadi tegang nih!”

“Ssst…oh gitu yah.. ucapku pura-pura gak mengerti. Aku terus memainkan selangkanganku dengan irama cepat.

Aku rasakan sebentar lagi aku akan pipis. Ya sst mau pipis ssstt..eght…oh sungguh sensasi yang sangat luar biasa aku rasakan pertama kali aku melakukan seperti ini, apalagi sekaligus aku dengarkan desahanku kepada kekasihku Rian.

“Sayang.. oh.. aku gaceng sayang.. oh..aku jadi ngocok nih!” terdengar suara polos Rian. Rupanya Dia sedang memainkan penisnya.
“Sayang..uh..uh..uh sayang..ssst aku mau pipis sayang,” kataku
“Ia…say..aku juga oh..kontolku oh panjang banget sayang..ssst..merah nih sst…” ujar Rian kepadaku, bertambah nikmat aku rasakan ketika Ia juga melakukan apa yang aku lakukan.
“Diapakan punya kamu sayang?”
“Eght…aku kocok-kocok say..ssst enak…” kata Rian, “Kalau kamu di apain sayang, sst..memek kamu di apain tuh?…”
“Aku di kobel nih sst enak say..oh..enak…berdenyut say..memek ku berdenyut nih uh uh uh”
“Ia sayang..aku juga enak nih sst..eah…enak eah..sst uhh…sst enak…” desah Rian membuat aku membuncah.

Benar tak lama kemudian vaginaku terasa ada yang ingin keluar. Uh seperti mau keluar dengan tertahan untuk di muncratkan. Eahh….ssst….eah…aku cepatkan kobelanku. Lendir yang melumuri telapak tanganku, licin rasanya memek ku dengan sangat becek dan basah aku rasakan uh uh uh.

“Oh……say…oh…aku . aku . aku sst…eeght…aku mau pipis sayang. Aku mau pipis nih.” desisku.
“Sama say…ah.. ah..ah..ah aku juga uh uh uh uh keluarin say, kuarin, ssst”

Tak lama kemudian.

‘Ciiit..ciiit…ciiit’
Oh…….
“Aku pipis sayang, aku pipis oh..” ujarku dengan suara parau.
“Rian..oh…” panggilku.
“Uh..uh..uh..Aku juga nih uh..uh..uh.. oh..aku ngecret say sst..ah..” ujar Rian. “Tanganku ku jadi lepek nih, ssst.. gila..banjir sayang!”

Rian berdesis. Aku pun terkulai dengan posisi telungkup dan aku turunkan kembali bokong ku. Uh..aku rasakan kasurku banjir, seperti aku mengompol waktu kecil dulu. Pipis yang sangat enak. Pipis yang sangat sensual sungguh aku baru pertama kali menikmati kelakuan seperti ini.

Kini aku mengerti apa yang aku lakukan itu adalah Masturbasi atau onani. Mungkin kaum pria semua melakukannya termasuk Rian kekasihku. Semenjak itu aku jadi pecandu Masturbasi.

Kalau pikiranku sedang membuncah aku melakukannya bersama Rian via Phone. Walaupun Rian sendiri kadang-kadang menasehatiku jangan terlalu keseringan melakukan berbuatan seperti ini. Katanya.

Tetapi aku punya prinsip dalam hidupku, aku tak akan melakukan hubungan badan sebelum menikah, walaupun bersama Rian sendiri kekasihku. Dan juga aku dan Rian masih menjenjang pendidikan di bangku sekolah. Masih banyak tugas yang harus di kerjakan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Dan aku berjanji di dalam hatiku yan paling dalam. Tidak akan mengikuti jejak Mamah ku sebagai seorang Germo. Biarlah sebatas Mamahku mendapat gunjingan dari orang-orang terdekat. Aku tahu Mamahku juga tak mau aku seperti dirinya. Dia ingin aku menjadi wanita yan baik-baik dan bekerja di tempat yang baik-baik pula, agar aku dapat menutupi Aib Mamahku sebagai seorang germo.

Aku akui, sampai kapanpun aku akan meneruskan pendidikanku sampai kuliah, itu permintaan Mamahku, walaupun uang yang di hasilkan untuk menyekolahkan ku dari hasil menjadi seorang Germo, bahkan terkadang hasil menjual dirinya sendiri.

Main Bandar66 Di Sini
Mudah Menang, Cuman Modal Kecil

Saturday, April 20, 2019




CeritaDewasa - Ceritanya begini waktu itu kami tinggal di daerah pertokoan di Surabaya, pembantuku namanya Jum kita sering memanggilnya dengan mba Jum. Umurnya mungkin diatasku sekitar 3 tahun. Tapi yang aku ingat mba Jum ini memiliki paras yang ayu kulitnya itam manis dan yang terutama toketnya yang gila besar banget padahal badannya tidak terlalu besar.

