BandarColi

Cerita Sex Perawan, Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex ABG, Aku dan Mamaku, Cerita Sex 2018, Cerita Bokep

Showing posts with label Bandar Kiu. Show all posts
Showing posts with label Bandar Kiu. Show all posts

Monday, March 4, 2019


CeritaDewasa - Cerita Bokep Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela. Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam.

Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.

Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin. kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.

Aku tersentak. Masih melongo.

Itu jendelanya dirapetin dikit.., katanya lagi.
Ini..? kataku.
Ya itu.

Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.

Terima kasih, ujarnya ringan.

Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curicuri pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.

Saya juga tidak suka angin kencangkencang. Tapi saya gerah. meloncat begitu saja katakata itu.

Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Lalu asyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.

Kantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita itu mengetuk langitlangit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun.

Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau mau gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Sial. Dadaku tibatiba berdegupdegup.

Bang, Bang kiri Bang..!

Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?

Pelanpelan suaranya kan bisa Dek, sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.

Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tibatiba keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedipkedipin mata, maksudnya apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku merah padam. Lho, salon kan tempat umum. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon kubuka.

Selamat siang Mas, kata seorang penjaga salon, Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?

Massage, boleh. ujarku sekenanya.

Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekatsekat, tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau janganjangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya purapura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu.

Tapi tidak apaapa toh tipuan ini membimbingku ke alam lain. Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.

Buka bajunya, celananya juga, ujar wanita tadi manja menggoda, Nih pake celana ini..!

Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menurut saja. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.

Tunggu ya..! ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.

Mbak Wien.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruang sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.

Kembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langitlangit ruangan. Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletakpletokpletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdegup lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.

Halo..! suara itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulubulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.

Mau dipijat atau mau baca, ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, Ayo tengkurep..!

Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh.

Ia menekannekan agak kuat. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.

Balik badannya..! pintanya.

Aku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apaapa. Aku pun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya.

Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai. Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.

Di kantor, aku masih terbayangbayang wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya, dari rumah kuitungitung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa aku berangkat.

Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Ini garagara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari esok.

Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.

Mas Tut.. hah..? suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tidak pasang wajah perangnya.

Kayak kemarinlah.., ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.

Begitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Atau janganjangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.

Mbak Wien.., gumamku dalam hati.

Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Mengapa kancing baju cuma tujuh?

Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapakbapak di sebelahku juga bisa. Begini saja daripada repotrepot. Anggap saja tiaptiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.

Kiri Bang..!

Aku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apaapa, hitunghitung olahraga. Hap. Hap.

Mau pijit lagi..? ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.
Ya.

Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perlu diantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kemudian menyerahkan celana pantai.

Mbak Wien, pasien menunggu, katanya.

Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Suara pletakpletok mendekat.

Ayo tengkurap..! kata wanita setengah baya itu.

Aku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benarbenar pegal, sehingga terbuai pijitannya.

Telentang..! katanya.

Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermainmain di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapa begitu cepat.

Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudah mengeras. Betulbetul keras. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Tetapi eh.., diamdiam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.

Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Aku dipermainkan seperti anak bayi.

Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisasisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.

Bau tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuatkuat aroma itu. Ia tersenyum ramah. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.

Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Junior berdenyutdenyut. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Kini pindah ke paha sebelah kanan.

Ia tepat berada di tengahtengah. Aku tidak menjepit tubuhnya. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi, bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadangkadang tanpa tujuan jelas bolakbalik ke ruang pijat.

Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Tidak terlalu ayu. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.

Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia terus mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak berani. Ciut. Si Junior tibatiba juga ikutikutan ciut. Tetapi, aku harus berani. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.

Aku harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitung kancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku harus memulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang.

Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlamalama membersihkan bagian belakang pahaku. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ayo..!

Aku masih diam saja. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkan kesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.

Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.

Aku hanya mendengus. Membuang napas. Sudahlah. Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletakpletok terdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tetapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku masih mematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.

Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan, katanya.

Ia mencaricari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.

Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.

Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Ini kesempatan kedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagi yang dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!

Mbak.., pahaku masih sakit nih..! kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.

Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang pahaku, Yang mana..?

Yes..! Aku berhasil. Ini.., kutunjuk pangkal pahaku.

Besok saja Sayang..! ujarnya.

Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.

Yang ini atau yang itu..? katanya menggoda, menunjuk Juniorku.

Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan anakanak yang dituip melembung. Keras sekali.

Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.

Ia berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Yes. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku menggelepar.

Sst..! Jangan di sini..! katanya.

Kini ia tidak malumalu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Lalu dikocokkocok sebentar. Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.

Jangan di sini Sayang..! katanya manja lalu melepaskan sergapanku.
Masih sepi ini..! kataku makin berani.

Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.

Besar ya..? ujarnya.

Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengahengah, ia menikmati dengan mata terpejam.

Mbak Wien telepon.., suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.

Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.

Ngapaian sih di situ..? katanya lagi seperti iri pada Wien.

Aku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, Telepon aku ya..!

Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Pasti terburuburu. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomornomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior.

Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien. Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.

Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentar ya..!

Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.

Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncahbuncah. Wien datang. Kami seperti tidak ingin membuang waktu, melepas pakaian masingmasing lalu memulai pergumulan.

Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titiktitik yang harus dituju. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Bergantian Wien kini telentang.

Pijit saya Mas..! katanya melenguh.

Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu vaginanya, basah sekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Lalu mengangkang.

Aku sudah tak tahan, ayo dong..! ujarnya merajuk.

Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.

Ah.. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Aku hanya main dengan tangan. Kadangkadang ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ya sekarang..! pintanya penuh manja.

Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!

Mbak Wien, telepon. kataku.

Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku mengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.

Ya sekarang Sayang..! katanya.
Halo..? katanya sedikit terengah.
Oh ya. Ya nggak apaapa, katanya menjawab telepon.
Siapa Mbak..? kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.

Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu, kata Wien.

Setelah beberapa lama menyodoknya, Terus dong Yang. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..! dia mendesah keras.

Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.

Yang.., cepatcepat berkemas. Sebentar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.

CeritaDewasa -  Tentu saja kedatanganku disambut gembira oleh pasangan muda itu, terutama oleh kakakku, Mbak Elin (nama samaran). Kelihatannya ekonomi kakakku masih paspasan. cerita sex Rumah yg dikontrak adalah rumah petak dan hanya berkamar tidur satu, ruang tamu kecil dan ruang makan merangkap dapur, serta kamar mandi kecil. Dgn kondisi rumah seperti itu, aku terpaksa tidur bersamasama Mbak Elin dan suaminya Mas Ari.

Aku tidur di sebelah kanan, Mbak Elin di tengah dan Mas Ari di sebelah kiri. Malam itu aku berbincangbincang dgn kakakku sampai larut malam, kulihat Mas Ari sdh tertidur lebih dulu. Sampai akhirnya kami kehabisan cerita dan tertidur. Kurang lebih jam 04:00 pagi Mbak Elin bangun dan keluar kamar untuk urusan dapur. Aku tahu ini adalah kebiasaan sewaktu remaja. Dia selalu bangun paling awal.

Cerita dewasa terbaru, Sebenarnya aku jg terjaga ketika ia turun dari tempat tidur, tetapi aku tetap di tempat tidur karena malas. Dalam keremangan lampu 5 watt, kulirik Mas Ari kakak iparku yg masih kelihatan tidur pulas di sebelahku tanpa terhalang oleh tubuh Mbak Elin, walaupun jarak kami cukup jauh.Dalam tidurnya yg telentang dgn mengenakan piyama warna abuabu, tanpa sengaja kulihat ke arah selangkangannya. Kulihat sesuatu yg mencuat tinggi dari balik celananya.

Hatiku berdesir ada perasaan hangat menyelusuri tubuhku, kutahan nafasku. Aku tdk berani bergerak dan aku tetap purapura tidur walaupun kupincingkan mataku untuk menikmati pemandangan yg syuur itu. Tibatiba Mas Ari membalikkan badan menghadap ke arahku, kupejamkan mataku. Aku purapura masih tertidur lelap. Tibatiba kurasakan tubuh Mas Ari digeserkan mendekatiku, entah disengaja atau tdk, tetapi gerakannya sangat hatihati, mungkin takut aku terbangun.

Aku tetap purapura masih tidur dalam posisi telentang, jantungku berdegup keras, aku tdk tahu apa yg harus kuperbuat. Kuatur nafasku, ingin rasanya aku melompat turun dan keluar kamar. tetapi desiran hangat yg mempercepat peredaran darahku membuatku mengurungkan niatku.Tangan Mas Ari seperti tanpa sengaja menempel ke tanganku, aku tetap tdk bergerak. Tdk berapa lama, kurasakan tangannya menindih tanganku, dan itu cukup lama sampai aku bingun harus berbuat apa. Ketika dilihatnya aku diam saja, kurasakan dia mulai mengelus lengan dgn lembut dan kurasakan kehangatan yg sangat menyenangkan.

Tangannya terus mengelus ke atas leherku, aku menahan kegelian. Melihatku diam saja, Mas Ari semakin berani dan tangannya mulai turun untuk merabaraba buah dadaku dari luar daster. Tdk lama kemudian, tali daster dan tali BHku diturunkan dan tangannya menerobos masuk ke dalam buah dadaku. Aku menggelinjang ketika jarinya meremas buah dadaku dgn lembut, dan mengeluselus puting susuku.

Nafasku memburu, aku makin terangsang, bahkan Mas Ari tanpa sadar telah merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kaki kirinya telah menindih kedua lututku yg diam tak dapat berontak, karena hasratku membuatku bingung. Kurasakan penisnya yg telah mengeras di balik piyamanya menempel ketat di pinggul kiriku. Dan aku masih purapura tidur.

Dilepaskan tangannya dari BHku, tangan kirinya merayap di pahaku, lalu menyusup di bawah daster dan mengelus paha atas bagian dalam dan akhirnya berhenti di pangkal paha. Dielusnya dgn lembut bibir kemaluanku yg masih rapat terbungkus dgn celana dalam, kurasakan kehangat dan perasaan nikmat mengalir di dalam dinding kemaluanku.

Elusan di atas celana di depan memek, kadangkadang diselipkan jari tanganya dari samping celanaku membuat dinding memekku berdenyut lembut dan enak. Aku merasakan bahwa kepunyaanku sdh basah. Tiba saatnya Mas Ari memasukkan tangan kirinya ke dalam celanaku melalui pusar, ketika itu aku sadar dan aku takut kalau Mbak Elin tibatiba masuk, maka kupegang tangannya dan kutahan agar Mas Ari tdk meneruskan niatnya. tetapi tangannya tdk mau keluar dari celanaku dan aku tetap menahannya.

Kubuka mataku, kutatap wajahnya. Mas Ari tersenyum, tetapi aku tdk dapat membalas senyumnya. Aku ingin marah kepadanya atas kelancangannya, tetapi aku tdk dapat, karena dalam gejolak rangsangan yg membuaiku sebenarnya aku sdh kehilangan rasioku. Aku menikmatinya dan penolakanku lebih bersifat kekhawatiranku akan munculnya Mbak Elin dari pintu kamar yg tdk terkunci. Dalam keadaan demikian kuarahkan pandanganku ke pintu kamar. Mas Ari menangkap apa yg kumaksud.

Ditariknya tangannya dari celanaku, dan dia segera turun dari tempat tidur dan segera menguncipintu kamar. Aku tdk tahu apa yg harus kuperbuat, seharusnya aku bangun dari tempat tidur dan segera keluar kamar, sehingga dapat terhindar dari perbuatan Mas Ari yg lancang itu, tetapi tdk. Bagian dalam memekku masih berdenyut dgn lembut, aliran darahku dan birahiku masih belum turun dari kepala. Sensasi ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dgn pacarku saja aku masih sebatas bergandgn tangan saja. Entah apa yg kubayangkan saat itu.