 *Mba Jum bertugas untuk menjaga rumah dan bengkel aku tinggal di ruko 4 lantai, jadi satu lantai dipakai untuk berdagang bengkel mobil dan lantai 2 ruang keluarga dan tempat tidur orang tuaku, sedangkan aku di lantai 3 ruangan tidurku , dilantai yang sama ini aku memiliki kamar yang besar seukuran 6 x 15 *dengan kamar mandi didalam kamarku hampir seluruh lantai tersekat oleh kamarku karena aku anak tunggal di dalam kamarku terdapat banyak perlengkapan olahraga seperti dumble dan tiang basket mini.
Kamar tidur pembantuku ada di lantai 4 dan juga ada bagian depan yang digunakan untuk menjemur pakaian, dan kamar mandi untuk pembatu terletak di lantai 4 didepan samping sekat kamarku dan samping sampingan dengan kamar mandi ku tetapi untuk dapat menggunakan kamar mandiku harus masuk terlebih dahulu ke kamarku, itulah sekilas ruangan kamarku.
Untuk menjaga bengkel yang terkadang ramai terkadang mba jum ditugaskan untuk membantu sehingga diperlukan satu orang tambahan untuk menjaga kasir.
Aku cukup dekat sama mba jum yang kala itu mungkin sekitar 18 tahun. Mba jum ini suka memakai rok diatas lutut jaman itu memang begitulah pakaian yang dipakai buat pegawai atau pembantu, kalau sekarang sih bukan diatas lutut lagi tapi pakai celana pendek bukan…hehe..sambil bayangin.
Benernya aku sama Mba Jum ini sudah kaya kakak adik karena dari aku smp dia sudah menjadi teman untuk belajar dan terkadang juga membantu aku untuk menyelesaikan tugas tugas sekolah yang mudah seperti bahasa Indonesia atau PMP.
Siang itu sepulang sekolah aku bertemu Joko temen SMA ku di jalan karena rumah kami memang tak jauh bisa dikatakan kita sering main besama, disinilah awal aku mengalami kenikmatan yang belum pernah aku alami.
Joko : “ Tom eh sini aku punya buku bacaan menarik “
Kemudian joko mengeluarkan buku yang sudah agak lecek dan beberapa buku stensilan lainnya (kala itu memang zaman ngetopnya buku seperti itu)
Tommy : ini buku apaan tom, kok acak acakan gini.
Joko : sudah tom pokoknya dibaca bagus deh…ini aku kasih beberapa ya..kamu pinjam dulu nanti balikin lagi.
Kemudian sambil berlalu Joko meninggalkan aku dan kemudian aku memasukkan kedalam tasku dan aku pulang kerumah.
Sesampainya diruko aku naik kelantai 3 dan langsung naik di tmpt tidur buru buru membuka buku yang diberikan Joko. Kemudian aku membaca sampul depannya Judulnya ada pengarannya enny errow…kemudian aku buka halaman per halaman. Tidak biasanya aku cukup kuat membaca buku sambil cepat cepat untuk kehalaman berikutnya rasanya satu buku cepat sekali aku lahap…disitu banyak diceritakan tentang hubungan antara teman sekerja dan hubungan tetangga yang vulgar. Sambil membacanya burung kecilku mulai mekar tanpa aku sadar sampai aku buka celanaku ternyata mengeluarkan lendir bening. Kala itu aku tidak tahu apa artinya tp rasanya enak sekali. *Kemudian aku tertidur dan sore pukul 5 mba jum mengetok pintu kamarku ..aku terbangun dan kaget kemudian buru buru aku simpan buku tersebut ke kolong kasurku. Kemudian kubukan pintu tapi kali ini aku melihat mba jum dengan berbeda, sambil membuka pintu aku melihat mbak Jumku seperti gambaran wanita di buku yang tadi aku baca rasanya happy banget. Mba Jum terlihat sedikit kebingungan dan membuyarkan lamunanku dengan menanyakan Nyo..!!! …(panggilan buat ku) kok bengong ngeliatin mba…!!!
Kemudian sambil mengucek mata, aku tanyakan kenapa mba..?
Itu sudah sore cepat mandi sana…!!! Kemudian aku mengiyakan menayakan apakah mba Jum sudah mandi (karena biasanya mba jum mandi jam 5 sampai jam 6 an. Kemudian dia menjawab sudah nyo baru saja, mba ke bawah dulu ya bantuin papa kamu tutup ruko.
Kemudian aku lihat mba Jum turun ke lantai satu. Kemudian aku melihat ke samping kanan arah kamar mandi pembantu disana ada kamar mandi seukuran 2×2 meter. Kemudian entah ide dari mana sambil berjingkat jingkat aku menghampiri kamar mandi mba jum..kemudian aku lihat di pintu belakang kamar mandi tersebut terdapat celana dalam Mba jum yang berwarna putih dan sedikit kekuningan…kemudian aku ambil dan aku cium cium…hem baunya sangat memikat aku sampai menempelkan hidungku ke celana dalam itu sambil memegang burungku…yang sudah mulai mekar kembali…kemudian ku taruh kembali celana tersebut. Kemudian aku beranjak keluar dan mandi.
Semenjak hari itu aku sering berpikir tentang mba jum rasanya pingin memegang dan mencumbui mbaku tersebut…aku berpikir terus bagaimana caranya ya …?
Sampai malam tiba mba Jum datang ke kamarku karena biasanya mba jum menonton TV di kamarku, biasanya mba jum sudah berganti menggunakan baju dan rok coklat seperti rok nya pramuka selutut sambil nonton disofa menempel tembok dan didepannya terdapat meja belajarku seukuran 2 m panjangnya. Sementara aku membaca buku Matematika karena besok mau ujian. Aku duduk didepan mbaku dengan sofapendek.
Jadi posisi kita agak serong dan berhadap hadapan sekitar 2.5 m didepan meja tersebut. Sementara aku tidak konsen belajar mba jum dengan tenang dan konsentrasi melihat sinetron di tv tersebut. Terkadang aku curi curi pandang kali kali mba jum mengoyangkan kakinya karena dari tadi kakinya bergoyang goyang sambil sesekali memukul kelutut mungkin ada nyamuk yang hinggap di lutut yang mulus tersebut.
Jadi posisiku lebih rendah dari meja tersebut sehingga mba jum tidak menyadari bahwa aku mencuri curi pandang ke paha dan betisnya. Sambil terkadang mba jum mengaruk bagian pahanya dia tidak menyadari roknya sudah naik ke atas lutut dan setengah dari pahanya telihat olehku….gila..rasanya pingin segera mendekat dan menciumi langsung tempiknya mba jum. Sambil beberapa kali aku liat mba jum senyum senyum melihat sinetron jinny oh jinny….(jadul banget ga..tuh).
Karena dorongan yang begitu kuat akirnya aku merangkak ke bawah meja dan mengedap endap dan tanpa sadar aku sudah dibawah meja dengan jarak sekitar 60 cm didepan kaki mba jum, bau harum mba Jum tercium oleh ku…yang bikin burung kecilku mekar dan makin mengeras…sambil deg dekan aku mendekat dan teteap blm disadarin oleh mba jum mengerak gerakan kakinya yang mengakibatkan aku bisa melihat jembutnya yang kelihatan keluar dari celana dalamya yang terlihat nonong…rasanya sudah ga tahan…
Tiba tiba mbaku menayakan dan meneriakkan…Nyo kamu dimana ? sudah blm belajarnya ?
Kemudian smbl berpura pura aku keluar dari bawah meja dan merangkak keluar dan memberitahu mbaku…ini mba..tadi cari pena yang jatuh di bawah, tapi sudah selesai sih mba..kemudian aku mengatakan mba..aku tidur dulu ya…kemudian mbaku mematikan lampu dan kembali ke kursi tersebut dan menonton TV.
Pas pukul 12 malem aku terbangun dan melihat TV masih menyala sedangkan mba jum sudah tertidur di sofa dengan posisi terlentang dan kaki selonjoran dibawah meja belajarku. kemudian remang remang terlihat wajahnya yang tertidur dengan pulas. Muncul keisenganku untuk meneruskan aktivitas yang tadi terunda. Karena mba jum tertidur di sofa kulit mungkin sangat nyaman tidurnya sampai aku goyang goyangkan tangannya dia terdiam.
Kemudian aku pura pura menjatuhkan pena lagi dan masuk ke kolong meja belajarku dan dengan mengengap endap aku liat nonong celana dalamnya sambil aku pelan pelan aku masukkan tanganku diantara paha mba jum kemudian kurasakan hangat menerpa telapak tanganku. Aku gerakan sedikit demi sedikit sampai akirnya menempel penuh di gundukan padat tempiknya, sejurus terlihat kaget karena terasa kedutan paha mba jum.
Akupun agak takut untuk bergerak lebih lanjut. Aku diamkan dan semenit aku rasa cukup aman aku teruskan untuk membuka lipatan celana mba jum yang ada jembut tipsinya. Rasanya agak sulit karena celana dalamnya yang terasa ketat dengan gundukan tempik yang kayaknya bikin penuh…pemirsa bisa bayangkan dong…hem..aku gerakan pelan pelan sampai keliatan belahan tempiknya yang tertutup…sedetik kemudian aku mendekatkan hidungku di selakangan mba jum aku cium wangi dan sedikit memerah terlihat dari kilauan tv yang masih menyala…dengan takut takut aku dekatkan mulutku dan aku keluarkan lidahku untuk menyapu tempik mba jum dan tiba tiba mba jum terkaget terlihat dari pahanya yang berkedut dan kemudian menjepit kepalaku.
Aku terkaget dan diam sambil ketakutan aku mendiamkan kepalaku disana sampai akirnya paha mba jum melonggar dan aku kemudian meninggalkan mba jum dan kembali ke tempat tidurku.
Beneran rasanya deg degan pemirsa. Sepuluh menit kemudian aku berdiri mendekati mba jum dan membangunkan mba jum …mba bangun mba…mba tidur gih sudah malam.. kataku. Kemudian Mba jum membalas sambil terlihat mengingau …ia Nyo mba tidur sini saja ya..ngatuk mba nga kuat keatas. Kemudian aku kasih tau ya mba tidur aja deket Tommy ..sambil aku angkat mba Jum aku letakan di kasurku yang memang cukup besar seukuran queen size.* Kemudian Aku tidur juga disamping mba Jum. Tak berapa lama mba jum merangkul aku dan sedikit berbisik Nyo AC nya dingin banget mba kedinginan sambil berkingksut dia mendekat dan masuk ke selimutku sambil merangkul. Entah apakah sengaja atau tidak tapi aku benar benar deg degan karena baru pertama kali diperlakukan seperti itu oleh wanita.
Hampir 2 jaman aku ngga bisa tidur sampai akirnya tertidur dengan sendirinya dan bangun sekitar pukul 6 pagi. Tapi badanku terasa sakit semua karena menahan gerakan semalaman (mungkin pemirsa pernah mengalami keram seperti itu). Aku mau bangun setalah aku sadari ternyata mba jum sudah ngga di ruanganku tetapi tiba tiba aku terhuyung huyung dan pusing kepalaku. Aku kemudian duduk di pingiran kasurku. Semenit kemudian mba jum datang dan memberitahu untuk aku untuk mandi dan bersiap ikut orang tuaku ke malang karena hari itu hari sabtu dan memang sudah ada planning untuk kemalang.* Tapi aku mengatakan ke mba jum… mba aku ngga ikut papa dan mama kemalang badangku rasanya melayang. Kemudian mbaku memegang kepalaku dan mengatakan badanku dinggin…dan dia keluar dari kamar dan memberitahu orang tuaku kalau aku sakit. Sekitar 15 menit kemudian mamaku datang dan mengatakan kalau aku dirumah aja nanti mba Jum temanin dan belikan makanan. Sekalian mamaku pamitan dan meninggalkan aku sendirian.
Tak berapa lama sekitar 1 jam aku tertidur lagi dan tiba tiba aku berasa ada yang memijat mijat tanganku kemudian aku buka mataku aku melihat mba jum berpakaian putih agak tipis kaos dan celana jeans yang kemarin dipakai. Dan memberitahu kalau mau mengerok aku supaya cepet sembuh. Aku mengiyakan dan kemdudian dia membantu melepas bajuku sambil mengambil alat untuk mengerok badanku. Akupun mengikuti dan kemudian mba Jum mengerok sambil mengoleskan minyak kayu putih di punggungku. Aku mengatakan mba..aku kemarin ga tidur…karena kaku badanya ada mba yang tiduran disamping ku. Kemudian mba jum mengatakan maaf ya nyo gara gara mba nyo nga jadi ke malang dan malah sakit ….maaf ya….tapi nanti mba pijitnya nyo supaya cepet sembuh ya…katanya lagi. Kemudian aku ngga ingat lagi karena masih mengantuk dan tertidur….mungkin sekitar 30 menit aku merasakan badanku lebih ringgan karena kerokan tersebut.
Tapi ada hal yang aku rasakan lainnya yaitu rasanya ada yang bergerak gerak di dalam selimutku dan ada bagian tubuhku yang rasanya nga pernah merasa seperti itu serasa cenut cenut enak. Sambil membuka pelan pelan sambil mengintip aku liat mba Jum sedang menjilati Kont.. ku sambil memegang bagian paha dalamku …Hampir aku teriak tapi aku coba berpura pura tidur walau aku nga bisa menahan desahan ku …sambil terengah engah….ah ah ah…mba Jum terlihat makin napsu untuk menaik turunkan mulutnya di kont…ku gila aku serasa diubun ubung dan sejurus kemudian mba jum memasukan semua batang kont….ku dan kemudian menjilati dari atas sampai turun ke sarangnya kemudian turun lagi ke bagian anusku dijilatinya sampai aku sedikit menaikkan pantatku..kemudian mba jum melihat kea rah mataku. Aku pura pura tetap menutup mata sambil terengah engah….kemudian mba jum..mempercepat gerakan mulutnya dan…tiba tiba rasanya melayang pemirsa…aku terpekik sambil memegang gulingku yang aku taruh diatas kepalaku sambil menahan …sekuat tenaga tapi nga bisa dan crut crut crut…rasanya lemas …dan dengan buasnya mba Jum menghabiskan semua cairan yang keluar… dan setelah selesai semua mba jum melap kont..ku dengan tisu basah yang sudah dia siapkan kemudian memakaikan kembali Celana dalamku dan menepuk ke bagian kont…ku dan mentaakan cepet sembuh ya nyo…sambil berlalu kea rah pintu dan keluar.. Akupun menanjutkan aktivitastidurku….

Main DominoQQ Di Sini

Tuesday, April 16, 2019




CeritaDewasa - Kisahku ini yaitu peristiwa riil tanpa ada saya rekayasa sedikitpun!. Kisahku berawal satu tahun waktu lalu saat rekanku (Arman) mengajakku temaninya transaksi dengan rekannya (Heru). Saya terangkan saja tentang ke-2 orang itu terlebih dulu.

Cerita Bokep – Mesum Bersama Gadis Sekolah SMA

Arman yaitu rekan kuliahku serta dia seseorang yang rajin serta ulet termasuk juga dalam soal melakukan bisnis meskipun dia masih tetap kuliah. Heru yaitu rekan kenalannya yang seseorang anak bekas pejabat tinggi yang kaya raya (saya tidak paham apakah kekayaan orang tuanya halal atau hasil korupsi! ).

Februari 2016 waktu lalu Heru tawarkan sebagian koleksi lukisan serta patung (Heru sudah tahu tentang usaha Arman terlebih dulu) punya orang tuanya pada Arman, koleksi lukisan serta patung itu berumur tua. Arman tertarik tapi dia memerlukan kendaraan saya karna kendaraannya tengah digunakan untuk mengangkut almari ke Bintaro, oleh karenanya Arman mengajak saya turut serta saya juga sepakat saja.

Butuh saya terangkan terlebih dulu, Heru jual koleksi lukisan serta patung itu, oleh Arman diprediksikan membelinya karna Heru seseorang pecandu putaw serta memerlukan uang penambahan.

Esok harinya (hari Minggu), saya serta Arman pergi menuju tempat tinggal Heru di lokasi Depok. Setelah tiba dimuka pintu gerbang 2 orang satpam jalan ke arah kami serta bertanya maksud kehadiran kami.

Sesudah kami terangkan, mereka mengijinkan kami masuk serta mereka menghubungi Heru lewat telepon. Saya memarkir kendaraan saya serta saya kagum pada halaman serta tempat tinggal Heru yang sangat luas serta indah,

“ Begitu kayanya orangtua Heru” bisik dalam hatiku. Kami mesti menanti sebentar karna Heru tengah makan.

Sembari menanti, kami bicara dengan satpam. Dalam perbincangan itu, seseorang satpam bercerita bila Heru itu seseorang playboy serta sukai membawa wanita malam-malam ke tempat tinggalnya saat orang tuanya tengah pergi. Sesudah menanti selang 10 menit, pada akhirnya Heru datang (saya yang baru pertama kalinya memandangnya mesti mengaku kalau Heru mempunyai muka yang sangat rupawan, walaupun saya juga seseorang lelaki serta bukanlah seseorang homo! ). Arman mengenalkan saya dengan Heru. Kemudian Heru mengajak Arman masuk ke tempat tinggal untuk lihat patung serta lukisan yang juga akan di jualnya.

Saya bingung apakah saya mesti ikuti mereka atau tetaplah duduk di pos satpam. Sesudah mereka jalan sekitaran 15 mtr. dari saya, seseorang satpam menyebutkan baiknya anda (saya) turut mereka saja dari pada jemu menanti disini (pos satpam). Saya juga jalan menuju tempat tinggalnya. Saat saya masuk, saya tidak lihat mereka sekali lagi.

Saya cuma lihat satu ruang yang luas sekali dengan satu tangga serta sebagian pintu ruang. Saya bingung apakah saya baiknya naik ke tangga atau mengelilingi ruang itu (sesungguhnya mungkin saya teriak menyebut nama Arman atau Heru tapi aksi itu begitu tidak sopan! ).

Pada akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengelilingi ruang itu dengan keinginan bisa menjumpai mereka. Sesudah saya mengelilingi, saya tetaplah tidak bisa temukan mereka. Tapi saya lihat satu pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka.

Saya menduga mungkin saja saja mereka ada didalam kamar itu. Lantas saya buka sedikit untuk sedikit pintu itu serta begitu terkejutnya saya saat saya lihat seseorang anak wanita tengah tertidur dengan daster yang tidak tebal serta cuma menutupi sisi atas serta sisi selangkangannya.

Basic otak saya yang telah kotor lihat panorama paha yang indah, pada akhirnya saya masuk kedalam kamar itu serta tutup pintu itu. Saya lihat seputar kamar itu, kamar yang luas serta indah, sebagian helai baju SMP berantakan ditempat tidur, serta photo anak itu dengan Heru serta seseorang lelaki tua serta wanita tua (mungkin saja photo orang tuanya).

Anak wanita yang begitu cantik, manis serta kuning langsat! lantas saya mengambil langkah lebih dekat sekali lagi, saya lihat sebagian buku pelajaran sekolah serta tulisan namanya : Vina kelas 10 C. Masih tetap kelas 10! bermakna usianya baru pada 15-16 th.. Lantas saya fokus pandangan saya ke arah pahanya yang kuning langsat serta indah itu!.

ngin rasa-rasanya menjamah paha itu tapi saya sangsi serta takut. Saya menambah pandangan saya ke arah dadanya serta lihat cetakan pentil susu di helai dasternya itu. Dadanya masih tetap kecil serta ranum serta saya ketahui dia tentu tidak menggunakan baju dalam (BH atau kutang) dibalik dasternya itu!.

Berwajah begitu imut, cantik serta manis! Pada akhirnya saya membulatkan tekad meraba pahanya serta mengelusnya, astaga…. mulus sekali! Lantas saya menambah sedikit sekali lagi dasternya serta terlihatlah satu celana dalam (CD) warna putih. Saya meraba CD anak itu serta menarik sedikit karet CDnya, lantas saya mengintip kedalam, ….

Astaga! tak ada bulunya! Jantung saya berdetak kencang sekali serta keringat dingin mengalir deras dari badan saya. Lantas saya mencium Cdnya, tak ada bau yang tercium. Lantas saya menarik sedikit sekali lagi dasternya ke atas serta terlihatlah perut serta pinggul yang ramping padat serta mulus sekali tidak ada kotoran di pusarnya! Mengagumkan!