Kubalikkan tubuhku menghadap tembok membelakangi Mas Ari yg kembali dari arah pintu. Direbahkannya tubuhnya rapat di belakangku sambil menarik pundakku ke arahnya, sehingga aku kembali dalam posisi telentang dan dia mencoba menciumku, tetapi aku menghindar dari ciumannya. Kugelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, sampai akhirnya Mas Ari bisa menangkap mulutku dgn mulutnya. Saat itu aku sdh tdk dapat lagi menahan kuasa nafsu birahi dari dalam tubuhku yg masih perawan ini.

Itulah pertama kalinya aku dicium oleh seorang lakilaki, aku masih bodoh ketika dia menyedot dan menjilat bibirku. Aku tdk memberikan tanggapan yg seharusnya wanita berikan ketika dicumbu seorang lelaki, aku masih kaget, nafasku tdk beraturan, tetapi nafsuku bangkit kembali. Tanpa sadar kupeluk pundaknya eraterat ketika tangannya meremasremas buah dadaku. Kurasakan payudaraku mulai mengeras, apalagi ketika puting susuku dipelintir ke kanan dan ke kiri berulangulang dgn lembut. Sensasinya sungguh diluar dugaanku.

Ketika bibirnya mulai menjalar ke leherku, tangannya pindah dari dada ke arah selangkangan, kubiarkan Mas Ari membuka ujung bawah daster dan menelusup ke bawah celana dalam. Diusapusapnya rambut kemaluanku untuk beberapa lama, dan kemudian jari tangannya mulai terasa menggesek dinding memek dan kemudian ke atas ke arah klitoris.
Aaahh.., ada rasa ngilu yg sangat nikmat.

Beberapa lama jarinya mengelus dan menggeletarkan klitorisku, tanpa sadar kuikuti iramanya dgn menggoyang pingulku. Kenikmatan sdh menjalar ke seluruh kelamin, ke pinggul dan bahkan ke bagian pantatku. Aduh nikmat sekali.

Aku merintih dan mendesah pelan penuh kenikmatan. Ketika Mas Ari menarik tangannya dari dalam celana, aku merasa kecewa, ternyata tdk, ia ternyata melepaskan celananya ke bawah sehingga penisnya yg telah berdiri dgn kokoh menyeruak keluar. Kepala yg membesar telah mengkilat. Dibimbingnya dgn lembut tangan kiriku ke arah penisnya dan aku tdk kuasa lagi menolaknya. Kugenggam dan kuremasremas dgn lembut batang panjangnya.

Inilah pertama kalinya aku melihat sekaligus menyentuh alat kelamin seorang lakilaki. Dadaku bergetar penuh birahi, kemudian ketika jarinya kembali memainkan klitorisku, sedang jari lainnya semakin masuk ke dalam liang senggamaku, maka kukocok penisnya semakin cepat.

Kudengar nafasnya memburu disertai desis yg pendek dari mulutnya. Dinding dalam liang kewanitaanku berdenyut semakin dalam. Kujepit jarinya dgn bibir bawahku, aku tdk tahan lagi, kenikmatan sdh menjalar hingga ujung rambut. Tibatiba denyutan yg kuat datang dari arah liang rahimku. Aku menahan nafas, aku menggelinjang dan kujepit jarinya dgn kuat. Aku telah mencapai puncak, liang kewanitaanku berkedutkedut dgn kuat.

Aahh.., dan pada saat yg hampir bersamaan, Mas Ari menekankan pinggulnya ke pahaku, dan penis yg berada dalam genggamanku terasa berkedutkedut dgn kuat, dan kurasakan air maninya memancar dan membasahi pahaku.


Aaahh.., hanya desisan yg dapat kukeluarkan dari mulutku.

Beberapa detik aku tergeletak dgn lemas berdampingan dgn tubuh hangatnya Mas Ari. Dgn malas aku bangun, kubuka pintu kamar dan segera aku ke kamar mandi. Aku takut bertemu Mbak Elin yg masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi kami.

Saat di kamar mandi, aku sempat membayangkan sensasi kenikmatan yg berlangsung beberapa menit yg lalu. Ada perasaan senang bercampur dgn perasaan takut bergejolak di dalam diriku saat kubersihkan kemaluanku di kamar mandi. Mas Ari masih telentang di tempat tidur sambil tersenyum menatap wajahku ketika aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke dapur membantu Mbak Elin yg tdk mengetahui adanya sensasi indah di kamar itu.

Hari itu jg kuputuskan aku harus kembali ke kotaku, aku tdk mau hal itu terjadi lagi. Bukan aku tdk menyukainya, tetapi aku tdk ingin rumah tangga kakakku menjadi berantakan garagara kehadiranku yg membangkitkan birahi suaminya. Mbak Elin kaget ketika aku pamitan untuk pulang. Aku memberikan alasan bahwa ada tugas kuliah yg lupa kuselesaikan.

Meskipun apa yg kulalui saat itu tdk merusak keperawanan yg kumiliki, tetapi itu merupakan pengalaman pertamaku dalam menikmati sensasi seks yg sebenarnya.



CeritaDewasa - Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak bisa konsentrasi sedikitpun, yang aku pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk. “Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..” “Eh.. apa? Iya, iya aku nggak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru- buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kami pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak bisa lepas melirik kepahanya. Sesampainya dibioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket aku peluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian aku dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang- kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja aku selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung diisap dengan kuat oleh Rani. Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu. Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap- usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi telingaku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus- elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudian aku putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba- tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak- sentak beberapa saat. “Dodi.. aduuhh.., aku nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..”, rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya. “Dodi.., sekarang aku mainin punya kamu yaahh..”, katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu dia dengan aku buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. “Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..”, rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. “Rani.., teruskan sayang..”, kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekal i karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana. “Rani.., aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..”, kataku dengan suara yang nggak yakin, karena masih keenakan. “Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kamu ini bikin aku gemes..”, rengeknya “Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh nyium itunya yah..”. Aku pengin segera sampai ke rumah. Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan aku ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani aku bimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri aku ciumi bibirnya, aku lumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak sabar BH- nya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok di karpet. Badannya yang telanjang aku peluk erat- erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas. Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan- pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penisku sampai terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan- tekan agar penisku semakin terasa nikmat. Isapan mulut dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat. Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan ras a nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus mengisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya nggak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal- sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam. “Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik “Ah.., aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu..”. Kemudian ujung hidungnya aku kecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan aku ciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi sampai merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampai mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian. “Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss.., aahh.., sayaangg..”, mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang- goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya aku lipat ke atas, aku pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku aku selip- selipkan ke lubangnya, aku kait-kaitkan, aku gelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya aku putar dengan lidah, aku isap, aku sedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut. “Dodii.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..”, rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian aku lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku aku usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya. “Ranii.., aahh.., enakk.., aahh..” “aahh.., iya.., eennaakk sekalii..”. Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke liang senggamanya. “Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..”, rintihnya “Tahan dulu sebentar.., Nanti juga ilang sakitnya..”, kataku membujuk Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian aku tekan lagi, aku keluarkan lagi, aku tekan lagi, kemudian akhirnya aku tekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah nggak bisa bersuara. Punggungnya terangkat dari karp et menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan lagi, aku dorong lagi, aku keluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini aku dorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama- sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka aku ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat. Kami sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat. “Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampir niihh..”, rintihnya. “Iya.., nihh.., tahan dulu.., aku juga hampir.., kita bareng ajaa..”, kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya. Penisku makin keras kuhujam- hujamkan ke dalam liang surganya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat..”. “Raanii.., aku mau keluar niihh..”. “Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh”. Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya. “aahh.., aahh.., aahh..”, kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan- nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas- remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun. “aahh.., aahh.., aduuhh..”, kita sudah nggak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan. Ketika sudah mulai kendur, aku ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Aku ciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku aku cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.



CeritaDewasa - Kali ini akan menceritakan tentang seorang tante tante cantik, menurutku kisah ini memang mengundang sensasi yang beda. Seperti kisahku dengan Tante Nuna, sebuah hubungan yang tidak didasari rasa cinta, mutlak hanya seks. “Kriing..” jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata. “Wah gawat, telat nih” dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.

Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Nuna. Tinggi badan seratus enam puluh delapan, payudara tiga puluh empat, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Nuna, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Nuna mempunyai dua anak perempuan Dini dan Devi. Dini sudah kelas dua SMA dengan tubuh yang langsing, payudara Tiga puluh enam B, dan tinggi seratus enam lima.

Sedangkan Devi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas tiga, tinggi seratus enam puluh delapan dan payudara tiga puluh enam. Setiap aku berada di rumah tante Devi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Nuna di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk lima hari. Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Nuna. Setelah perjalanan Lima belas menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Devi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Nuna belum berangkat kerja. “Met pagi semua” aku ucapkan sapaan seperti biasanya. “Pagi, Mas lukman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?” Devi membalas sapaanku. “Iya nih kesiangan” aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga. luk, kamu antar Dini dan Devi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh.” Dari dapur tante menyuruh aku. “OK Tante” jawabku singkat. “Ayo duo cewek paling manja sedunia.” celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Devi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar. “Daag Mas lukman, nanti pulangnya dijemput ya.” Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan. Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Nuna. Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Nuna masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Nuna tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya.

Ternyata tante Nuna sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan. Terdengar suara desahan lirih, “hmhmhmhmmmm, ohh, arhh”. Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Nuna ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Nuna, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Nuna berhubungan badan denganku. “Lho luk, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Nuna mengagetkan aku. “Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Nuna sambil masuk kamar. Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Nuna berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur. “hmhmhmhmmmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Nuna sudah berbaring disebelahku sambil tangannya memegang Penis dari luar sarung. “Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Penis menegang 90%. “Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.” Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja. “Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Penis mu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya. “Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian lukman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya. “Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah. “Iya, tadi lukman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah. Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang sepuluh menit.

Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Penis di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah. “Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya. “Emm.., nggak kok tante. Maafin lukman ya.” aku semakin salah tingkah. “Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan. “Maksud lukman, nggak salahkan kalau lukman pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku. Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan. “Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli luk.” tante Nuna merengek perlahan. “hmhmhmhmmmm..shh” tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya. Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal Celana dalam yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Nuna. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras. “hmhmhmhmmmm, boleh juga nih.
Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Penis yang belum pernah dilihatnya. “Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku. Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal Celana dalam yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum. “Wah, rupanya tante punya Penis lain yang lebih gedhe.” Gila tante Nuna ini, padahal Penisku belum besar maksimal karena terhalang Celana dalam. Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas Celana dalam ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Penis yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya. “Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya. “Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku. “Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi. Tante masih terkesima dengan Penisku yang mempunyai panjang empat belas cm dengan diameter emapt cm. “Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Penisku.” Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya. “hmhmhmhmmmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat ujung Penis Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Penis “Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau. Lalu aku tarik kepala tante Nuna sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas Celana dalam tante Nuna. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu.

Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga. “Ayo luk, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya. “OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih. “Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku. “Hh.. mm.. enak luk, terus luk.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur. Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Nuna. “Ahh..luk..shh..lukr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras. “Ahh..” erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang. Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya. “hmhmhmhmmmm..kamu pintar luk. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan manja tante memeluk tubuhku. “Ehh, gimana ya tante..” aku ngomgong sambil melirik ke Penis ku sendiri. “Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Penisku masih berdiri tegak dan belum puas. Dipegangnya Penis ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Penis. Setelah lebih kurang lima belas menit tante berhenti mengocok. luk, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Penisku. Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Nuna, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Penis ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan. “Tante siap ya, aku mau masukin Penis” aku memberi peringatan ke tante. “Cepetan luk, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Penis. Dengan pelan aku dorong Penis ke arah dalam vagina tante Nuna, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Penis sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak.

Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru. luk, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan. “Ahh.. shh mm, tante ini cara lukman agar tante juga merasa enak” Aku membalas omongan tante. Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Penis ke dalam vagina tante. “Ahh..” kami berdua melenguh. Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Nuna ini masih kencang, pada saat aku menarik Penis bibir vaginanya ikut tertarik. “Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante Nuna semakin menambah rangsangan. Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh.. luk tante nyampai lagi” Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Penis masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Nuna, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Penis. “Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante. “Di dalam aja luk, tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun. Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol. “Arghh.. tante aku nyampai”. “Aku juga luk.. ahh” tante juga meracau. Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. Setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra. luk, kamu hebat.” puji tante Nuna. “Tante juga, vagina tante rapet sekali” aku balas memujinya. luk, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante. “Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku balik bertanya. “Gak apa-apa luk, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku. Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi. Itulah pengalamanku dengan tante Nuna. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur empat puluhan-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Nuna menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya , karena teman tante nuna pada penasaran dengan diriku seringkali aku di kejar kejar dengan cara yang berbeda beda.



CeritaDewasa - Namaku julia , usiaku 17 tahun . disekolah aku terkenal dengan sebutan dengan mekde (memek gede). patutlah, karena ukuran bhku 35 diumur yang masih belia ini. suatu hari aku sedang berjalan pulang kerumah sambil memainkan smartphone ku.

tiba2 aku menabrak seorang omom atletis yang memiliki wajah tampan nan menggoda. tanpa sengaja birahiku naik saat memandangi om itu mulai dari atas , rambutnya nan modis , mukanya nan rupawan yg ditumbuhi kumis yang jarang, otot lengan yang terlihat kekar , dada bidang , perut sixpack dan dengan terkejut mataku memandangi celananya yang tersembul penisnya yang kulihat menegang , aku melihat arah penisnya menuju ikat pinggang yang dipakai om itu. tibatiba om itu sedikit melongggarkan ikat pinggangnya sehingga tersembul bagian penisnya sekitar 5 cm .

dengann iseng aku menanyakan pada om itu

itu apa pak? kataku sambil menunjuk penisnya yang tersembul.
yang mana? jawabnya .

Aku semakin tidak karuan, lalu aku menyentuh penisnya yang tersembul itu. dan dia sedikit kaget, lalu memegang kepala penisnya dan memasukkannya kedalam celananya tanpa malu. aku kembali melihat celananya yang menonjolkan penisnya yang sekarang terkapak menyilang kesebelah kiri .

itu penis , kamu mau?
mmmm mauu jawabku spontan tanpa berpikir panjang.
om jga mau sama payudara kamu yg overbig itu tapi om akan bersetubh sama kmu klo ketemu lagi nanti.
kok gitu? sekarang aja?. tanpa menjawab om itu berlalu pergi sambil menunjukkan senyuman dan tatapan menggoda.

setelah pertemuan pertama itu , aku tidak lagi ketemu dengan om itu , aku bahkan sering duduk ditempat aku bertemu om itu sepulang sekolah. aku jadi ingat saat aku bersetubuh dengan anak basket yang juga atletis dan tampan itu , tapi sayng penisnya sebesar setengah puntung rokok. sampai suatu hari aku sedang jalan jalan sore sendirian disekitar kompleksku dan kompleks sebelah .

setibanya dikompleks sebelah aku istirahat dan duduk di depan sebuah rumah mewah. seseorang tampak keluar dari rumah itu. aku sangat kaget,

itu kan om yang waktu itu batinku.

om itu tampak menghampiriku dan membawaku masuk kedalam rumah mewahnya itu

gila ni om om tipe gue banget batinku lagi.

om yang setelah kuketahui bernama wijaya itu membawaku ke sebuah kamar yang kukira adalah kamarnya

om udah punya istri? tanyaku .
om duda jadi udah ada pengalaman om wijay langsunga membuka kancing kemeja nya satu persatu lalu membukanya sehingga menampakkan perutnya yang sixpack sempurna dan ototnya yang kekar.

om wijaya menyuruhku mendekat, lalu dia membuka baju kaosku dan sangat kaget melihat dua bukit besar yang siap dinikmati. dia membuka bh ku yang sempit sambil melumat bibirku. dan langsung meremas payudara ku sambil mengisapnya. lalu ia memintaku untuk membuka celananya. aku membuka celana training nya yang disambut celana dalamnya yang tidak muat menampung penisnya yang super besar itu. bahkan kali ini terlihat bagian penisnya sekitar 10 cm. ya ampun makan apa sih om ini sampai bisa sebesar itu. aku membuka celana dalamnya yang langsung terlihat penisnya yang sebesar lengan bawahku. setelah aku membuka celana dalamnya om wijaya membuka rok ku sampai celana dalam ku .

setelah selesai aku mengemut penis besarnya itu sambil mendenagar erangan om wijjaya yang masih meremas payudara ku keenakan. aku membentuk posisi doggy style yang mendorong om wijaya , melumat vaginaku.

uh.. ah.. ah.. nikmat om .. terusin desahku om wijaya makin melumat nya sampai aku mengerang keenakan lebih kencang lagi.

perlahan aku merasakan penisnya masuk ke vaginaku yang langsung pas seperti memang jodohnya. om wijay memundur majukan pinggulnya sampai aku orgasme 3 kali .

setelah kirakira 4 jam bersetubuh barulah spermanya keluar kedalam vagina ku

crot.. crot.. . benar benar om wijaya ini perkasa, setelah 4 jam baru keluar spermanya , sepertinya nafsunya sangat sangat besar. setelah kejadian itu aku terus pergi kerumah om wijaya dikomplek sebelah. dan setelah beberapa minggu kemudian aku diketahui hamil 4 hari . aku kemudian menuju rumahnya om wijaya, ia mengajakku pindah ke amerika. aku menurutinya dan meninggalkan keluargaku. kemudian kami menikah disana dan punya 10 anak kami ,4 anak om wijaya dan 3 anak ku sendiri karena kami juga bersetubuh dengan orang lain.



CeritaDewasa - “Pak, antar saya ke rumah sakit di pluit ya. Yang cepat ya.” Kata gua ke begitu menaiki mobil. “Baik pak.” Kata si supir gua. Setelah sampai di rumah sakit, dengan terburu buru gua langsung menuju ke kamar 402. Mata gua langsung tertuju ke seorang pria yang tengah berbaring di ranjang pasien yang masih tidak sadarkan diri. “Gimana ceritanya sampai bisa begini Vin?” tanya gua ke seorang gadis yang duduk didekatnya. “Aku juga ga tau om Erwin. Pas aku masuk kamar papa, aku lihat papa sudah pingsan. Aku ga tau harus gimana.

Aku kan ga kenal siapa siapa di sini, jadi Cuma om yang bisa aku mintai tolong.” Kata Vinca menangis kecil. Jadi sebenarnya pria yang sedang pingsan ini adalah Roy. Dia adalah teman yang sekaligus bekerja sebagai bawahan gua. Karena gua dan Roy cukup dekat, maka sesekali gua main ke rumahnya sehingga gua cukup kenal dengan anaknya yang bernama Vinca. Sepengamatan gua, Vinca adalah anak yang cukup ceria. Wajahnya cantik dan badanya masih sangat seksi menggoda. Maklum saja, usianya baru menginjak 19. “Gapapa Vinca. Apa kata dokter?” tanya gua. “Kata dokter papa kena serangan jantung. Terus pas jatuh tampaknya ada benturan di kepalanya dan dokter masih memeriksa untuk lebih detailnya.

Untung aku ikutin cepet ikutin saran om untuk dibawa kesini. Kalau engga mungkin papa udah ga ada.” Kata gua. “Terus kapan papa kamu sadarkan diri?” tanya gua. “Dokter juga belum bisa tau pasti. Tapi mungkin papa harus inap disini untuk seminggu pertama untuk mneghindari hal hal yang ga diinginkan.” Kata Vinca sedih. “Ya sudah. Kamu ikutin saja kata dokter.” Kata gua sambil menepuk pundak Vinca. “Itu …. “ kata Vinca pelan dan ragu ragu. “Ada apa Vin?” tanya gua. “Masalah biaya om. Pihak rumah sakit perlu jaminan sampai 100 juta untuk mengcover biaya papa. Dan aku sudah harus menyetornya paling lambat besok.” Kata Vinca memohon bantuan gua. “Masalah ekonomi ya Vin.

Kalau itu om harus cek dulu dana yang bisa om bantu. Kalau ada nanti pasti Om bantu. Tapi om ga bisa kasi jawaban sekarang.” Kata gua. “ Vinca pun menunduk lesu lagi. Terang saja dia lesu. Disini dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ibunya sudah lama meninggal dan dia juga ga memiliki saudara maupun kerabat di Jakarta. Tanpa sengaja saat menunduk melihat Vinca, gua melihat belahan toketnya dari kausnya yang sedikit terbuka. Kalau dipikir pikir wajah ni anak lumayan cantik, badanya juga seksi menggoda. Mungkin ini saat yang tepat untuk gua manfaatin. Gua pun mulai memiliki rencana kotor untuk menikmati badan dari anak temen gua.

Setelah menenangkan Vinca dan melihat Roy yang sudah ditangani dokter, gua pamit pulang sama Vinca. Setelah gua lihat, sepertinya gua masih memiliki dana cadangan yang bisa gua gunakan untuk membantu Vinca. Gua melihat kearah jam yang sudah menunjukan pukul 6 sore. Gua pun menelepon Vinca untuk menjalankan rencana kotor gua. “Halo om?” tanya Vinca. “Gimana keadaan papa kamu?” tanya gua. “Masih belum sadarkan diri om.” Jawab Vinca sedih. “Kamu sudah dapat pinjaman dari orang lain belum?” tanya gua harap harap cemas. “Belum om. Om bisa bantu kan? Please. Kalau enga besok papa bisa diusir dari rumah sakit.” Jawab Vinca sambil suaranya mulai bergetar menahan tangis. “Setelah om lihat masih ada dana yang bisa om gunakan. Kamu bisa ke rumah om sekarang untuk ambil uangnya?” pancing gua. “Bisa om! Om kasih alamat om aja. Makasi banyak om!” jawab Vinca girang begitu gua menyanggupi permintaanya.

Gua mengirimi alamat gua yang ada dibilangan Mangga Besar. Sambil menunggu kedatangan Vinca, gua memasukan uang tunai 100 juta kedalam amplop coklat. Tok tok tok. Akhirnya yang ditunggu datang juga pikir gua. Gua membukakan pintu dan mempersilahkan Vinca masuk. “Kamu sudah makan?” tanya gua. “Belum Om.” Jawab Vinca. “Ya sudah, sementara kamu lupakan masalah kamu dulu. Jangan sampai kamu ga makan dan nanti ikutan sakit.” Kata gua sambil mengajak Vinca ke ruang makan. “Tapi Om bisa bantu masalah aku kaan?” Tanya Vinca sekali lagi untuk meyakinkan dirinya. “Bisa.

Sudah kamu makan dulu aja.” Jawab gua. Kita pun makan makanan yang sudah gua pesan sebelumya. Selagi makan, gua memperhatikan wajah dan badan Vinca yang cukup tinggi. Wajahnya dilihat lihat memang cantik. Kaos ketat dan juga celana pendek yang dia kenakan membuat gua bisa dengan mudah melihat lekukan tubuh Vinca. Badanya masih ranum khas abg abg pada umumnya. Ditambah ukuran toketnya yang besar menambah keseksian badan abg yang satu ini. Selesai makan, Vinca dengan buru buru langsung kembali ke tujuan dia kemari. “Jadi om kapan bisa bantu aku?” tanya Vinca. “Ini om bisa bantu.” Kata gua sambil memegang amplop coklat yang sudah gua persiapkan. “Makasi om.” Jawab Vinca sambil tersenyum. Gua pun membalas senyuman bahagia Vinca dengan senyuman mesum.