Otak porno saya juga begitu kreatif juga, saya membulatkan tekad untuk menarik perlahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah beberapa dadanya yang mulus serta putih! menginginkan rasa-rasanya segera memegangnya, tapi saya bersabar, lantas saya menarik sekali lagi tali dasternya ke bawah serta pada akhirnya terlihatlah pentil Vina yang bewarna pink kecoklatan!

Jantung saya kesempatan ini merasa berhenti! Sayapun terasa badan saya jadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya serta memencet dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan-lahan serta sedikit lama juga, sesaat Vina sendiri masih tetap tertidur nyenyak. Sesudah senang, saya menjilat serta mengulum pentilnya, merasa tawar.

Basic otakku yang telah hilang ingatan, saya juga nekat menarik semua dasternya perlahan-lahan kearah bawah hingga terlepas, hingga Vina saat ini cuma kenakan celana dalam (CD) saja! Saya memandangi badan Vina dengan penuh rasa mengagumi akan. Mendadak Vina sedikit bergerak, saya sangka ia terbangun, nyatanya tidak, mungkin saja tengah mimpi saja.

Saya mengelus badan Vina dari atas sampai pusar/perut. Senang mengelus-elus, saya menginginkan nikmati lebih dari itu! Saya menarik perlahan CD Vina ke arah bawah sampai terlepas. Saat ini Vina sudah telanjang bulat! Begitu indahnya badan Vina ini, gadis kelas 10 SMA yang sangat manis, imut serta cantik dengan buah dada yang kecil serta ranum dan vaginanya yang belumlah ada bulunya sehelaipun!

Lantas saya mengelus bibir vaginanya yang mulus serta lembek serta sayapun menciumnya. Merasa bau yang ciri khas dari vaginanya itu! Dengan ke-2 jari telunjuk saya, saya buka bibir vaginanya dengan perlahan, tampak dalamnya bewarna kemerah –merahan dengan daging di atasnya.

Saya menjulurkan lidah saya ke arah vaginanya serta menjilat-jilat vaginanya itu. Saya deg-degan juga lakukan adegan itu. Saya ketahui aksi saya dapat ketahuan olehnya tapi peristiwa ini susah sekali untuk ditinggalkan demikian saja! Benar sangkaan saya!

Ketika saya tengah asiknya menjilat vaginanya, Vina terbangun! Saya juga terperanjat 1/2 mati! Untung Vina tidak teriak tapi cuma tutup buah-dadanya serta vaginanya dengan ke-2 tangannya. Mukanya terlihat takut juga. Vina lantas berkata Daftar, Main, Menang Puluhan Juta, Klik Di Sini

“ Siapa anda, apa yang menginginkan anda kerjakan? ”. Saya segera memutar otak untuk keluar dari kesusahan ini!

Lantas saya menyebutkan pada Vina : “ Vina, saya lakukan ini karna Heru yang mengijinkannya! ”, kataku yang berbohong. Vina terlihat tidak yakin lantas berkata

“Tidak mungkin saja, Heru kakakku! ”. Pintar juga dia! Tapi saya tidak menyerah demikian saja.

Saya menyebutkan sekali lagi “ Vina, saya ketahui Heru kakakmu tapi dia miliki hutang yang sangat besar pada saya, apakah anda tega lihat kakakmu ikut serta hutang yang sangat besar? Apakah anda tidak kasihan pada Heru?, bila dia tidak melunasi hutangnya, dia dapat dipenjara ” kataku sembari berbohong. Vina terdiam sesaat.

Saya berupaya menentramkan Vina sembari mengelus rambutnya. Vina tetaplah terdiam. Sayapun dengan lembut menarik tangannya yang menutupi ke-2 buah dadanya. Dia nampaknya pasrah saja serta membiarkan tangannya ditarik oleh saya. Tampak sekali lagi ke-2 buah dadanya yang indah serta ranum itu! Saya mencium pipinya serta berkata

“Saya juga akan senantiasa mencintaimu, yakinlah! ”. Saya merebahkan badannya serta menarik tangannya yang beda yang menutupi vaginanya. Pada akhirnya dia menyerah serta pasrah saja pada saya. Saya tersenyum dalam hati. Saya segera cepat-cepat buka semua baju saya untuk selekasnya menyelesaikan “ pekerjaan “ ini (maklum saja, bila sangat lama, transaksi Heru dengan Arman usai, sayapun dapat ketahuan, ujung-ujungnya saya mungkin terbunuh! ).

Saya segera mencium mulut Vina dengan rakus. Vina nampaknya belum juga sempat ciuman terlebih dulu karna dia masih tetap kaku. Lantas saya mencium lehernya serta turun ke arah buah dadanya. Saya menyedot ke-2 buah dadanya dengan kencang serta rakus serta meremas-remas ke-2 buah dadanya dengan begitu kuat, Vina nampaknya kesakitan dengan juga remasan saya itu, Sayapun menarik-narik ke-2 pentilnya dengan kuat!

“Sakit kak “ kata Vina. Saya tak akan mendengar rintihan Vina. Saya mengulum serta menggigit pentil Vina sekali lagi sembari tangan kanan saya meremas kuat pantat Vina. Sesudah senang, saya membalikkan tubuh Vina hingga Vina tengkurap.

Saya jilat semua punggung Vina hingga ke pantatnya. Saya remas pantat Vina kuat-kuat serta saya buka pantatnya sampai tampak anusnya yang bersih serta indah. Saya jilat anus Vina, merasa asin sedikit! Dengan jari telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Vina terlihat merintih atas aksi saya itu.

Saya angkat pantat Vina, saya remas sisi vagina Vina sembari ia nungging (tempat saya di belakang Vina). Vina telah seperti boneka mainan saya saja!. Sesudah senang, saya balikkan sekali lagi badan Vina hingga ia terlentang, saya naik ke atas kepala Vina serta menyodorkan penis saya ke mulut Vina.

“ Jilat serta kulum! ” kataku. Vina sangsi juga awal mulanya, tapi saya selalu membujuknya serta pada akhirnya ia menjilat juga.

Penis saya merasa enak serta geli juga dijilat olehnya, seperti anak kecil yang menjilat permen lolipopnya.

“Kulum! ” kataku, dia lantas mengulumnya. Saya dorong pantat saya hingga penis saya masuk lebih dalam sekali lagi, nampaknya dia seperti ingin muntah karna penis saya menyentuh kerongkongannya serta mulutnya yang kecil terlihat susah menelan beberapa penis saya hingga ia susah bernapas juga. Sembari ia mengulum penis saya, tangan kanan saya meremas kuat-kuat payudaranya yang kiri sampai tampak sisa merah di payudaranya.

Saya segera melepas kuluman itu serta menuju ke vaginanya. Saya jilat vaginanya sepuas mungkin saja, lidah saya menusuk vaginanya yang merah pink itu lebih dalam, Vina menggerak-gerakkan pantatnya kiri-kanan, atas-bawah, tak tahu karna kegelian atau mungking ia menikmatinya juga. Sembari menjilat vaginanya, ke-2 tangan saya meremas-remas pantatnya.

Pada akhirnya saya menginginkan menjebol vaginanya. Saya naik ke atas badan Vina, saya sodorkan penis saya ke arah vaginanya. Vina terlihat ketakutan jSaya Erwin mahasiswa di satu diantara Universitas di Yogyakarta, datang dari keluarga sederhana di kota diluar jogja. Di jogja ini saya tinggal ngekos di satu dusun dekat dengan universitas dan rata-rata tempat tinggal di sini memanglah dijadikan kos-kosan, baik buat putri ataupun putra.

Cerita Bokep – Melakukan Seks Dengan Teman Cewek Di Belakang Kost STREAMING !!!

Kosanku ada didaerah sisi belakang dusun dan di bagian depanku ada kos putra, selain ada kos putri, dan di belakang ada kos putri yang ditempati 7 orang. Yang juga akan saya katakan di sini yaitu pengalamanku dengan penghuni kos putri yang ada di belakang kosku.

Singkat cerita saya serta penghuni kos putra yang lain memanglah telah kenal serta lumayan akrab dengan penghuni kos putri belakang, jadi jika ada yang butuh pertolongan tinggal katakan saja.

Saya seringkali sekali main ke kosan putri itu sekedar untuk bebrapa bercakap saja diruang tamunya, itupun bila dikosanku sekali lagi sepi, maklum saja saya sendiri yang angkatan tua yang hampir tidak ada kerjaan, sedang yang lain masih tetap repot dengan kuliah serta beberapa aktivitas yang lain.

Karena sangat biasanya saya main ke kosan belakang, ke-7 cewek penghuninya sangatlah punya kebiasaan dengan kehadiranku di sana, serta ada satu orang cewek bernama Bunga, tingginya sekitaran 165cm, beratnya sekitaran 50kg, kulitnya kuning, ukuran Branya mungkin saja hanya 34A, sempat setelah mandi masih tetap dengan balutan handuk sejengkal di atas lutut dia lewat didepanku dengan santainya. Saya yang masih tetap begitu normal jadi lelaki pernah melongo lihat pahanya yang mulus nyatanya, serta dia cuek saja nampaknya.

Hingga satu hari, pada saat berlibur UAS sekitaran mendekati sore waktu saya datang ke kosan belakang seperti umum, di sana cuma ada Bunga sendiri, dia menggunakan daster bunga-bunga tidak tebal selutut, dia tengah dimuka computer dikamarnya yang terbuka pintunya, kupikir dia sekali lagi kerjakan pekerjaan.

“lagi ngapain, Bunga? Yang laen kemana? ” tanyaku dimuka pintu,
“eh Mas Erwin, sekali lagi jemu nih, sekali lagi ngegame saja, yang laen kan mudik mas, trus Mbak rina kan KKN pulangnya malem terus” jawabnya sembari masih tetap memainkan mousenya

“masuk mas”.
Saya juga masuk serta duduk di karpetnya
“ memang anda gak mudik juga Bunga? ”
“aku kan ngambil SP (Semester Pendek) mas, males klo mesti ngulang reguler” jawabnya.
“lagi ngegame apa sich? ” tanyaku lagi

“ini nih maen monopoly, setelah yang ada hanya ini” sembari mengubah tempat kakinya bersila serta pernah memerlihatkan pahanya, akupun melongo sekali lagi di hidangkan pahanya itu, hingga pada akhirnya dia sadar serta sembari tutup pahanya dia katakan

“hayo ngliatin apa? ”
“eh ngga, gak liat apa-apa” jawabku gelagapan
“hayooo ngaku, tentu nafsu ya, dasar cowo” dia bilang
“yeee janganlah cowo saja donk yang salah, yang buat nafsu kan cewe” kataku membela diri
“wuuu ngeles aja” dia katakan sambil meneruskan gamenya barusan, “eh mas punya film gak? BT nih”
“film apa ya? Yang di tempatku kan dah di lihat semuanya” jawabku
“yaaah apa saja deeeh” dia memohon
“apa dong, ya memang udah tak ada lagi, ada pula bokep tuch klo mau”
“mau dong mas mau” dia bilang
saya kaget mendengar itu segera bilang
“beneran nih, nanti kepengen ribet lagi”
“udah sana ambilin, saya iseng ni mas”
“tapi nontonnya bareng ya” kubilang
“iihh gak ingin ah, nanti jadi mas Erwin ingin, bisa diperkosa aku”
“ga bakalan atuh sampai kaya gitu, ingin diambilin gak nih? Tapi nonton bareng ya”
“iya deh, ambillah sana” pintanya.

Secepat-cepatnya saya lari ke kos lantas mengcopy bokep yang berada di computer dikamarku, saya copy yang bagus-bagus saja, setelah usai saya segera lari ke kamar Bunga serta menyerahkannya. Bunga juga segera mengcopy yang berada di flashdiskku.

Kamipun menontonnya, saya duduk ada disamping kirinya, serta dia duduk sambil memegang bantal. Kami tidak ada bicara waktu film itu di mulai. Baru sebagian menit melihat, saya mulai horny karna baru kesempatan ini saya nonton bokep sama cewek yang bukanlah pacarku berdua saja, kontan saja akupun agak-agak salah tingkah bertukar-ganti tempat duduk untuk menutupi kontolku yang telah berdiri tegang.

Tidak berapa lama kelihatannya diapun mulai rasakan hal yang sama, nafasnya mulai tidak teratur serta agak berat seperti ada yang ditahan, duduknya juga mulai bertukar tempat serta saat ini bersila sembari memeluk bantalnya itu. Kalau saya yang jadi bantalnya, hmmmmm. Pada akhirnya saya membulatkan tekad ajukan pertanyaan.

“kenapa, Bunga? hayoo”
“apaan sich, gak kenapa-napa ko, mas tuch yang mengapa dari barusan gerak-gerak selalu? ” dia merengut
“ yahhh, namanya juga nonton bokep An, nontonnya sama cewek manis berdua saja lagi” kubilang
“emangnya mengapa klo nonton ma cewek berdua aja”, kelihatannya dia memancingku
nekad saja saya bilang

“ya, jadi kepengen lah jadinya”
“tuuh kan bener yang saya katakan tadi” Dia melanjutkan
“ mas Erwin sukai ya begituan? ”
serta saya jawab asal
“ya sukalah, enak sih”

“lah anda sendiri sukai nonton bokep ya? Dah dari kapan? Jangan-jangan anda juga telah sekali lagi? ” segera saya cecar saja sekalian

“iihhh, apaan sih” dia katakan,
“udahhh ngaku ajah, telah sempat kan? jika telah juga gak ayah, rahasia aman kok, hehe” saya cecar terus
“mmmm tau ah” dia malu nampaknya, lalu dia mengalihkan serta bertanya
“mas Erwin klo begituan sukai jilatin kaya gitu mas” sembari menunjuk adegan cowok sekali lagi jilatin memek cewek

“iya, sukai, di oral juga sukai, mengapa? Ingin ya hehehe”
“ihhhh orang hanya nanya” jawabnya malu-malu
“kamu emangnya belom sempat di oral kaya gitu Bunga? ”

“belom lah, saya sebenernya sempat ML 2 kali, tp cowokku gak sempat tuch ngejilatin ‘itu’ku, saya selalu yang diminta isepin ‘anu’nya “ pada akhirnya dia ngaku juga
“ wahh keenakan cowokmu donk, diisep selalu kontolnya ma anda, dah jago dunk, jadi ingin, hehe”

“wuuu sana ma pacarmu sana” katanya
“pacarku kan jauh Bunga” jawabku.

Saya segera berubah merapatkan diri selain dia
“Bunga, ingin saya jilatin memeknya gak? ” saya segera saja setelah telah gak tahan. Dia diam saja, saya cium pipinya diapun menghadapkan mukanya kearahku, saya dekatkan bibirku ke bibirnya serta kamipun berciuman dengan begitu bernafsu. Tangan kiriku mulai meraba toketnya, diapun melenguh “mmmh” sembari tetaplah berciuman.

“Bunga, telah lama saya pingin merasakan ngentot sama kamu” kataku
“aku juga mas, saya kan seringkali mancing mas Erwin, tapi mas kayanya gak ngerasa” dia bilang
“ihh pakai mancing-mancing semua, kan tinggal ajak saja saya tentu mau”
“yeee masa saya yang ajak” tuturnya manja sembari menggelayutkan tangannya dileherku
“berarti bisa dong memeknya saya jilat” sembari kuturunkan tanganku ke memeknya yang masih tetap terbalut dasternya
“lom diijinin saja tangannya telah megang memekku nih” sembari tersenyum lalu menciumiku.

Saya segera melumat bibirnya sembari mengangkat dasternya sampai tanganku serta memeknya cuma dibatasi CD tidak tebal saja. Bunga telah mulai memasukkan tangannya dalam celana (waktu itu saya cuma memakai celana boxer) serta CD ku hingga menyentuh kontolku serta lalu mengelusnya lembut.

“mmmhhh Bunga sayang”
Saya buka kaosku lantas melepas dasternya sekalian sampai tersisa CD serta bra nya saja.
“kamu seksi Bunga”
“mas Erwin juga kontolnya gede, Bunga sukai banget, Bunga isep ya? ”
“iya Bunga, saya juga gak sabar pingin memek kamu”

Akupun berdiri, Bunga memelorotkan celana sekalian CDku hingga kontolku seperti melompat kedepan mukanya karena sangat tegangnya, Bunga sedikit kaget waktu lihat kontolku yang mempunyai panjang sekitaran 16 cm.

“mas, gede ih, pacarku gak segede ini kontolnya”
Waktu dia telah buka mulutnya menginginkan melahap kontolku, saya segera menariknya sampai berdiri
“sebentar sayang, dah gak sabaran ingin isep ya? ”
Bunga mengangguk manyun
“kita 69 yuk sayang”
Saya buka tali bra nya serta lantas cdnya kuturunkan, tampak bersih memeknya tanpa ada jembut.
“memek anda bersih sayang”
“baru kemaren saya cukur mas, setelah sukai gatel jika ada bulunya, mas sukai ngga? ”
“suka banget sayang” sembari kuciumi memeknya.