Gua bangkit berdiri dan pindah duduk kesebelah Vinca. “Vin, papa kamu kan temen om. Jadi uang ini bukan om pinjamkan, tapi om kasih.” Kata gua. “Serius om? Makasih banyak om!” kata Vinca sambil memegang tangan gua sangking girangnya. “Tapi karena uang ini jumlahnya besar, om perlu sedikit balasan.” Kata gua. “Balasan apa aja pasti papa setuju.” Jawab Vinca yang masih belum sadar akan kemauan gua. “Kamu masih perawan kan Vin? “ tanya gua sambil meletakan tangan gua di paha mulusnya. Tidak menjawab godaan gua, Vinca langsung menepis tangan gua dan bangkit berdiri. “Aku bukan cewek kayak yang om pikir.” Jawab Vinca ketus sambil berjalan kearah pintu. “Yah, kalau kamu lebih memilih keperawanan kamu daripada nyawa papa kamu silahkan saja. Om ga larang.” Kata gua santai. Vinca terdiam sesaat. Perlahan dia berbalik badan dan kembali duduk di seberang gua. “Please om. Bukanya papa temen om. Jangan lakuin ini.” Pinta Vinca sambil mulai menangis. Tampaknya dia sadar kalau gua adalah satu satunya orang yang dia kena yang mampu untuk ngasi pinjaman dalam jumlah besar. “Dalam sehari kamu bisa dapetin uang 100 juta. Ini cara yang mudah kan.” Kata gua. “Please om. Bantu Vinca. Jangan kayak gini.” Kata Vinca mulai menangis kecil.

Vinca​


“kamu duduknya jauh banget. Om ga bisa denger.” Kata gue sambil menepuk paha gua sendiri. Vinca dengan ragu pindah ke sebelah gua. “Kok kesebelah, sini dong.” Kata gua sambil kembali menepuk paha gua. Tau kemauan gua dan ga memiliki pilihan, akhirnya Vinca duduk di pangkuan gua. Gua bisa ngerasain empuknya pantat Vinca. “Sudah jangan nangis. Om pasti bantu kok.” Kata gua berbisik di kupingnya. Tangan gua mulai memegang toketnya yang besar. “jangan jangan Om orang pertama yang ngerasain kenyelnya toket lu ya Vin?” Goda gua. “Please Om. Stop….. “ kata Vinca sambil menangis. Air matanya mulai mengalir deras.

“Mendingan kamu nikmatin aja, lagipula ngentot tu enak kok. Pasti lu suka.” Kata gue sambil meremas remas toket Vinca dan menggesekan kontol gue ke pantatnya. Mendapat pelecehan macam ini Vinca hanya bisa menangis tanpa berbuat banyak. “Kalau lu diem gini aja, kayak main sama boneka. Mending gua bawa ni 100 juta ke alexis.” Ancam gua sambil menggeser badan Vinca dari pangkuan gua. “Please jangan Om.,,, papa butuh uang itu.” Kata Vinca panik begitu mendengar gua batal membantunya. “Usaha dong. Kalau diem kaya gini mending lu cari orang lain aja untuk bantu lu. Om mau ke alexis aja.” Ancam gua. “Ampun om. Vinca ga pernah aneh aneh kaya gini. Ajarin Vinca. Please…. Vinca butuh uangnya untuk papa. “ Kata Vinca sambil memegang tangan gua.

“Ya sudah, biar om mood nya bagus lagi kamu buka baju sambil striptis. Om mau lihat.” Kata gua kembali duduk santai di sofa. “Striptis om?” tanya Vinca bingung. “Iya, Striptis. Tau kan? Joget erotis yang seksi sambil buka tu kaos dan celana.” Kata gua. Dengan ragu Vinca mulai menggoyangkan badanya dengan cukup seksi namun sangat kaku. Melihat Vinca yang sudah pasrah saja dengan permintaan gua, gua mulai mengambil HP dan merekam dia. “Jangan!” kata Vinca sambil mencoba mengambil HP gua. “Mau uangnya ga?” ancam gua.

Tau kalau dia sedang tidak dalam posisi bisa menego, Vinca kembali bergoyang. Perlahan lahan tanganya mulai menarik kaosnya keatas sampai akhirnya melepaskan kaos yang dia kenakan. “Gede banget tu toket. Hahaha.” Kata gua sambil tertawa. Spontan Vinca menutupi toketnya. “Lanjut striptisnya. Masih ada celana yang belom dibuka.” Kata gua. Sambil menahan tangis, Vinca kembali meliukan badanya dan mulai melepas celananya. Akhirnya celana Vinca pun sudah dilepas. Vinca terlihat sangat seksi dbalut BH dan kolor yang bewarna merah terang. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Postur tubuhnya yang semampai, toketnya yang besar dan bulat dan perutnya yang rata dan mulus membuat gua makin ngaceng.

Sambil memberi isyarat kepada Vinca untuk terus melanjutkan striptisnya, gua melepas pakaian gua sampai bugil. Mata Vinca melotot melihat kontol gua yang berukuran jumbo. Ekspresi mukanya semakin takut, membayangkan kontol gua yang besar ini akan menyodok masuk memeknya yang masih perawan. “Ayo joget terus sambil buka BH sama kolor lu. Udah ga sabar ni.” Kata gua sambil terus merekam. Perlahan tapi pasti, gerakan Vinca semakin lama terlihat semakin luwes. Akhirnya yang ditunggu tungu tiba.

BH merah yang dia kenakan akhirnya jatuh kelantai. Gua langsung melotot melihat pentil Vinca. Tketnya yang besar, bulat dan putih ternyata pentilnya kecil dan bewarna pink. “Pentil lu pink banget. Ga pernah dikenyot kenyot ya Vin?” goda gua. Vinca hanya terdiam sambil terus meliukan badanya. Dengan ragu, Vinca melepas kolor merah yang menjadi penutup badanya yng terakhir. Gua bisa meihat memeknya yang masihsangat rapet dan ditumbuhi sedikit bulu halus. Gue memberi isyarat ke Vinca untuk kembali duduk di pangkuan gua. “Ehm…” Desh gua pelan begitu pantat mulus Vinca menggencet kontol gua yang keras. “Ah. Sakit ya om?” kata Vinca panik mendengar desahan gua. “Enga kok sayang. Enak malahan.” Kata gua.

Gua mulai menggesekan kontol gua diantara bongkahan pantat Vinca. Rasanya nikmat banget kaya ngegesekin kontl ke kulit yang sangat mulus tapi empuk. Tangan gua juga meremas remas toket Vinca yang kenyal sambil memainkan pentil kecilnya yang bewarna pink. “Ahhh…”desah Vinca. Tampaknya gairah Vinca mulai muncul begitu pentilnya dipilin. “Vin, lu pernah masturbasi ga?” bisik gua di kupingnya. Vinca menggelengkan kepalanya. Melihat kepolosan Vinca ngebuat gua semakin bergairah. Gua langsung melumat kupingnya. “AhHHHHHH……” desah Vinca panjang begitu kupingnya gua jilatin. Gua membungkam desahan itu dengan cipokan. Mulut gua langsung melumat bibir Vinca. Awalnya Vinca hanya diam saja, namun remesan di toketnya dan juga gencarnya permainan lidah gua tampaknya membuat sisi nakal Vinca muncul. Lidah Vinca mulai menyambut lidah gua. Seolah lidah gua dan dia bergulat di dalam mulutnya. Ga Cuma sampai disitu, lidah Vinca sekarang mulai berani masuk kedalam mulut gua dan terus menjilati lidah gua.

Ga puas dengan mulut Vinca, Gua menggeser Vinca dari pangkuan gua. Gue mendorong dia sampai ketembok dan gua cupang cupangin lehernya. “Ah…..om…..”desah Vinca mendapatkan serangan dadakan. Ga lama gua kembali mengecup bibirnya dan kita kembali bermain lidah. Ludah gua dan Vinca udah sangat banyak dan sedikit meluber ke bibir kita masing masing sangking napsunya. Kepala gua mulai turun dan mulai menjilati pentil nya. “Ahhhhh” desah Vinca begitu lidah gua yang basah menjilati pentilnya. “Enak kan sayang.” Kaya gua sambil terus menyusu. Sambil mengigit kecil pentil kiri Vinca, tangan gua terus meremas remas toket kananya. “ahhhh…ahhhh.” desahan Vinca semakin menggebu mendapatkan remasan dan juga gigitan di toketnya. Jilatan gua mulai turun, dari pentilnya sekarang lidah gua udah ermain di pusarnya dan terus turun ke memeknya yang rapet.

Gua jongkong sehingga mulut gue tepat di memeknya Vinca. Tangan gua mulai membuka memeknya yang masih sangat rapet itu. Begitu mulai terbuka gue mengintip sedikit dan ternyata masih bewarna pink khas abg. Jari gua mulai memainkan tonjolan kecil yang ada didalamnya dan membuat Vinca mendesah keenakan. Gue mulai menjilati memeknya yang mulai becek sama cairan nya sendiri. “Memek kamu legit banget Vin.” Kata gua sambil terus menikmat cariran memek Vinca. Vinca mulai terbawa napsu terpendamnya.

Kaki kanan Vinca dinaikan ke pundak gua sehingga gua bisa lebih leluasa menjilati klitoris Vinca. “Ahhhhh…” leguh Vinca begitu lidah gua menyeruak masuk. “Enak kan Vin? Udah om bantu biaya papa kamu, sekarang om bantu muasin hasrat kamu.” Kata gua dan terus menjilati klitorisnya. Ga tahan dengan permainan lidah gua, Vinca memegang kepala gua erat dan terus dijejelkan ke memeknya. Melihat Vinca yang sudah menikmati dosa ini, gua semakin semangat mengorek memeknya dengan lidah. “Ahh…om Erwin!!” pekik Vinca. Cairan memeknya keuar cukup banyak kali ini. “Udah klimaks ya?” kata gua berhenti menjilati memeknya. “ahh…” Vinca hanya bisa diam sambil mencoba mengatur napasnya kembali.

Vinca duduk di lantai karena energinya terkuras saat orgasme tadi. Melihat posisi Vinca yang duduk lemas, gua langsung berdiri dan menempelkan kontol gua yang sudah keras ke depan wajahnya. “Sekarang sepongin om.” Kata gua sambil menggesekan kontol gua ke pipinya. “Vinca jijik om. Jangan.” Kata Vinca menolak untuk memasukan kontol gua ke mulutnya. “Jadi udah ga perlu uang?” kata gua kembali mengancam dan menjauh dari Vinca. Takut kehilangan bantuan, Vinca langsungmemeluk kaki gua dan mengecup batang kontol gua. “Gitu dong. Sekarang jilatin batang nya dulu.” Kata gua memberi arahan kepada Vinca yang masih pemula.

Dengan ragu Vinca mulai menjilat batang kontol gua. Lidahnya perlahan lahan bergerak menjilati mulai dari bawah ke atas dan semakin lama semakin cepat. “Baru pertama kali tapi udah tau aja yang enak kaya gimana.” kata gua memuji permainan lidah Vinca. Puas batang gua dijilati oleh Vinca, gua menekan kepala Vinca supaya jilatanya pindah ke kedua biji peler gua. Jilatan Vinca terasa sungguh geli dan juga nikmat. Hanya sebentar saja, kontol dan peler gua sudah basah dengan liur Vinca.