B unga naik ke kasurnya dengan tempat kemampuanng mengundangku, akupun naik serta memposisikan kontolku bertemu dengan mukanya lantas mukaku dimuka memeknya.
Saya mulai menjilati memeknya dengan lembut, Bunga tanpa ada sangsi memasukkan kontolku ke mulutnya serta mengocoknya perlahan-lahan. Jackpot Ratusan Juta

“oughhh, mmmhhh Bunga sayang” memek Bunga merasa begitu legit saya menjilati klitorisnya yang kemerahan
“hmpffhhh…. mmmpphhh” Bunga melenguh

Sekitaran 5 menit kami di tempat ini, kami telah keduanya sama tidak tahan, saya merubah tempatku ada diatas badan kemampuanng Bunga serta mengarahkan kontolku ke memeknya. Memeknya telah agak basah sesudah oral barusan, saya menggesek-gesekkan kontolku sesaat
“ohhhh, masukin masku sayang, Bunga gak tahan sekali lagi mmmmhhh”

Saya suka mendengarnya memohon minta di entot. Saya mengutamakan kontolku perlahan-lahan, baru kepalanya yang masuk, sedikit susah, saya hentakkan sedikit, Bunga menggigit bibirnya, serta pada akhirnya kontolku berhasil masuk lubang senggamanya, sempit serta seret rasa-rasanya membuatku rasakan kesenangan waktu saya awal bercinta dengan pacarku, tetapi ini merasa lebih mungkin saja karna lebih menantang.

Saya memompa memeknya perlahan, Bunga ikuti pergerakanku dengan menggerakkan pinggulnya mengarahkan memeknya. Saya genjot selalu sembari kupeluk Bunga serta menciumi bibirnya yang merah basah.

“mmh. Hmmpppf…. sayang enak banget sayang, memek anda sempit banget, kontolku kaya dipijet-pijet”
“ he emh mas, oughhh selalu mas, masukin selalu mas, agar Bunga jepit kontolnya, ahhhhh” bicaranya terengah-engah

Saya menggenjot selalu hingga pada akhirnya kontolku amblas di dalam memeknya. Saya makin cepat memompa liang senggamanya.

“ahhh,, ohhhh, masku,,, ohh,, entot saya ohh.. enak banget mas sayang, Bunga pingin oohhhhh dientot mas selalu, mari ooougghhh” Bunga telah tidak karuan omongannya karena sangat menikmatinya.

15 menitan kami bercinta dalam tempat itu serta saya memohonnya nungging untuk tempat doggy, Bunga menurut saja, saya masukan kontolku kememeknya sekali lagi serta saat ini telah agak lancar meskipun masih tetap merasa sempitnya seperti memeras serta menyedot kontolku masuk. Saya memegang pantatnya yang mulus bersih sembari saya pompa tidak sangat cepat, Bungapun memajumundurkan memeknya sampai seperti juga akan menelan kontolku semuanya serta begitu nikmat rasa-rasanya.

Saya percepat genjotanku di memeknya, Bunga sedikit berteriak kenikmatan
“auhh mas,, mmmhh selalu mas, enak ahhh…kontol mas…oohhh sayang”
Nafasku makin memburu serta bernafsu mendengar ocehannya itu buat genjotanku jadi begitu cepat

“sayang, saya kluarin di mana sayang…ah ah oughh”
“didalem…argh saja sayang auuhhh gak ayah, Bunga juga ingin keluar mmmhhh”
Genjotanku cepat sekali karna spermaku telah tidak tertahankan sekali lagi ingin keluar.
“arrrgghhh saya keluar sayanggg”

Serta waktu itu juga badan Bunga mengejang orgasme
“ahhhhhhh, saya juga ssssshh mas”

Saya muntahkan spermaku dalam lubang memek Bunga, saya memutar badan Bunga dengan kontol masih tetap tertancap di memeknya, saya memeluk serta menciumnya

“kamu hebat sayang, memek anda hebat jepitannya”
“mas Erwin juga”

Dibaca Juga Cerita Unik !!! Jenis-Jenis Makanan Yang Bisa Menurunkan Kolesterol
Dia mengajakku ke kamar mandi untuk bersihkan badan kami, dengan masih tetap telanjang kami keluar kamar serta menuju kamar mandi. Saya bersihkan semua badannya dengan perasaan sayang yang mengagumkan, serta diapun lakukan hal yang sama kepadaku.

Sesudah usai bersihkan badan kami, kami kembali kekamarnya serta menggunakan kembali baju kami, waktu itu dia katakan kepadaku
“makasih ya mas, telah ngasih kenikmatan untuk aku, enak banget ngentot sama anda mas”
“sama-sama sayang, besok-besok sekali lagi ya? ”
“siap mas. Muachh” jawabnya sembari menciumku
Akupun kembali pada kosku dengan hati begitu suka serta waktu ada peluang berdua kamipun melakukannya sekali lagi.

Atau waktu yang sama tidak tahan kami janjian ke hotel untuk memuaskan nafsu kami.Keluarga tempat kos saya mempunyai anak tunggal wanita yang telah menikah serta tinggal dirumah orang tuanya. Mbak Sus, sekian kami anak-anak kos menyebut, berusia sekitaran 35 th.. Tidak demikian cantik namun mempunyai badan bagus serta bersih.

Cerita Bokep – Kisahku Bersama Mba Sus Pemilik Kost

NONTON BOKEP INDONESIA
Menurut ibu kos, anaknya itu sempat melahirkan namun lalu bayinya wafat dunia. Jadi tidak mengherankan bila bentuk tubuhnya masih tetap mengundang selera. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal dirumah sisi samping seringkali iseng-iseng membicarakan Mbak Sus. Wanita yang bila dirumah tidak sempat menggunakan bra itu jadi tujuan bercakap miring.

“Kamu tahu tidak, mengapa Mbak Sus hingga saat ini tidak hamil-hamil? ” bertanya Robin yang kuliah di tehnik sipil satu waktu.
“Aku tahu. Suaminya letoi. Tidak dapat ngacung” jawab Krus, anak tehnik mesin dengan tangkas.

“Apanya yang tidak dapat ngacung? ” bertanya saya pura-pura tidak paham.
“Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus.
“Kok tahu bila dia sulit ngacung? ” saya menguber sekali lagi.

“Lihat saja. Stylenya klemar-klemer kaya wanita. Tahu tidak? Mbak Sus seringkali membentak-bentak suaminya? ” papar Krus.
“Kalian saja yang tidak tanggap. Dia sesungguhnya kan mengundang satu diantara, dua, atau tiga diantara kita, mungkin saja jadi semuanya, untuk membantu”, kata Robin.

“Membantu? Apa maksudmu? ” tanyaku tidak memahami ucapannya.
Robin tertawa sebelumnya berkata, “Ya menolong dia supaya selekasnya hamil. Dia mengundang otomatis. Saksikan saja, dia seringkali menunjukkan payudaranya pada kita dengan kenakan kaus ketat. Lalu tiap-tiap selesai mandi dengan cuma melilitkan handuk di tubuhnya lalu-lalang dimuka kita” Mudah Menang

“Ah anda saja yang GR. Mungkin saja Mbak Sus tidak punya maksud begitu”, sergah Heri yang mulai sejak barusan diam.
“Nggak yakin ya? Mari siapa yang berani masuk kamarnya waktu suaminya dinas malam, saya jamin dia tidak juga akan menampik. Pasti”

Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu fikiranku. Apakah benar apa yang dia katakan mengenai Mbak Sus? Apakah benar wanita itu berniat mengundang birahi kami supaya ada yang masuk perangkapnya?

Sepanjang satu tahun kos diam-diam saya memanglah sukai nikmati panorama yang tanpa ada tersadari seringkali buat penisku tegak berdiri. Terlebih payudaranya yang seperti berniat dipamerkan dengan semakin banyak berkaus hingga putingnya yang kehitam-hitaman terlihat menonjol.

Terkecuali payudaranya yang kuperkirakan memiliki ukuran 36, pinggulnya yang besar seringkali membuatku terangsang. Ah begitu mengasyikkan serta menggairahkan bila saja saya dapat memasukkan penisku ke selangkangannya sembari meremas-remas payudaranya.

Sesudah pembicaraan iseng itu saya jadi lebih memerhatikan gerak-gerik Mbak Sus. Bahkan juga saya saat ini berniat seringkali mengobrol dengan dia. Kulihat wanita itu tenang-tenang saja walau ketahui saya seringkali mengambil pandang ke arah dadanya sembari menelan air liur.

Satu saat saat jalan berpapasan tanganku tanpa ada berniat menyentuh pinggulnya.
“Wah.. maaf, Mbak. Tidak berniat.. ” kataku sembari tersipu malu.
“Sengaja juga tidak apa-apa kok dik”, jawabnya sembari mengerlingkan matanya.

Dari situ saya mulai menyimpulkan apa yang disebutkan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus memanglah berupaya memancing, mungkin saja tidak senang dengan kehidupan seksualnya dengan suaminya.

Semakin lama saya jadi bertambah berani. Sekian kali saya berniat menyenggol pinggulnya. Eh dia hanya tersenyum-senyum. Tindakan nakal juga kutingkatkan. Bukanlah menyenggol sekali lagi namun meremas. Sialan, reaksinya sama juga. Tidak salah bila saya mulai berangan-angan satu waktu menginginkan menyetubuhi dia.

Kesempatan itu sesungguhnya cukup banyak. Satu minggu 3x suaminya dinas malam. Dia sendiri sudah memberi sinyal tanda welcome. Hanya saya masih tetap takut. Siapa tahu dia miliki kelainan, yaitu sukai menunjukkan piranti badannya yang indah tidak ada kemauan beda.

Tetapi birahiku rasa-rasanya tidak tertahankan sekali lagi. Tiap-tiap malam yang ada pada bayanganku adalah menyelinap diam-diam ke kamarnya, menciumi serta menjilati semua badannya, meremas payudara serta pinggulnya, lalu melesakkan penis ke vaginanya.

Satu hari saat tempat tinggal sepi. Empat rekanku masuk kuliah atau miliki aktivitas keluar, ayah serta ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya diluar kota, sedang suami Mbak Sus ke kantor.

Saya mengobrol dengan dia di ruangan tamu sembari melihat tv. Awal mulanya pembicaraan cuma bebrapa masalah umum serta umum. Tak tahu memperoleh dorongan dari tempat mana lalu saya mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

“Saya sesungguhnya begitu kagum pada Mbak Sus lo”, kataku.
“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya saya ini bintang sinetron atau jenis. ”
“Sungguh kok. Tahu tidak apa yang kukagumi pada Mbak? ”
“Coba apa.. ”
“Itu.. ”
“Mana? ”

Tanpa ada bebrapa sangsi sekali lagi saya menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti umum cuma dibungkus kaus.
“Ah.. anda ini. ”

Reaksinya semakin membuatku berani. Saya mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lantas ganti kucium lehernya yang putih. Dia menggelinjang kegelian, namun tidak berupaya menampik.

Wah, peluang nih. Saat ini sembari menciumi lehernya tanganku bergerilya dibagian dadanya. Dia berupaya menepis tanganku yang ngawur, namun saya tidak ingin kalah. Remasanku selalu kulanjutkan.

“Dik.. malu ah diliat orang”, tuturnya perlahan. Tepisannya melemah.
“Kalau demikian kita ke kamar? ”
“Kamu ini nakal”, katanya tanpa ada berupaya sekali lagi hentikan serbuan tangan serta bibirku.

“Mbak.. ”
“Hmm.. ”
“Bolehkah mm.., bolehkah bila saya.. ”
“Apa hh.. ”
“Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu? ”
“Hmm.. ” Dia mendesah saat kujilat telinganya.

Tanpa ada menanti jawabannya tanganku selekasnya menelusup ke balik kausnya. Rasakan begitu empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan ke-2 tanganku. Desahannya semakin kuat. Lantas kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, bermakna dia oke. Tanganku semakin semangat. Saat ini ke-2 putingnya ganti kupermainkan.

“Dik, tutup pintunya dahulu dong”, bisiknya dengan nada agak bergetar, mungkin saja menahan birahinya yang mulai naik.
Tanpa ada diminta 2 x secepat kilat saya selekasnya tutup pintu depan. Pasti supaya kondisi aman serta teratasi. Kemudian saya kembali pada Mbak Sus. Saat ini saya jongkok di depannya.

Mengungkap rok bawahnya serta merenggangkan ke-2 kakinya. Wuih, begitu mulus ke-2 pahanya. Pangkalnya terlihat menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sembari menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina serta klitorisnya yang besar. Lidahku semakin naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian sembari mendesah halus. Pada akhirnya jilatanku hingga di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sembari memegangi kapalaku erat-erat.
“Mbak belum juga sempat dioral ya? ”
“Apa itu? ”
“Vagina Mbak juga akan kujilati. ”
“Lo itu kan tempat kotor.. ”
“Siapa katakan? ”

“Ooo.. oh.. oh.. ”, desis Mbak Sus keenakan saat lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Terlihat dia keenakan walau masih tetap dibatasi celana dalam.

Serangan juga kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Saat ini piranti rahasia kepunyaannya ada dimuka mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai sama sangkaanku. Di sekitarnya ditumbuhi rambut tidak demikian lebat.

Lidahku lalu bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk kedalam dengan beberapa gerakan melingkar yang buat Mbak Sus semakin keenakan, hingga mesti mengangkat-angkat pinggulnya.
“Aahh.. Kau pandai sekali. Belajar dari tempat mana hh.. ”
“mm film biru serta bacaan porno kan banyak mm.. ” jawabku.

Mendadak, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Tindakan liarku juga berhenti mendadak.
“Sst ada tamu Mbak”, bisikku.
“Cepat kau sembunyi ke dalam”, kata Mbak Sus sembari mengatur bajunya yang agak berantakan.

Saya selekasnya masuk kedalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semuanya, hingga dari luar tidak lihat kedalam. Hingga di kamar berbau harum itu saya duduk di pinggir ranjang. Penisku tegak menekan celana pendekku yang kukenakan. Kartu Online

Sialan, baru asik ada yang mengganggu. Kudengar nada pintu di buka. Mbak Sus bicara sebagian patah kata dengan seseorang tamu bertemura lelaki. Tidaklah sampai dua menit Mbak Sus menyusul masuk kamar sesudah tutup pintu depan.

“Siapa Mbak? ”
“Tukang koran menagih rekening. ”
“Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat.. ”
“Sudahlah”, tuturnya sembari mendekati saya.

Tanpa ada sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lantas tangannya menyentuh celanaku yang menonjol karena penisku yang ereksi maksimum, meremas-remasnya sebagian waktu. Begitu lembut ciumannya, walau masih tetap polos.

Saya selekasnya menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit hingga dia seperti akan tersedak. Awal mulanya Mbak Sus seperti juga akan memberontak serta melepas diri, tapi tidak kubiarkan. Mulutku seperti menempel di mulutnya.

Lama-lama dia pada akhirnya dia dapat nikmati serta mulai menirukan style permainan ciuman yang dengan tidak sadar barusan kuajarkan.

“Uh anda pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu? ” tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara serta mulai liar.
Saya tidak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan ke-2 payudaranya yang terlihat menggairahkan itu. Agar tidak merepotkan, kausnya kulepas.

Saat ini dia telanjang dada. Tidak senang, selekasnya kupelorotkan rok bawahnya. Nah saat ini dia telanjang bulat. Begitu bagus badannya. Padat, kencang, serta putih mulus.

“Nggak adil. Anda harus juga telanjang. ” Mbak Sus juga menanggalkan kaus, celana pendek, serta paling akhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh selekasnya diremas-remasnya. Tanpa ada dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, sama-sama menindih.

“Mbak ingin saya oral sekali lagi? ” tanyaku.
Mbak Sus cuma tersenyum. Saya menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kesenangan kepunyaannya. Tanpa ada ampun sekali lagi mulut serta lidahku menyerang daerah itu dengan liar.

Mbak Sus mulai keluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Terlihat dia temukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Nyaris lima menit kami nikmati permainan itu. Setelah itu saya merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.

“Gantian dong, Mbak”
“Apa muat segede itu.. ”

Tanpa ada menanti jawabannya selekasnya kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Awal mulanya agak kesusahan, namun lama-lama dia dapat beradaptasi hingga tidak lama penisku masuk rongga mulutnya. Lihat Mbak Sus agak tersiksa oleh style permainan baru itu, saya juga selekasnya mencabut penisku. Fikirku, kelak lama-lama tentu dapat.