“Sekarang masukin kontol gua ke mulut kamu.” Kata gua sambil mengelus rambut Vinca. “Ta….tapi om. Ukuran kontol om besar banget. Ga akan muat sama mulut Vinca.” kata Vinca sambil memegang kontol gua dengan tanganya. “Muat kok sayang. Udah dicoba dulu.” Kata gua sambil menjejelkan kontol gua ke mulutnya. Vinca dengan takut membuka mulutnya dan dengan susah payah memasukan kepala kontol gua. Setelah beberapa kali gagal, kali ini Vinca membuka mulutnya lebar lebar dan kontol gua akhirnya berhasil masuk ke mulutnya. “AHHHH… enak banget.” Kata gua merasakan hangatnya mulut Vinca yang dipenuhi ludahnya sendiri. Vinca yang merasa tidak nyaman dengan kepala kontol gua yang masuk ke mulutnya lansung menepuk paha gua sebagai isyarat untuk mengeluarkanya. Alih alih mencabut kontol gua keluar dari mulutnya, gua semakin bersemangat untuk menikmat mulutnya. Gua langsung memegang kepala Vinca dengan erat dan dengan satu hentakan keras, kontol gua langsung masuk setengahnya. “UGHHH!!!!” Vinca langsung terbatuk dan ingin muntah karea sodokan gua. Gua bisa ngerasain kepala kontl gua menyentuh ujung bagian mulutnya.

Melihat Vinca yangterbatuk batuk bukanya membuat gua iba tapi semakin menambah birahi gua. Gua dengan cepat menyodok nyodok mulut Vinca sampai ludah Vinca muncrat dari sela sela kontol gua. Walau kontol gua terasa sakit karena menabrak giginya setiap kali gua nyodok mulutnya,tetapi sensasi memperkosa mulut perawan Vinca ngebuat gua ga bisa berhenti menyodok mulutnya. Air mata mulai Vinca mulai menetes dan dia terus menepuk pantat gua supaya gua berhenti menyodok mulutnya. Akhirnya gua mencabut kontol gua dari mulutnya. Air liur Vinca langsung belepotan keluar sehingga wajahnya terlihat semakin binal. “uhukk uhukk…. Hoek!!” Vinca terbatuk batuk seperti ingin muntah.

Melihat Vinca yang lemas dan terbatuk batuk, gua langsung menggendong Vinca. “Kya!” pekik Vinca kaget dengan gerakan gua yang tiba tiba. Tangan Vinca secara refleks langsung dikaitkan ke leher gua supaya ga jatuh. “Sekarang giliran om yang dibikin klimaks.” Kata gua sambil menggendong Vinca menuju kamar tidur gua. Begitu masuk kedalam kamar, gua langsung melempar badan Vinca ke ranjang. Sadar apa yang akan segera gua lakukan, Vinca langsung memelas karena takut. “Ampun om, Vinca bakal jilatin lagi tapi jangan yang ini om.” Kata Vinca gemeteran melihat ukuran kontol gua yang akan menusuk memeknya. “Jangan takut sayang. Nanti juga kamu nikmatin kayak tadi. Awalnya malu akhirnya naikin kaki ke pundak om supaya klimaks. Hahaha.” Kata gua mengingatkan Vinca akan tingkah cabulnya. Wajah Vinca memerah, entah karena marah gua lecehin atau karena malu atas tingkahnya saat terbawa hasrat sex nya.

Gua mendekati Vinca dan mulai menciumi toketnya yang ranum. Jilatan di pentilnya ngebuat Vinca sedikit mendesah. “Ehm…” Desah Vinca yang kemudia langsung ditutp oleh tanganya sendiri seolah mencoba untuk menguasai napsunya. Gua mulai mengenyot toket Vinca dan mengigit gigit kecil pentil Vinca yang ngebuat desahan Vinca maskin terdengar jelas walau masih ditutup dengan tanganya. Mulut gua mulai menuruni badan Vinca. Jilatan gua turun ke perut dan bermain main sebentar di pusarnya dan terus turun hingga akhirnya kembali bersarang di memeknya. Gua mengangkat kedua kaki Vinca kearah yang berlawanan untuk memudahkan lidah gua untuk menerobos masuk ke keklitorisnya. “AHHHH!” kali ini desahan Vinca ga lagi bisa dibungkam oleh tanganya sendiri. Jilatan gua semakin mengorek kedalam dan Vinca terus mendesah keenakan. Tanganya sudah ga lagi mencoba membungkan desahan binalnya. Akhirnya gua berhenti menjilati memek Vinca begitu gua rasa foreplaynya sudah cukup dan ini saatnya untuk mengambil keperawanan Vinca.

“Nikmat kan sayang. Akan lebih nikmat kalau ini yang masuk dibandingin lidah om.” Kata gua sambil menempelkan kepala kontol gua ke bibir memeknya. Walau sudah terbuai oleh hasratnya, Vinca masih bisa sedikit menguasai dirinya untuk mencegah gua memasukan kedalam memeknya. “Om..Stop OM!!” kata Vinca sambil menendang paha gua tepat disaat gua mencoba untuk menyodok kontol gua. “Jangan gerak dong sayang. Om bakal lembut kok masukinya kan kamu masuk perawan.” Kata gua sambil kembali memposisikan kontol gua. “Jangan om… jangan! Vinca ga mau kehilangan perawan.” kata Vinca ketakutan sambil meronta ronta. Vinca mulai menyesali keputusan yang dia ambil sekarang. Tanpa disengaja kaki Vinca menendang kontol gua pelan. “Ahh.. maafin Vinca om.” Kata Vinca panik begitu kakinya menendang kontol gua. “Kayaknya lu ga bisa dibilangin. Sini lu.” Kata gua terbakar emosi. Gua langsung menarik kaki Vinca sehingga kontol gue kemali menempel di memeknya. “Mampus lu!” kata gua terbawa emosi. Dengan satu hentakan keras, kontol gua langsung masuk 3/4 kedalam memeknya. “ARGHHH!!! Sakit !!! keluarin OM!!!!!” teriak Vinca begitu selaput keperawananya gua robek.

Gua mencabut kontol gua dan melihat darah yang menempel di kontol dan juga mengalir keluar dari memek Vinca. “Hahahaha. Akhirnya dapet juga perawan lu.” Kata gua sambil memperlihatkan kontol gua yang terdapat bercak merah ke Vinca. Sambil menahan rasa sakit, Vinca meringkukan badanya sambil menangis. “Om sialan! Bajingan. Hiks…” umpat Vinca sambil menangis kesakitan. “Sudahlah, mending lu nikmatin aja. Walau lu sudah ga perawan tapi lu jadi anak berbakti.” Kata gua menarik kaki Vinca sampai terbuka lagi. Karena kesakitan, kali ini Vinca ga punya tenaga untuk meronta. Dengan cepat gua kembali menusuk memeknya dengan kontol gua yang sudah keras. Dengan cepat dan kasa gua terus menyodok memeknya. Setap kali gua menyodok, gua bisa ngerasin kepala kontol gua menyentuh ujung dar memeknya. “ArRRGHH ARGGGHH ahhhh…ahhhh..” Pekikan Vinca perlahan lahan berubah. Yang awalnya kesakitan lama kelamaan mulai berubah menjadi erangan nikmat.

Bosan dengan posisi man on top, mambalik badan Vinca hingga tengkurap dan kemudian mengangkat sedikit pinggulnya sampai akhirnya Vinca berada di posisi menungging. “Ini posisi yang om suka.” Kata gua sambil mengelus kedua pantat Vinca yang sangat montok. Pemandangan juga semakin indah karena tepat di depan Vinca terdapat kaca yang menempel di pintu lemari pakaian. Gua bisa ngeliat ekspresi muka sayu Vinca ditambah toketnya yang menggantung indah. Vinca ga berkata apa apa mendengar perkataan gua. Entah karena emosinya hancur karena keperawananya diambil dengan kasar atau karea dia sudah menikmati sex dan malu mengakuinya. Dengan cepat ga kembali memasukan kontol gua ke memeknya. “AHHH” leguh Vinca.

Sambil terus menggenjot Vinca, tangan gua terus meremas remas bongkahan pantat Vinca. Terbawa napsu, Vinca mulai memaju mundurkan pinggulnya sendiri seirama dengan sodokan gua. Melihat hal it, gua langsung berhenti menyodokan kontol gua. “Hahaha! Bahkan sekarng sudah bisa ikut goyang.” Goda gua melihat Vinca yang ga bisa menahan diri. Vinca meoleh dengan tatapan super sange. Ga memperdulikan ejekan gua, Vinca terus memaju mundurkan pantatnya. Gerakan Vinca semakin lama semakin cepat dan ga jadi ga kuasa untuk terus menggoda dia. Tangan gua langsung memegang pinggulnya dan kembali menyodokan kontol gua dengan cepat dan kasar. “Ahh…AHHH…AHHH.” desah Vinca menjadi ga karu karuan.

Gua memeluk badan Vinca dari beelakang dengan satu tangan dan tangan satunya lagi meremas remeas toketnya yang menggantung indah. “Lihat kedepan. Lihat muka sange lu. Itu diri lu yang sebenrnya.” Kata gua berbisik di kuping Vinca. Vinca melihat ke kaca depan dan terpaku sesaat. Vinca melihat gambaran dirinya di kaca dengan wajah sangenya yang sangat menimati seks. Disodok dari belakang sambil diremas remas toketnya.

Sodokan gua semakin cepat melihat pantulan kami dari cermin. “AHHH….AHHHH…” desah Vinca keenakan dengan hentakan hentakan kasar yang gua lakuin. “Vin, om sudah mau keluar. Memek lu rapet banget.” Kata gua sambil semakin keras menyodok memeknya. “Aahhhh….” desah Vinca panjang begitu mencapai orgasme sebelum gua. Mendengar desahan Vinca yang sangat binal ngebuat peju gua semakin terpompa ke ujung kontol. Gua langsung mencabut kontol gua dan memuncratka peju gua yang kentel ke pantat Vinca. “AHHHH” desah gua keenakan begitu peju gua membasasi pantat dan sebagian muncrat ke punggung Vinca.

Vinca jatuh terngkurep dirajang karena kelelahan dan gua pun tiduran di sebelahnya. “Nikmat kan sayang.” Kata gua berbisik sambil sedikit mencumbu kupingnya. “……” Vinca hanya diam saja mengatur napasnya. Begitu sudah ga terlalu capek, gua bangkit berdiri dan mengambil HP gua. Dengan semangat gua memvideokan Vinca yang tergeletak tanpa busana dan peju gua yang masih menempel di pantatnya. “Vin.” Panggil gua. Vinca menoleh dan melihat gua yang sedang menvideokan dirinya. Dia langsung mencoba menutupi toket dan memeknya dengan kedua tanganya. “Sekarang bersihin kontol gue dari peju dan darah pake mulut lu.” Kata gua sambil terus ngerekam. “Ta…tapi…” Vinca terlihat jijik dengan permintaan gua. “Abis ini duitnya om kasih.” Janji gua.

Vinca mulai meraih kontol gua dan lidahnya menapu kontol gua hingga bersih. “udah ya om.” Kata Vinca sambil melihat ke arah gua yang terus merekam kebinalanya. “Ujung kontol gua masih ada peju.” Kata gua. Lidah Vinca mulai menjilati lubang kencing gua, kemudian kepala kontol gua dimasukan ke mulutnya. “Plop” bunyi ketika mulut Vinca menghisap kepala kontol gua dan kemudian ditarik keluar.

Puas dengan Vinca, gua menepat janji gua. “Ini uangnya. Lain kali om bakalan kasih uang jajan tambahan.” Kata gua genit sambil meremas toket Vinca. Vinca mengambil amplop dari tangan gua dan buru buru mengenakan pakaianya tanpa membersihkan badanya terlebih dahulu. “Om anter pulang ya.” Kata gua. “Ga usah om.” Kata Vinca ketus. “Sudah malam loh Vin.” Kata gua. “Gapapa om. Vinca naik ojek aja.” Tolak Vinca. “Yakin kamu? Badan kamu baju peju gitu. Nanti ojeknya tau kamu abis ngentot malah kamu diperkosa loh.” Kata gua menakut takuti Vinca. Vinca terdiam sesaat dan akhirnnya setuju untuk gua antar pulang.

Setelah sukses ngebujuk Vinca, akhirnya dia mau gua anter. Toket Vinca semakin terlihat menantang beitu dia mengenakan sabuk pengaman yang tepat membelah toketnya. “Toket kamu keliatan makin seksi aja Vin.” Goda gua. Vinca tampak cuekin perkataan cabul gua. “Kok om dicuekin si.” Kata gua sambil meremas toketnya. “AW! Apaan si om!” pekik Vinca kecil karena kaget dengan remasan gua. “Om ga tahan ngelihat toket kamu.” Kata gua sambil terus ngeremas gundukan kenyal Vinca. Alih alih menepis tangan gua, Vinca tampak menikmati remasan halus gua. Begitu kena lampu merah, gua langsung menggunakan kedua tangan gua untuk meremas remas toketnya. “Om stop! Ada motor disebelah.” Tepis Vinca. “Mereka ga kenal kita kok sayang.” Kata gua sambil meremas kembali toket Vinca. Gua menengok ke arah motor dan melihat muka mupeng si pengendaranya.

Dengan sangat mupeng dia melirik kedalam kaca memperhatikan toket Vinca yang sedang gua remas remas. Lagi asik asiknya ngeremesin toket Vinca, lampu pun berubah menjadi hijau dan gua terpaksa menjalankan kembali mobil gua. “Om gila. Sampai dilihat orang begitu.” Kata Vinca malu malu. “Tapi kamu suka kan? Akui saja lah Vin.” Kata gua. Vinca hanya tertunduk malu tidak mau mengakui sisi binalnya. Tangan gua mulai meraba raba paha Vinca dan tidak ada tepisan dari Vinca kali ini. Semakin lama elusan gua makin naik ke arah memeknya. Vinca yang tau mau gua mulai membuka kedua pahanya lebar lebar. “Tau aja mau om. Atau sebenernya kamu yang mau om cobel cobel? Hahaha.” Tawa gua melihat tingkah Vinca yang sangat berbeda dengan saat di rumah sakit. Dengan cepat gua melepas kancing dan juga resleting celana Vinca. tangan gua juga menyusup kedalam kolornya. “Udah becek lagi aja ni sayang.” Kata gue begitu merasakan memek Vinca yang basah.

Lagi lagi Vinca tidak mengubris perkataan gua. Jari tengah dan telunjuk gua mulai masuk dan mencolok colok memek Vinca. “Ahhhh….ahhhh..” Vinca menutup matanya menikmati permainan jari gua di memeknya. “keenakan sampai merem melek ya Vin.” Goda gua. “AHHHH….”Vinca menjawab gua dengan desahan yang sangat erotis. Desahan Vinca semakin lepas. Dia sudah tidak berusaha untuk menahanya lagi. Jari gua menemukan bagian gspot Vinca. Setiap kali gua memainkan daerah di dekat klitorisnya, Vinca lansung mendesah kencang. Ga terasa sudah 20 menit gua menyetir mobil. Yang artinya sudah 20 menit gua mengrepe grepe badan Vinca. “Sudah sampai ni Vin.” Kata gua sambil membuka kunci mobil gua. Vinca melihat keluar dan baru menyadari kalau kita sudah sampai. “Keenakan sampai ga sadar ya Vin. Hahaha” Goda gua. Alih alih turun, Vinca malah memegang tangan gua. “Om, turun sebentar ya.” Kata Vinca sambil memegang tangan gua dan menunduk. “Dasar lonte.” Kata gua sambil tersenyum picik.

Mengikuti kemauan Vinca, gua memarkitkan mobil gua ke garasinya dan masuk kedalam rumah Vinca. Begitu mengunci pintu, Vinca langsung memeluk gua dan mencium mulut gua. “Emmmm” gua langsung memalas ciuman Vinca. Berbeda dengan pas di rumah gua, kali ini Vinca sangat agresif. Mulutnya melumat habis mulut gua dan lidahnya dengan liar menyeruak masuk ke dalam mulut gua. Setiap inci bagia mulut gua dia jilat jilat dan lidah gua juga ga lepas dari jilatanya. Karena sudah ga tahan juga, gua langsung melucuti pakaian Vinca sampai bugil. Dengan kasar gua langsung mengocok memek Vinca dengan 2 jari. “AHHH….AHHH..”Vinca melepas ciumanya dan mendesah dengan keras. Melihat Vinca yang mulai kelojotan, gua semakin cepat mengocok memeknya.

“AHHH….AHHH..ARGHHHH!” Ga butuh waktu lama sampai Vinca orgasme. Tampaknya rangsangan sejak dari mobil membuatnya cepat mendapatkan orgasmenya. Badan Vinca lunglai dan dia pun terduduk di lantai karena lemas. Kali ini Vinca dengan inisiatif langsung membuka celana gua. “udah ga sabar pengen kontol ya.” Kata gua sambil mengelus kepala Vinca. walau dia masih kelelahan, tapi tanpa membuang waktu, Vinca langsung membuka celana gua dan memasukan kontol gua kedalam mulutnya dengan penuh napsu. Gua juga langsung memegang kepala Vinca dan mulai menyodokan kontol gua kedalam mulutnya dengan kasar. “UGHH…”Vinca mulai terbatuk batuk begitu kontol gua yang menyodok kerongkonganya. “Enak kan.” Kata gua sambil menampar pelan pipinya. Air liur Vinca mulai menetes dan setiap kali dia terbatuk ada ludah yang ikut muncrat dari sela sela bibirnya. Gua mencabut kontol gua dari mulutnya dan menampar pipinya dengan kontol gua yang penuh dengan ludah Vinca. “Kamu mau ini kan?” kata gua sambil menampar dan mengolesi wajah sangenya dengan ludah di kontol gua. “Ma….mau.” kata Vinca.
Hanya dalam sehari Vinca sudah berubah seperti lonte. Mungkin karena selama ini dia hidup sangat baik baik tanpa mengenal seks sedikitpun, maka begitu diberi nikmatnya ngentot dia ga bisa menahan napsunya lagi. Gua langsung menarik tangan Vinca masuk ke kamar ayahnya Vinca. Karena dekat dengan sang ayah, gua sudah beberapa kali main ke rumah ini dan tau persis isi rumahnya. Gua langsung melempar badan Vinca ke ranjang. “taa…tapi om.” Kata Vinca kaget. “Om pengen ngentotin kamu di ranjang tempat papa kesayangan kamu tidur.” Kata gua. Masih terkaget, gue langsung menindih badan Vinca.

Kontol gua yang sudah keras langsung gua arahkan ke dalam memeknya. Jari gua membuka bibir mememknya untuk memudahkan gua melakukan peneterasi. “AHHHHH…”desah Vinca keenakan begitu gua menyodok memeknya. “Om….Enak banget om.” Kata Vinca menikmati setiap kali gua menyodok memeknya. “Vin, Andai papa kamu tau kebinalan kamu. Hahaha.” Kata gua sambil membenamkan muka gua ke antara toketnya Vinca. “AH…jangan bawa papa om…AHhh.” Gerutu Vinca diantara desahanya. Karena sudah kepalang sange dari mobil, gue ga bisa menahan tempo. Dengan cepat gua menghajar memeknya. Toket Vinca terlihat bergoyang goyang indah mengikuti hentakan gua. “Coba om tau kamu selonte ini, sudah om entot kamu dari dulu.”

Kata gua sambil meremas kedua toket kenyal Vinca. “Entot Vinca terus om…ahhh….Vinca udah ga tahan.”racau Vinca ga karuan. Tanpa memperdulikan harga dirinya, Vinca rela dipanggil lonte demi mendapatkan kepuasan birahi. “Emang nikmat memek kamu. Kontol om berasa kejepit banget.” Kata gua keenakan. Gua menarik tangan Vinca dan menjatuhkan badan gua ke ranjang sehingga posisi berubah dari man on top menjadi woman on top. “Goyangin badan kamu Vin.” Kata gua. Dengan perlahan Vinca menggoyangkan pinggulnya. “Ahh…enak banget. Om bakalan ajarin kamu sampai bisa jadi lonte favorit om.” Kata gua sambil meremas toket Vinca yang menggantung di depan muka gua.

“Goyang lebih cepat sayang.” Kata gua sambil membantu menggerakan pinggul Vinca. Gerakan Vinca semakin lama semakin luwes. “Ahhh…” Vinca mendesah sambil mengarahkan tangan gua ke toketnya kembali. “Enak ya diremes remes kaya begini.” Kata gua sambil memilin pentilnya. Vinca hanya mendesah desah sambil terus menggoyangkan pinggulnya dengan lebih cepat. “Ah….Om…ahhh.” Vinca hanya bisa mendesah menikmati kontol gua. Ga puas hanya diulek sama Vinca, gua mulai menaik turunkan badan Vinca dengan bantuan hentakan dari pinggul gua. Mengerti yang gua mau, Vinca mulai mmenggerakan pantatnya keatas kebawah. “Ah.. Enak banget Vin.

Cocok banget kamu jadi lonte. Muka kamu udah binal banget.” Kata gua begitu melihat wajah sange Vinca. Gua melepas remasan toket Vinca dan mulai meremas kedua pantat Vinca yang semok. “AH… kok dilepas..” kata Vinca dengan kecewa. “Om pengen lihat toket kamu goyang goyang.” Kata gua sambil mulai ikut menaik turunkan pinggul gua mengikuti ritme pinggul Vinca untuk memperkuat sodokan. Begitu gua mulai aktif, Vinca juga mempercepat ritme permainan. “Ahhh…ahhh..om…” desah Vinca ga karuan. Toket Vinca juga ikut bergoyang goyang dengan sangat menggoda. Pengen rasanya gua kenyot tu toket. Setelah beberapa saat melihat toket Vinca yang berguncang guncang, akhirnya gua ga kuasa menahan hasrat netek. Gua mulai mengarahkan mulut gua ke arah toket Vinca. Melihat kepala gua yang mulai maju, Vinca langsung menarik kepala gua hingga akhirnya mulut gue mencaplok toket kenyel Vinca.

Alih alih menjilati pentilnya, gua ga tahan untuk ga mengasari toket ranum Vinca. Gue mulai mengigit kecil pentilnya hingga Vinca kesakitan. “Ahh…Om…sakit…ahhhhh..” Vinca mulai meracau kesakitan. Namun diantara jeritanya terdengar suara desahan nikmat. Gua semakin keras mencicit pentil Vinca. “AHHH….stop om…Ahhhh.” desah Vinca sambil menarik kepala gua menjauhi toketnya. Tentu saja gua ga melepas gigitan gua. Dengan gigitan kecil, gua sedikit menarik pentilnya Vinca yang membuat Vinca meracau nikmat dan sakit disaat yang bersamaan. “ARGHHH!” racau Vinca. Ga puas memainkan pentil kanan Vinca.

Gua mulai memindahkan gigitan gua ke pentil kirinya. Ga jauh berbeda, Vinca merespon gigitan gua dengan desahan penuh kenikmatan. Erangan Vinca yang ga berhenti membuat gua ga semakin sange. Gua langsung mendorong badan Vinca hingga dia telentang di ranjang dan mulai menggenjot dia dengan posisi man on top. “Lonte dasar kamu Vin!” kata gua sambil menampar toketnya yang ikut bergoyang setiap kali memeknya menerima sodokan kontol gua. “Ahh….puasin…aku..om” kata Vinca terbata bata.