“Sorry ya Mbak”
“Ah kau ini mainnya aneh-aneh. ”
“Justru di situ enaknya, Mbak. Sampai kini Mbak sama suami main seksnya bagaimana? ” tanyaku sembari menciumi payudaranya.
“Ah malu. Kami main konvensional saja kok. ”
“Langsung tusuk demikian tujuannya.. ”

“Nakal kau ini”, tuturnya sembari tangannya mengelus-elus penisku yang tetap masih tegak berdiri.
“Suami Mbak mainnya lama tidak? ”
“Ah.. ” dia tersipu-sipu. Mungkin saja malu untuk mengungkap.
“Pasti Mbak tidak sempat senang ya? ”

Mbak Sus tidak menjawab. Dia jadi menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku juga ganti-berganti memainkan ke-2 payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Saya tahu, wanita itu telah kepengin disetubuhi. Tetapi saya berniat membiarkan dia jadi penasaran sendiri.

Namun lama-lama saya tidak tahan juga. Penisku juga telah menginginkan selekasnya menggenjot vaginanya. Pelan-pelan saya mengarahkan barangku yang kaku serta keras itu ke arah selangkangannya. Saat mulai menembus vaginanya, kurasakan badan Mbak Sus agak gemetar.

“Ohh.. ” desahnya saat sedikit untuk sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Sesudah semua barangku masuk, saya selekasnya bergoyang naik turun diatas badannya. Saya semakin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, serta ke-2 payudaranya yang turut bergoyang-goyang.

Tiga menit sesudah kugenjot Mbak Sus menjepitkan ke-2 kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Nampaknya dia juga akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.

“Ooo.. ahh.. hmm.. sshh.. ” desahnya dengan badan menggelinjang menahan kesenangan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia nikmati orgasmenya sebagian waktu. Kuciumi pipi, dahi, serta semua berwajah yang berkeringat.

“Enak Mbak? ” tanyaku.
“Emmhh.. ”
“Puas Mbak? ”
“Ahh.. ” desahnya.
“Sekarang Mbak berbalik. Menungging. ”

Saya mengatur tubuhnya serta Mbak Sus menurut. Dia saat ini bertumpu pada siku serta kakinya.
“Gaya apa sekali lagi ini? ” tanyanya.
“Ini style anjing. Senggama lewat belakang. Tentu Mbak belum juga sempat. ”

Sesudah siap saya juga mulai menggenjot serta menggoyang dari belakang. Mbak Sus kembali menjerit serta mendesah rasakan kesenangan tidak ada tara yang mungkin saja sampai kini belum juga sempat dia peroleh dari suaminya. Sesudah dia orgasme hingga 2 x, kami istirahat.

“Capek? ” tanyaku.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Hingga ingin remuk tulang-tulangku. ”
“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sembari kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

“Kita teruskan kelak malam saja ya. ”
“Ya deh bila lelah. Tapi tolong lagi, saya pengin masuk supaya spermaku keluar. Nih telah tidak tahan sekali lagi penisku. Saat ini Mbak yang di atas”, kataku sembari mengatur tempatnya.

Saya terletang serta dia menempati pinggangku. Tangannya kubimbing supaya memegang penisku masuk ke selangkangannya. Sesudah masuk badannya kunaikturunkan selaras genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak ikuti irama goyanganku yang semakin lama semakin cepat.

Di Baca Juga Cerita Unik!!! Alasan Kenapa Pria Menyewa Jasa Kupu-Kupu Malam (PSK)!
Payudaranya yang turut bergoyang-goyang menaikkan gairah nafsuku. Terlebih ditingkah lenguhan serta jeritannya mendekati hingga puncak. Saat dia menjangkau orgasme saya belum juga apa-apa. Tempatnya selekasnya kuubah ke style konvensional.

Mbak Sus kurebahkan serta saya menembaknya dari atas. Mendekati klimaks saya tingkatkan frekwensi serta kecepatan genjotan penisku.

“Oh Mbak.. saya ingin keluar nih ahh.. ”
Selang beberapa saat spermaku muncrat didalam vaginanya. Mbak Sus lalu menyusul menjangkau klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya demikian hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam tempat relaksasi sesuai sama itu.

“Vaginamu masik nikmat Mbak”, bisikku sembari mencium bibir mungilnya.
“Penismu juga nikmat, Dik. ”
“Nanti kita main dengan beberapa macam style sekali lagi. ”
“Ah Mbak memanglah kalah pandai di banding anda. ”

Kami berpelukan, berciuman, serta sama-sama meremas sekali lagi. Seperti tidak bebrapa senang rasakan kesenangan beruntun yang barusan kami rasakan.

“Mbak bila pengin katakan saja ya. ”
“Kamu juga. Bila menginginkan ya segera masuk ke kamar Mbak. Namun sst.. bila cocok aman lo. ”
“Mbak ingin tidak main ramai-ramai? ”
“Maksudmu bagaimana? ”

“Ya umpamanya saya mengajak satu diantara rekan serta kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tidak cukup bila hanya dilayani satu cowok. ”
“Ah anda ini ada-ada saja. Malu ah.. ”
“Tapi ingin coba kan? ”

Mbak Sus tidak menjawab. Dia jadi lalu menciumi serta menggumuli saya habis-habisan. Ya saya terangsang sekali lagi jadinya. Ya penisku tegak sekali lagi. Ya pada akhirnya saya harus menggenjot serta menembaknya hingga dia orgasme sekian kali. Ah Mbak Sus, Mbak Sus.
“ Janganlah kak, saya masih tetap perawan! ”, Nah inilah! saya membujuk Vina dengan rayuan-rayuan manis. Vina terdiam pasrah. Saya tusuk penis saya yang besar itu yang panjangnya 16 cm serta diameter 5 cm ke vaginanya yang kecil sempit tanpa ada bulu itu! Susah sekali awalannya tapi saya tidak menyerah.

Saya lebarkan ke-2 kakinya sampai ia begitu mengangkang serta vaginanya sedikit terbuka sekali lagi, saya hentakkan dengan kuat pantat saya serta pada akhirnya kepala penis saya yang besar itu berhasil menerobos vaginanya!

Vina mencakar tangan saya sembari berkata “ sakitttt!!! ” saya tidak perduli sekali lagi dengan rintihan serta tangisan Vina! Telah sepertiga penis saya yang masuk. Saya dorong-dorong sekali lagi penis saya kedalam lobang vaginanya serta pada akhirnya amblas semuanya! Serta seperti permainan seks biasanya, saya tarik-dorong, tarik-dorong, tarik-dorong, terus-menerus!

Vina pejamkan matanya sembari menggigit bibirnya. Tangan saya tidak tinggal diam, saya remas ke-2 buah dadanya dengan begitu kuat sampai ia kesakitan serta saya tarik-tarik pentilnya yang kuning kecoklatan itu kuat-kuat! Saya memainkan irama cepat saat penis saya menghujam vaginanya.

Baru 5 menit saya rasakan cairan hangat membasahi penis saya, tentu ia menjangkau puncak kenikatannya. Sesudah bermain 15 menit lamanya, saya rasakan sudah menjangkau puncak kesenangan, saya tumpahkan air mani saya dalam vaginanya sampai tumpah ruah. Saya senang sekali! Saya peluk Vina serta mencium bibir, kening serta lehernya. Saya tarik penis saya serta saya lihat ada cairan darah di sprei kasurnya. Habislah keperawanannya!.

Kemudian saya segera kenakan pakaian karna takut ketahuan. Saya ambillah uang 300. 000 rupiah dari saku saya serta saya beri ke Vina,

Dibaca Juga Cerita Unik!!! Inilah Beberapa Boneka Seks Paling Realistis Dan Canggih Di Dunia
“ Vina, ini untuk uang jajanmu, janganlah katakan ke siapapun juga yah “, Vina cuma terdiam saja sembari menundukkan kepala serta menutupi ke-2 buah dadanya dengan bantal. Saya segera keluar kamar serta menanti saja dimuka pintu masuk.

Sekitaran 10 menit lalu Heru serta Arman turun sembari menggotong lukisan serta patung. Nyatanya mereka transaksinya tidak cuma lukisan serta patung saja tapi termasuk juga barang-barang antik yang lain. Pantasan saja mereka lama!

Pada akhirnya saya serta Arman permisi ke Heru serta ke ke-2 satpam itu. Kami pergi meninggalkan tempat tinggal itu. Arman senang dengan transaksinya serta saya senang sudah merenggut keperawanan adik Heru.

Main Bola Online Di Sini, Mudah Menang Setiap Hari.