Lagi asik asiknya menikmati badan ranum Vinca, HP gua bergetar dan menimbulkan suara yang cukup berisik karena memang gua taruh diatas meja kayu. Gua melihat HP gua dan ternyata yang menelepon adalah istri gua. “Hello Na. Kenapa?” kata gua begitu menggangkat telepon dengan loud speaker. Vinca kaget melihat gua mengangkat telepon disaat gua masih terus menggenjot dirinya. Vinca membekap mulutnya sendiri dengan tanganya supaya desahanya tidak keluar. Alih alih menghentikan sodokan, gua menarik tangan Vinca dan terus menghajar memeknya dengan kasar. “plok plok plokk…ahhh…plok…ahhhhh” suara sodokan dan juga desahan Vinca pasti terdengar dengan jelas. “Lagi dimana kamu pi? Sama siapa?” tanya Nana. Vinca kembali menutup mulutya begitu mendengar suara dari HP gua. Lagi lagi gua menarik tanganya dan terus menggenjot memeknya hinga Vinca kembali mendesah desah. “Ini mi, lagi nikmatin anaknya si Roy.” Jawab gua santai.

Ekspresi Vinca mulai panik mendegar jawaban gua. “Ih papi nakal ya. Udah malem begini malah main sama abg. Anaknya Roy yang kamu ceritain tadi?” tanya Nana. “Iya mi. Ga disangka dibalik kepolosanya ternyata anaknya binal banget. Sekarang dientot malah mendesah kaya lonte.” Jawab gua. Gua dengan sengaja menghajar memek Vinca satu kali dengan sangat keras. “AhhHHH.” Pekik Vinca tanpa sadar. “Tuh mi, denger kan desahan Vinca.” kata gua sambil semakin semangat menyetubuhi Vinca. “Dasar papi. Jangan lama lama main sama tu lonte pi. Mami nungguin papi di rumah.” Jawab Nana. Setelahnya Nana pun menutup panggilan telepon.

“Enak kan sayang.” Kata gua. “i…itu siapa?” tanya Vinca panik. “Tenang aja sayang. Itu istri om. Namanya Nana.” Jawab gua santai. Seolah ga percaya dengan jawaban gua, Vinca hanya melongo aja. “Ga percaya ya kamu? Kalau mau kamu bisa ikut lagi ke rumah om.” Kata gua. Gua mulai meremasi toket Vinca sambil mempercepat entotan gua. “Ahhhhh…ahhhh…nikmat.” Vinca mulai meracau dan melupakan telepon barusan. “Om selesain ya. Kasian istri om nunggu di rumah minta jatah.” Kata gua sambil mempercepat ritme. “Ah….ahhhhh…….ahhhh.” desahan Vinca makin ga beraturan dan akhirnya badan Vinca kelojotan. Memeknya menyemburkan air yang banyak ke kontol gua. “Bisa squirt juga kamu. Dasar lonte. Orgasme ga ajak ajak.” Kata gua sambil membasahi tangan gua dengan hasil squirt memek Vinca dan gua usap usap ke mukanya yang kelelehan karena orgasme.

Ga lama setelahnya, gua juga ikutan mau klimaks. Gua langsung menarik kontol gua dan gua kocok tepat di depan wajah Vinca. “Ni peju buat kamu.” Kata gua sambil mengocok kontol gua dengan tangan kanan. Vinca memalingkan wajahnya menghindari peju yang ga lama lagi akan muncrat. Dengan tangan kiri gua yang nganggur, gua menahan wajah Vinca supaya kembali melihat kearah kontol gua. “AHHHH……makan ni peju.” Kata gua memuncratkan peju gua ke muka Vinca. “kya!!” pekik Vinca begitu peju kentel gua membasahi wajahnya. Gua tersenyum puas melihat wajah Vinca penuh dengan peju. Peju gua mulai menetes turun dan menggantung di dagunya. Gua menyerok peju gua dengan jari tengah dan gua paksa masuk kedalam mulut Vinca. “Enak kan!” kata gua. Vinca mengulum jari gua dengan ekspresi jijik. Tapi ga lama setelahnya Vinca menyerok peju di mukanya dan dimasukan kedalam mulutnya sendiri. “Udah ketagihan peju ya. Huahahaha.” Kata gua melihat Vinca.

“AH….om udah puas.” kata gua sambil langsung memakai pakaian gua kembali tanpa beristirahat terlebih dahulu. “Om….” panggil Vinca. “Kenapa Vin?” tanya gua. “I..itu…soal yang tadi.” Tanya Vinca ragu. “Tadi yang mana?” tanya gua. “Soal Nana. Vinca boleh ikut ke rumah om untuk mastiin?” tanya Vinca singkat. “Huahaha. Kamu masih tidak percaya sama om? Silahkan kamu ikut om kalau mau bukti. Atau sebenarnya kamu masih pengen dibuat orgasme. Huahaha.” Kata gua melecehkan Vinca. Gua mengarahkan jempol kaki gua dan gua tusuk kedalam memeknya.”AHHhhh…” Vinca otomatis mendesah begitu kaki gua menyentuh memeknya. “Kalau mau silahkan ikut.” Kata gua keluar dari kamar ayahnya Vinca. “Tung….tunguin Vinca om.” Jawab Vinca meminta untuk ikut ke rumah gua. “Kalau tau begini harusnya tadi ga om anter pulang. Mending kamu nginep di rumah om. Biar om entot kamu semalaman.” Grutu gua.

Vinca mengikuti gua sampai ke rumah. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini gua sama sekali tidak menyentuh tubuh Vinca. Gua harus menyiapkan tenaga gua untuk memuaskan napsu liar istri gua Nana. Vinca juga sama sekali tidak mengajak gua untuk berbicara. Begitu sampai di rumah gua mempersilahkan Vinca kembali masuk ke rumah dimana keperawananya gua rengut. “Akhirnya yang ditunggu sampai.” Kata Nana yang memang menunggu gua di ruang tamu dengan Lingerie yang sangat menggoda.

Dengan mudah gua bisa melihat lekukan badan Nana yang dipenuhi oleh tato. Nana terlihat sungguh menggoda seperti biasanya. Kalau tidak ada Vinca, mungkin sudah gua terkam si Nana. Vinca terlihat canggung karena keberadaan Nana. “Jadi ini anaknya si Roy. Pantas saja kamu sampai rela bantuin 100 juta.” Kata Nana sambil memperhatikan badan Vinca dengan seksama. “Betul kan kataku say. Anaknya Roy memang cocok dijadikan lonte mahal.” Kata gua sambil merangkul pundak Vinca. Vinca hanya tertunduk saja. Mungkin dia menyesali semua keputusanya. “Ayo ikut om. Kamu mau bukti kan?” kata gua sambil mendorong badan Vinca untuk kembali masuk ke kamar gua. Begitu masuk ke kamar gua, Vinca hanya bisa bengong melihat suasana kamar yang sedikit berbeda. Di tembok terpajang foto pernikahan gua dengan Nana dan di atas meja rias juga ada frame frame kecil berisikan foto gua dan Nana. “Ta…tadi ga ada ini semua.” Kata Vinca kaget. “tentu saja. Kan sudah om copot terlebih dahulu.” Kata gua.

Klik! Nana mengunci kamar gua dan memeluk gua dari belakang. Tanganya dengan ga sabaran sudah mengelus kontol gua dari luar celana. “Sudah ga sabar ya.” Goda gua sambil melepaskan celana gua. “Masih lengket ni kontol kamu say.” Kata Nana begitu menyentuh kontol gua tanpa ditutupi apapun. “Salahin ni lonte, daritadi ngajak ngentot.” Kata gua menarik badan Vinca. “Om.. Vinca mau keluar aja.” Kata Vinca melepas tangan gua. “Eits.. Lu disini aja. Lihat dan pelajarin cara seks yang bener.” Kata Nana sambil memainkan kunci di tanganya. Vinca akhirnya duduk di sisi ranjang memperhatikan gua dan Nana bergumul. “Bersihin kontol aku dulu say.” Kata gua ke Nana. Dengan senang hati Nana jongkok dan mulai menjilati seluruh bagian kontol gua.

Diawali dengan jilatan di kepala kontol gua, lidah Nana bermain di lubang kencing gua. Sesekali lidahnya sedikit membuka lubang kencing gua dan mulutnya menyedot tepat di lubangnya. “Ah… kamu emang paling jago untuk masalah ini.” Kata gua mengelus rambut Nana. Begitu dirasa kepala kontol gua sudah bersih, lidah Nana mulai mengitari batang kontol gua ke atas dan ke bawah hingga kontol gua kembali basah dengan ludah Nana. “sluurpppp.” Nana menyeruput ludahnya yang menempel di kontol gua. “Ahhh…” desah gua menikmati mulut Nana di kontol gua. Gua menekan kepala Nana kebawah. Tentu saja Nana mengerti kemauan gua, Nana mulai menjilati kedua biji peler gua secara bergantian. Disaat dia merasa sudah cukup basah, Nana langsung menghisap biji peler gua hingga masuk kedalam mulutnya. Biji peler kiri gua yang pertama kali masuk kedalam mulutnya. Lidahnya terus menjilati peler gua yang ada di dalam mulutnya sampai gua mendesah keenakan. “Ahhh…Na….pelan pelan na.” Desah gua keenakan. Melihat gua keenakan, Nana melepas peler kiri gua dan menghisap masuk peler kanan gua. “Fuck…” racau gua keenakan. ​
Nana melirik keatas dan menatap mata gua yang udah merem melek. “Masa kaya gini aja udah merem melek si say.” Goda Nana. “sepongan kamu juara banget say.” Kata gua. “Vin, perhatiin cara nyepong Nana.” Kata gua sambil melirik ke arah Vinca. Vinca memperhatikan aksi Nana dengan seksama. Tatapan matanya sedikit sayu karena sange. Mungkin Vinca sudah kangen dengan rasa kontol gua lagi. Dengan tiba tiba, Nana mendorong gua hingga terjatuh. Nana memegang kedua kaki gua, diangkat dan dibuka lebar lebar.

Nana membenamkan wajahnya di selangkangan gua. Kontol gua yang besar dilumat habis. Sambil menghisap kontol gua dengan keras, lidahnya ga ada henti hentinya memoles kontol gua di dalam mulutnya. “Ahhhhh!! Fuck Na!” racau gua menikmati deep throat dari istri gua. Setelah hampir 1 menit dideepthroat, akhirnya Nana melepas kontol gua. Ludahnya keluar dan menggantung dengan sangat banyak. Wajah Nana juga memerah karena kekurangan oksigen. Nana menatap gua dengan tatapan nakalnya dan memanfaatkan momen ini untuk kembali mengatur napasnya. Setelah ritme napasnya sudah normal Nana kembali menurunkan kepalanya lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Nana tidak menyepong gua. Lidah Nana mempoles lobang pantat gua. “Ahhh…” desah gua kegelian. Kepala gua menoleh kekiri dan kanan karena merasakan rangsangan yang teramat nikmat. Begitu gua melihat ke arah Vinca, gua melihat Vinca yang bangkit berdiri dan memperhatikan Nana yang dengan nikmatnya melumat lobang pantat gua. Lidah Nana dengan telaten menjilati lobang pantat gua sampai ujung lidahnya sedikit masuk ke pantat gua.

Vinca yang sudah ikutan sange ga bisa mengontrol badanya sendiri. Dengan perlahan Vinca meraih kontol gua dan dimasukan ke dalam mulutnya. “Vin..shit” racau gua. Mendengar racauan gua, Nana menoleh dan melihat Vinca yang sedang menikmati batang gua. “Hey!” bentak Nana sambil mendorong Vinca hingga terjatuh di lantai. “Easy babe!” kata gua menenangkan Nana. “Ini giliran gua. Jatah untuk lu udah abis! Tau diri lu lonte!” kata Nana sedikit marah. Vinca ketakutan melihat Nana yang marah kepadanya.

Gua tau Nana orang yang cukup temperamen dan mudah terbawa amarah. Ga mau melihat Nana melampiaskan amarahnya ke Vinca, gua langsung menarik Nana hingga dia telentang di ranjang. Dengan sedikit berputar dan menindih badan Nana, posisi gua sekarang sudah sangat pas untuk 69. Mulut gua sudah berada tepat menghadap memek Nana dan kontol gua sudah menempel di mulut Nana. Gua menaikan dan sedikit menggeser lingerie Nana dan mulai menjilati bibir memeknya. “Ahhhhh…” desah Nana. Mendengar desahan Nana, gua langsung memasukan lidah gua dan mulai mengorek dengan liar. “Ahhh…ahhhh..shit.” Nana mulai meracau.

Ga mau gua mengusai permainan, Nana langsung menyerang balik. Kontol gua kembali dimasukan kedalam mulutnya. seketika itu juga gua merasakan sepongan yang sangat kuat dari mulut Nana. Sepertinya gua bakalan kalah. “Fuck…ahh…ga tahan gua.” Racau gua dan berhenti menjilati memek Nana. Napsu gua udah di ubun ubun, gua langsung menaik turunkan pinggul gua. Otomatis kontol gua langsung memperkosa mulut Nana. Nana tampaknya juga menikmati sodokan kontol gua di mulutnya. Nana memeluk dan menahan pantat gua supaya kontol gua semakin masuk kedalam mulutnya. Sambil menyodokan kontol ke mulut Nana, gua melihat Vinca yang sudah sangat sange karena dipaksa menyaksikan pergumulan gua dan Nana. Dia sudah melepas pakaianya hingga telanjang dan Tanganya sudah memainkan memeknya sendiri. “Fuck….gua ke…luar say!!!!” racau gua sambil menyemburkan peju gua ke dalam mulut Nana. “Ahhhhhhhh…” desah gua panjang menikmati momen orgasme gua. Setelah seluruh peju gua keluar, gua mencabut kontol gua dari dalam mulut Nana.

Walau kontol gua sudah keluar, mulut Nana sedikit terlihat penuh dan mulutnya tertutup rapat. Nana masih belum menelan peju gua padahal biasanya Nana akan langsung menelan peju gua. Nana bangkit berdiri dan berjalan ke arah Vinca yang masih terduduk di lantai. Nana menarik kepala Vinca dan mendekatkan mulutnya ke mulut Vinca. “Slurrpppppp” Nana mencipok Vinca dan mengoper peju gua kedalam mulut Vinca. Hanya sebentar saja dan Nana sudah melepas ciumanya. Peju gua yang kentel terlihat menempel dan menggantung diantara mulut Vinca dan Nana. Sesaat Nana dan Vinca saling bertatapan kemudian Nana mulai menjulurkan kembali lidahnya. Vinca langsung menyambut lidah Nana dengan lidahnya.

Kedua amoy ini langsung larut dalam ciuman yang panas sambil saling memperebutkan peju gua di dalam mulut mereka. Setelah puas menggoda Vinca, Nana melepas ciumanya. Nana membuka mulutnya yang sudah kembali berisikan peju gua serta ludah mereka berdua.Sepertinya saat ciuman tadi, Nana berhasil merebut peju yang awalnya dia berikan ke Vinca. Vinca sudah semakin sange karena godaan Nana. Mulutnya terlihat terbuka dan lidahnya keluar seolah sangat menginginkan peju gua. “Cuih.” Nana meludahkan cairan ludah beserta peju gua ke muka Vinca. Bukanya marah, Vinca malah menyeka cairan tersebut dan dimasukan kedalam mulutnya.

“Huahahaha.” Tawa gua dan Nana melihat aksi lonte Vinca. “Lihat lonte lu. Ga punya harga diri.” Ledek Nana. “Kayaknya dia bakal ngelakuin apa aja demi kontol.” Tambah gua. “Hey! Urusan kita belum selesai.” Kata Nana sambil melepas lingerienya. Setelah bugil, Nana kembali naik ke ranjang dan mengocok kontol gua supaya kembali keras. “Ampun say. Hari ini udah ngecrot berapa kali.” Kata gua. “Bukan urusan aku kan. Aku belum klimaks.” Kata Nana sambil terus mengocok kontol gua. Lain di mulut lain di kontol. Mendapat kocokan dari tangan halus Nana ngebuat kontol gua kembali keras. Begitu sudah keras, Nana langsung memasukan kontol gua kedalam memeknya. “ahhhh….” racau dia begitu memeknya kemasukan kontol. “Udah siap belum?” tanya Nana. “Si…siap.” kata gua menyiapkan hati karena gua tau betul betapa liarnya ulekan Nana.

Begitu mendapatkan jawaban, Nana langsung menggoyangkan pinggulnya dengan liar. Goyanganya pinggulnya bakalan ngebuat goyangan pedangdut yang disebut si ratu ngebor jadi ga ada apa apanya. “Ahhh….fuck.” Racau gue begitu kontol gua merasa diulek ulek dengan liar. “Ahhh…yess!!!” racau Nana. Seperti biasa, begitu mulai ngentot maka Nana menjadi sangat liar. Tangan kirinya memainkan rambutnya sendiri sedangkan tangan kananya meremas remas biji peler gua. Gua mengontrol napas supaya ga kebobolan duluan. Begitu napas gua teratur, gua mencoba mendorong badan Nana supaya jadi posisi Man on top dan memudahkan gua untuk mengontrol ritme. Tapi Nana malah mendorong badan gua kembali. “ckckck. Aku yang bakalan ngontrol ritme” tolak Nana. Dia bener bener tau isi pikiran gua. Kemudian Nana kembali melanjutkan goyangnya yang liar. Ga Cuma ngulek, kali ini Nana menambah variasi gerakan ke atas dan ke bawah yang ngebuat gua semakin kelojotan.

Lagi lagi Vinca sudah ga kuasa untuk menahan napsunya. Vinca menarik tangan gua dan diarahkan ke memeknya yang sudah sangat becek. Begitu sadar kalau Vinca menarik tangan gua, gua langsung melihat kearah wajah Nana yang terlihat sedikit kesal. Nana melepas kontol gua dari memeknya dan berjalan ke arah lemari di samping ranjang. “Nih! Puasin diri lu sendiri! Dasar Lonte!” Hina Nana sambil melemparkan sebuah benda ke arah Vinca. Vinca mengangkat benda itu dan ternyata itu adalah Vibrator yang dulu gua belikan untuk Nana. Nana menarik tangan gua dari memek Vinca dan diletakan ke toketnya yang dari tadi belum gua mainin.

Begitu merasakan toket kenyel di tangan, secara reflek tangan gua langsung meremas remas toket Nana dan Nana kembali melanjutkan goyanganya. “Ahh…ahhhh!” Desah Nana. Semakin lama kontol gua keluar masuk ke dalam memek Nana dengan ritme yang makin cepat. “Ahhh…Ahhhhh….fuck….aku mau…or…gasme…” racau Nana sambil ikut meremas remas toketnya sendiri. “Ahhhh…ahhhh…” kali ini gua juga mendengar desahan Vinca yang sungguh erotis. Gua melihat kearah Vinca dan menyaksikan bagaimana tangan kirinya meremas toketnya dan tangan kananya menahan Vibrator yang sedang bergetar di dalam memeknya. “Fuck….aku…keluar!!!!” pekik Nana sambil badanya bergetar hebat. Setelah mencapai orgasmenya, badan Nana jatuh kepelukan gua.

Nana mencabut kontol gua dari memeknya dan mulai mengocoknya dengan lembut. “Aku keluarin pakai tangan ya?” kata Nana. “yah say. Masa pakai tangan. Nanggung ni sangenya.” Kata gua kecewa. Melihat Nana yang sudah klimaks dan gua yang masih ngaceng, Vinca melepaskan Vibratornya dan meraih kontol gua. “Aku lebih suka yang asli. Please ijinin aku nikmatin kontol om. Aku bakal lakuin apapun.” Pinta Vinca ke Nana. “Apapun?” tanya Nana. “Iya apapun.” Kata Vinca dengan tatapan kosong. “Termasuk merelakan Roy?” tanya Nana dengan tatapan super jahatnya. Gua melihat tatapan jahat Nana, tampaknya dia punya rencana jahat ke Vinca. Vinca terdiam dan mencoba berpikir jernih. Karena ingin membuat Vinca jadi budak seks gua, gua kembali menghapus nurani gua dan mencoba untuk membuat Vinca tidak bisa berpikir jernih.

Gua mulai mencolok memeknya dengan jari gua. “Ahhhh…” desah Vinca. “Jadi pilih yang mana? Kontol suami gua atau Roy!” bentak Nana. “Ko…kontol om Erwin.” Jawab Vinca dikuasai napsunya. “Deal. Jangan lupa kalau ini pilihan lu. Huahahaha.” Tawa Nana. Vinca menaiki badan gua dan memasukan kontol gua. “Say, cepet puasin tu lonte. Kalau perlu dibuat hamil aja.” Kata Nana menyemangati gua. Mendapat dukungan dari istri sendiri, gua langsung mendorong badan Vinca dan menindihnya. Dengan cepat secara posisi gua udah man on top. Karena memang sudah ga tahan, gua langsung menghajar memek sempit Vinca dengan kasar. “Fuck!! Memek lu sempit banget.” Racau gua sambil meremas remas toket Vinca dengan kasar. “Ahhh…ahhh..terus om…Sodok Vinca.” racau Vinca ga karu karuan. Melihat sang suami menyetubuhi wanita lain, Nana memeluk gua dari belakang. “Baik kan aku ngijinin kamu.” Kata Nana berbisik di kuping gua. Gua langsung menoleh dan mencium mulut Nana. Lidah gua dan Nana berpaut pautan dan berbagi liur. Jari Jari Nana memilin pentil gua. Tangan gua juga ditarik oleh Vinca untuk terus meremas remas toketnya. Mendapat rangsangan dari berbagai tempat membuat gua ga tahan lama. Gua menggenjot memek Vinca secepat yang gua bisa. “Ahhh….ahhh…ahhh…Om….lebih kuat ..la…gi…Vinca mau klimaks.” Racau Vinca.

Gua pun mengikuti kemauan amoy ini dan menyodok memeknya sampai mentok…”AH……Vin…!!!” pekik gua. Gua menekan kontol gua dalam dalam dan menyemburkan peju gua ke dalam memeknya Vinca. “Ahhhhhhh!!!” desah Vinca panjang. Sempuran peju gua tampaknya memberikan sensasi tersendiri untuknya dan membuat dia yang sudah diambang batas jadi ikutan orgame. “Om…… Erwin….” desah Vinca memanggil nama gua dan menggenggam tangan gua erat erat.

Begitu melihat gua dan Vinca sudah sama sama orgasme, Nana langsung menarik badan gua menjauhi Vinca. “Sudah puas kan lu. Inget lu lebih milih suami gua dari pada ayah lu sendiri. Besok lu akan nerima balesanya.” Kata Nana tersenyum penuh dengan kejahatan. Vinca tidak menjawab Nana. Tangan memegang memeknya yang belepotan dengan peju gua yang mulai mengalir keluar dari memeknya. Ga lama, Vinca tertidur karena kelelahan. “Hey, kamu punya rencana apa si?” tanya gua ke Nana. “Kamu pengen Vinca jadi budak seks kita kan?” tanya Nana. “Tentu aja.” Kata gua. “Aku punya rencana. Kamu percaya kan sama aku?” kata Nana mencium bibir gua. “Percaya kok sayang.” Kata gua membalas ciumanya. Tentu saja gua percaya dengan Nana. Nana adalah istri yang sempurna untuk gua yang hyper seks. Karena dia juga hyper seks dan membiarkan gua untuk menyetubuhi wanita lain. Ga Cuma sampai disitu dia juga sering membantu gua untuk bisa mncapainya.